
Gilang kaget saat dia masuk Tara dan Nia sudah ngobrol sambil cekikikan.
"Lama banget lu kagak bangun dek gue sampek kesel nunggu lu bangun" ucap Gilang pura-pura marah.
"Nia kak Gilang jahat sama aku masa aku barus sembuh langsung dimarahin" adu Nia.
"Ya allah kak Gilang Tara kenapa kalian berdua jadi lebay banget gini sih" acuh Nia.
"Udah kabarin ibu,Mama sama papa belum?" tanya Gilang pada Nia.
"udah kak lagi otw kesini katanya"
"Reza?" tanya Gilang lagi.
"Be…."
"Jangan kasih tau kak Reza dulu pils" pinta Tara dia memotong ucapan Nia begitu saja.
Mendengar jawaban dari Tara Gilang menaikan sebelah alisnya untuk meminta penjelasan.
"Malu…" ucapnya tanpa merasa bersalah.
"Ada-ada aja kamu dek, tapi Reza harus tau dia kan yang selama ini memberi kekuatab buat kamu bangun"
"Tapi kasihan kak Reza kan barus aja pulang" Tara masih mencari alasan.
"Lagian sih bukannya bangun dari tadi"
"Udah gak usah ribut!!" kesel Nia karena cetianganya dengan Raka terganggu.
"Bilang aja lu chetingan sama Raka dek!!" sungut Gilang.
"Hehe tau aja kak Gilang"
"Iya dek gue udah lama mau tanyain hal ini sama kamu" ucap Gilang sambil kembali melihat Tara.
"Apa kak?" tanyanya penasaran.
"Waktu kecil dulu kamu pernah hampir mau dibully gak sama tiga anak laki-laki?"
"Ya kak bener dan aku udah dengen semua waktu kak cerita"
"Waht!! jadi bener selama ini kakak gak salah orang?" tanya Gilang memastikan.
"Apa, Apa!!" kepo Nia.
"Ngikut aja lu dek"
"Ssg dong kak!" balasnya tak pernah mau kalah.
__ADS_1
"Harusnya aku yang tanya kak, kak kok tau masalah anak perempuan itu apa hubungannya?" tanya Tara penasaran.
"Dulu tiga anak laki-laki yang mau bully kamu itu kak sama Irfan sama Ari juga" ucapnyan.
Gilang sangat menyesali perbuatannya dahulu sewaktu masih kecil.
"Udah kak lupain aja lagian itu semua udah lama, tapi…." ucap Tara dia ragu mau meneruskan ucapannya.
"Tapi apa Tara ku sayang!" sebel Nia dia sudah penasaran tapi dibikin penasaran lagi sama si Tara.
"Iya dek sama gue juga penasaran tapi ape?" timpal Gilang.
"Tapi Tara sampek sekarang belum bisa melupakan anak laki-laki yang menolong Tara itu, bahkan sepertinya aku ngerasa kalau anak kecil itu selalu ada di dekat Tara" adunya.
Selama ini Tara menyimpan keluhan kesahnya sendiri tentang masa kecilnya..
"Kamu mau tau dek, siapa anak laki-laki yang dulu pernah nolongin kamu?" tanya Gilang memastikan.
Sedangkan Nia hanya menjadi pendengar setia tanpa mau berkomentar lagi karena dia juga penasaran.
"Iya kak Tara pengen banget tau malah, gak papa walaupun Tara cuman ketemu sekali aja sama dia yang penting Tara bisa liat dia lagi" ucapnya penuh harapan.
"Sebenarnya anak laki-laki yang nolongin kamu itu Reza dek" Gilang berucap sambil tersenyum dia tau Tara dan Reza memiliki perasaan yang sama apalagi ditambah masa kecil mereka.
Deg.
Tara merasakan detak jantungnya berhenti seketika saat Gilang menyebut nama Reza, anak kecil yang selama ini Tara cari.
"Terus Reza juga pernah bilang pengen ketemu sama anak perempuan yang pernah dia tolong dulu walaupun cuman sekali, dia juga sering mimpiin anak kecil itu dek yang berarti itu kamu" ucap Gilang lagi.
Deg….
Lagi-lagi Tara merasakan detak jantungnya berhenti sejenak, saat mendengar semua dari Gilang. Apalagi Tara masih mengingat jelas pernyataan cinta Reza pada dirinya tapi apa boleh buat Tara sedari dulu sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak berpacaran.
"Cie… cie... " kompor Nia.
"Apa?" tanya Tara sok gak tau.
"Kagak galak amat bu yang barus sembuh" sindir Nia pura-pura marah.
"Heheh, oke maaf Nia"
"Iya kak tolong rahasia ini jangan kasih tau kak Reza dulu ya" pinta Tara.
"Oke dek kamu yang lebih tau, tapi kakak saran Reza juga harus tau walaupun gak sekarang" pesan Gilang.
"Setuju kali ini sama kakak ganteng ku, wekk" ucap Nia sambil mengankat dua jempolnya dan tak lupa dia juga pura-pura ingin muntah karena telah memuji Gilang.
"Lu muji apa ngejek sih dek" tanya Gilang lebih tepatnya pernyataan.
__ADS_1
Setelah mereka mengobrol banyak sekitar setengah jam ibu Siti tiba di rumah sakit bersama pak Apri dan Mia.
"Assalamualaikum" sapa ketiganya.
"Walaikumsalam"
Ibu Siti segera memeluk putri kesayangannya itu begitu juga dengan Mia sedangkan Apri mengelus pucuk kepala keponakannya itu dengan sayang.
"Ibu Tara kangen" adunya.
"Sama kita semua juga kangen sama kamu, kamu sih lama banget tidurnya" buka ibu Siti yang menjawab melainkan Mia. Ibu Siti dan yang lainnya hanya bisa tersenyum bahagia akhirnya Tara bisa berjuang melawan masa keritisnya.
.
.
Keesokan harinya Tara sudah boleh pulang karena dia sudah dinyatakan sembuh total.
"Gimana masih ingat sama kita semua?" tanya Nia saat sudah berada di rumah Tara.
"Jelas lah emangnya aku amnesia?"
"Siapa tahu" jawab Nia santai sedangkan mereka yang berbeda di ruang tamu hanya bisa tertawa melihat tingkah keduanya.
"Kemarin pas Tara sakit bilangnya kapan sembuh, sekarang udah sembuh malah debat terus" celetuk Gilang.
"Biarin kak emang Nia minta Tara sembuh biar bisa jadi teman berantem lagi" sahut Nia tanpa dosa.
"Ya Allah, yang abis sakit aku atau kamu ya Nia"
"Gue Taraaa!! tapi karena jiwa gue pake badan lu makanya gue sehat" ucap Nia aneh bahkan tidak ada yang mengerti dengan ucapannya.
"Apa?" tanya Mia.
"Hihh, sudah lupakan" ucap Nia lagi.
Mang Bono yang berada diantara kumpulan orang itu segera mendekat kearah Tara. Jujur saja rasa bersalah mang Bono masih ada sampai saat ini.
"Neng Ta-ra" panggil mang Bono ragu.
"Iya mang kenapa?" tanyanya sopan.
"Neng Tara mamang mau minta maaf karena waktu itu mamang gak bisa nolongin neng Tara gak bisa jagain neng Tara" ada rasa sangat menyesal dari suara mang Bono bahkan mereka yang berbeda di ruang tamu itu meraskannya.
"Udah mang ini bukan salah mang Bono kok yang udah terjadi biarlah terjadi, lagian juga waktu aku ketabrak udah lepas dari tangguh jawab mang Bono" ucap Tara meyakinkan.
"Terima kasih banyak neng, apa boleh mang Bono peluk?" pintanya ragu
Degan senang hati Tara langsung memeluk mang Bono.
__ADS_1
"Terima kasih banyak untuk semuanya neng Tara keluarga kalian memang keluarga baik, rukun terus buat keluarga ini" doa mang Bono sambil Tara melepaskan pelukannya..
Tak lupa mereka semua mengaminkan doa yang mang Bono ucapkan.