
Sama-samar Reza membuka matanya, setelah satu minggu tidak sadarkan diri disebabkan oleh kejadian dimana rombongan Alvin mengeroyok Reza dengan brutal, tentu mereka akan bertanggung jawab.
Alvin dan kawan-kawannya selalu menyempatkan waktu untuk hanya sekedar menjenguk Reza. Sedangkan Gilang dan yang lainnya juga sudah tau jika Reza mengalami kecelakaan, ralat bukan kecelakaan tapi keroyokan hanya Alvin dan rombongannya yang tahu rahasia ini.
"Bunda" panggil Reza paruh.
"Sayang kamu udah bangung Nak!" ucap bunda Lia senang.
"Bunda aku mau ketemu Tara" ucapanya.
"Ya Allah kamu barus siuman loh, kamu yakin mau ketemu Tara?" tanya Lia memastikan anaknya itu ada-ada saja..
Reza menatap bundanya dengan penuh permohonan. "Pills, bunda Reza udah banyak banget salah sama dia dulu, sekarang dia udah sembuh belum bund?" tanya Reza antusias.
Lia hanya menggelengkan kepalanya. "Jadi Tara belum siuman bund?"
"Belum"
"Pokoknya Reza mau ketemu sama Tara bund" ucapnya memaksa.
Ternyata Reza tadi bermimpi bertemu dengan anak perempuan yang pernah dia tolong dulu dan anak perempuan itu mengatakan dia ada didekat Reza, entah kenapa sejak mimpi itu saat terbangun Reza hanya mengingat Tara.
"Oke kamu boleh ketemu Tara asalkan kalau kamu udah beneran sembuh total, kalau kamu gak nurut bunda gak akan kasih izin ketemu Tara"
Terpaksa Reza menuruti ucapan bundanya dia tau ini juga pasti demi kesembuhan dirinya.
Di ruang rawat Tara ibu Siti dengan sabar menunggu putrinya dia tidak pernah lelah untuk terus berdoa sudah dua minggu ini Tara belum siuman juga, masa tapi alhamdulillah masa kritisnya berkurang.
"Kamu siapa?" tanya Tara pada anak laki-laki yang berdiri di hadapannya itu.
"Jangan takut oke, aku yang dulu pernah menolong kamu, boleh jujur gak?" ucapanya.
"Ngomong aja" jawab Tara takut.
Dia takut mengalami pembullyan yang terus menerus dia sudah trauma jadi sebisa mungkin dia harus berwaspada pada anak laki-laki di depannya itu.
"Gak tau kenapa aku kangen banget sama kamu jadi tolong bangun oke, banyak orang yang sayang sama kamu" setelah mengatakan hal itu samar-samar anak laki-laki itu menghilang dari pandangan Tara.
Tara ingin pergi dari tempat gelap itu tapi entah kenapa dia tidak bisa menemukan satu celah pun, tidak ada cahaya sedikitpun di tempat gelap itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum" seperti biasa Nia dan Gilang datang untuk menggantikan ibu Siti menjaga Tara, Mia dan kedua anaknya memang membuat jadwal bergantian untuk menemani Tara di rumah sakit.
"Waalaikumsalam"
Ibu Siti tersenyum pada Gilang dan Nia.
"Ibu makan dulu, pasti ibu belum makan"
"Kita makan bareng ya"
"Siap ibu"
Mereka semua sudah menerima kenyataan yang menimpa Tara, tapi kesembuhan untuk Tara pasti mereka selalu nanti-nantikan.
"Ibuu….!!"
Ternyata Tara mendengar suara mereka semua tapi dia tidak tahu harus menemukan mereka dimana, karena yang Tara lihat hanyalah ruang kosong.
"Dek kamu udah jenguk Reza?"
"Belum kak niatinya nanti abis ini sama kak Raka"
"Reza abis kecelakaan juga bu, katanya waktu itu dia mau jenguk Tara tapi gak tau gimana ceritanya dia kecelakaan juga" jelas Gilang.
"Astagfirullah, nak Reza. Sekarang gimana keadaannya Lang?"
"Kurang tau bu, tapi kata Raka perkiraan dokter hari ini dia siuman"
"Kalau gitu ibu juga mau jenguk Reza"
"Nanti aja bu sama Nia sekalian, biar Tara yang jaga kakak Gilang"
"Ibu ngikut kalian aja gimana bagusnya"
Satu jam telah di lewati Gilang dan Nia bersama ibu Siti di ruang rawat Tara, seperti yang dikatakan Nia tadi jika sekarang mereka bertiga pergi menjenguk Reza kebetulan rumah sakit tempat Reza dan Tara di rawat sama.
Gilang yang berada sendirian di dalam kamar rawat Tara mendekati brankar tempat Tara tergeletak disana.
"Dek sebenarnya ada yang mau kakak tanyain tapi kamu mala lagi kayak gini, kakak cuman mau tanya apa kamu dulu waktu kecil pernah hampir dibully oleh tiga anak kecil tapi untungnya ada satu anak laki-laki yang nolongin kamu"
__ADS_1
Gilang menghela nafasnya sebentar barus dia melanjutkan bicaranya.
"Kalau benar itu kamu kakak minta maaf dek, karena anak yang nakal itu kakak Gilang, Irfan sama Ari tapi sebenarnya kak Gilang yang menghasut mereka berdua buat ngebully kamu, tapi beruntung anak laki-laki yang menolong kamu itu datang tepat waktu kalau gak Kakak gak tau gimana nasib kamu, dan kamu tau gak dek siapa anak kecil yang menolong kamu itu ternyata Reza" ucap Gilang sambil terkekeh.
"Dunia memang sempit dek" ucapnya lagi.
Entah kenapa Gilang menceritakan itu semua pada Tara dia hanya ingin Tara cepat sembuh dan kumpul kembali bersama mereka.
"Kakak Gilang" panggil Tara, tapi sayang mereka semua tidak bisa mendengar ucapan Tara.
Tapa Gilang sadari ternyata Tara mendengar semuanya, memang Tara bisa mendengar semua apa yang dikatakan orang-orang di dalam situ tapi dia tidak bisa menemukan jalan keluar.
Pintu kamar rawat Tara kembali terbuka.
"Assalamualaikum" sapa Tiara.
Tiara memang hampir setiap hari menyempatkan waktu untuk menjenguk Tara.
"Waalaikumsalam Ra, kamu kesini sama siapa?" tanya Gilang saat melihat Devan berada di belakang Tiara.
"Sendirian Lang, emang sama siapa?"
"Hmmm" dehem Devan.
"Maaf kak saya baru datang dan kebetulan pas kakak ini masuk saya juga masuk" jelas Devan takut ada salah sangka antar keduanya.
"Gak boleh mikir yang aneh-aneh Lang" tegur Tiara, dia mendekat ke arah Gilang sambil tersenyum.
"Maaf, abisnya kamu gak kasih tau kalau mau kesini" jawab Gilang sambil mengelus pucuk kepala Tiara dengan sayang.
"Astagfirullah, gue kesini mau jenguk orang sakit bukan mau lihat orang lagi mesra-mesraan" sidir Devan.
Sedangkan Tiara dan Gilang tidak peduli dengan Devan.
"Lu, Devan kan? gue titip adek gue bentar ya, jangan macem-macem bentar lagi Nia sama ibu dateng bilang kalau gue anterin Tiara dulu" ucap Gilang tanpa menunggu jawaban dari Devan.
"Buset, ia ini aja dah"
Sepeninggal Gilang dan Tiara hanya ada Devan di ruangan itu.
__ADS_1