
Nia sudah sampai di rumah sakit bersama Tara untuk segera memberikan pertolongan pada ibu Siti.
Para suster yang melihat Tara dan Nia sedang membawa ibu Siti dengan kesusahan segera mereka membantu kedua orang tersebut.
"Adek berdua tunggu disini sebentar ya kami akan mengecek kondisi pasien sebentar" ucap Dokter wanita itu dengan ramah.
"Baik dok" jawab Nia cepat sedangkan Tara masih menangis dia tidak pernah berpikir jika hal seperti ini akan menimpa ibunya.
"Yang sabar Tar kita berdoa aja buat kesembuhan Ibu" Nia sedari tadi terus berusaha menenangkan Tara.
"Bentar Tar" ucap Nia lagi sambil merogoh hanya yang ada di dalam kantong jaket milik Nia.
Saat ini posisi Tara sedang memeluk Nia. Tara sangat takut jika terjadi apa-apa pada ibunya. Hanya ibunya lah yang Tara punya di dunia ini mereka memang tidak memiliki kerabat dekat lagi.
"Assalamualaikum, ma" sapa Nia saat sambung teleponnya sudah terhubung dengan namanya.
"Waalaikumsalam, nak kok kamu jam segini belum pulang? udah malem loh jangan buat mama khawatir" ucap Mia dari seberang sana panjang lebar.
"Iya ma, Nia cuman mau ngasih tau kalau Nia lagi di rumah sakit"
"Ya Allah, siapa yang sakit Nia?" kaget Mia.
"Ibu Siti mah, Ibunya Tara" ucap Nia jujur.
"Kalau gitu Papa sama Mama nyusul ke rumah sakit sekarang" ucap Mia panik dia memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.
"Aihh, mama kebiasaan main mati-matiin aja" gerut Nia.
Pintu ruang rawat Ibu Siti terbuka setelah mereka berdua menunggu sekitar dua puluh lima menit.
"Dok gimana keadaan ibu saya?" tanya Tara cepat saat dia melihat dokter wanita paru baya itu sudah keluar dari ruang periksa ibunya
"Ibu Siti hanya sedikit kecapean aja kok dek" jawab dokter itu sambil tersenyum ramah.
"Ibunya harus istirahat yang cukup dulu untuk beberapa hari ini, kalau bisa pasien dirawat dulu disini untuk empat hari kedepan" ucap dokter itu lagi.
"Baik dok terima kasih banyak" jawab Tara ramah.
"Kalau gitu saya permisi dulu" kemudian dokter perempuan itu beranjak dari depan Tara dan Nia.
"ayok, Tar kita masuk"
Tara dan Nia berlalu masuk ke dalam ruang pasien yang disana terdapat ibu Siti sedang berbagi lemah dibrangka rumah sakit..
"Ibu gak papakan?" tanya Tara sangat khawatir
__ADS_1
"Ibu gak papa nak, mungkin Ibu cuman kecapean aja" jawab ibu Siti dengan suara lemah. sambil mengelus kepala putrinya dengan sayang.
"Nak Nia terimakasih sudah mengantarkan ibu kesini" ucapnya sambil sedikit melihat ke arah Nia.
"Iya Ibu, Nia malah seng bisa nolong ibu"
Nia mendekati Tara dan ibu Siti sambil tersenyum ramah. Saat ibu Siti akan makan dari luar pintu kamar rawat ibu Siti diketuk. Ibu Siti memang sebelumnya sudah dipindahkan di ruang rawat pasien.
"Assalamualaikum" salam kedua orang berbeda jenis itu dari pintu sambil berlalu masuk kedalam.
"Waalaikumsalam" jawab ketiganya kompak walaupun suara ibu Siti tidak terlalu jelas tapi Tara yang ada didekati ibunya masih bisa mendengar suara ibunya.
"Ma, pa" sapa Nia segera berdiri mendekati kedua orang tuanya.
"Iya sayang" Mia mengelus kepala putrinya sebentar. Lalu Mia mendekat ke arah ibu Siti yang sedang terbaring lemah di brangka rumah sakit itu.
"Siti kamu gak papa kan?" tanya Mia prihatin.
"Aku gak papa kok Ibu Mia" sambil berusaha tersenyum walaupun sedikit susah.
"Udah makan dulu Sit" ujar mama Nia.
Tara menyuapi Ibunya dengan sangat telaten, Tara bersyukur walaupun ibunya sakit tetap mau makan.
"Ma, Papa beli minum dulu ya" pamit papa Nia yang sedari tadi duduk di sopa yang sudah tersedia ditemani anaknya Nia.
"Gak usah tan, Tara udah makan kok tadi" tolak Tara halus dia tidak ingin tambah merepotkan Mia lagi, mereka sudah mau datang kesini malam-malam begini saja Tara masih merasa tidak enak hati.
"Iya Ma, Nia juga sudah makan kok" tolak Nia
"Ya udah kalau gitu papa beli minum buat Papa sendiri aja" ucap pak Apri.
"Nia pengen ngemil tapi Pa" ucap Nia penuh harapan matanya sudah berbinar membayangkan beberapa camilan yang enak.
"Gak udah malem Nia gak baik buat ngemil" Mia yang menjawab bukan suaminya.
"Pils Ma, satu aja ya... "pinta Nia memelas sedangkan ibu Siti dan Tara hanya bisa tersenyum melihat Nia.
"Ya Papa beliin satu aja tapi" ucap pak Apri sambil berlalu pergi dari ruang rawat ibu Siti.
"Alhamdulillah abis Ibu nasinya" ucap Tara senang.
Ibu Siti ikut tersenyum saat melihat putrinya tersenyum padanya juga.
"Syukur Ibu kamu mau makan Tar, walaupun lagi sakit" ucap Mia senang.
__ADS_1
"Iya lah Tan, orang sakit itu harus banyak makan biar cepat sembuh, kalau sakit gak mau makan itu namanya gak mau sembuh" jawab Tara sambil nyengir kuda..
"Kamu kalau sakit gak pernah mau makan Tar" saut ibu Siti dia tau betul kalau putrinya itu sudah sakit pasti mogok makan, beruntung Tara orangnya jarang sekali sakit.
"Lah, berarti itu dia lagi ngomong diri sendiri ibu" celetuk Nia dari sopa yang sedang memperhatikan Mamanya, Tara dan ibu Siti.
Mendengar perkataan Nia, ibu Siti juga mama Mia tertawa sambil menatap Tara.
"Bukan gitu maksudnya" ucap Tara malu aibnya sudah kebuka.
"Terus gimana maksudnya Tar?" ledek Nia dia puas bisa membalas Tara saat tadi di jalan pulang Tara terus-terusan membuatnya malu jadi sekarang gantian.
"Ibu sih buka kartu Tara, kan jadi malu" ucapnya sambil memajukan kedua bibirnya sedikit.
"Lagi kamu yang mulai, usah itu bibir jangan di maju-majuin entar jatoh" peringat ibu Siti dia seperti mendapatkan energi baru setelah melihat putrinya tertawa.
Nia dan Mamanya kembali tertawa saat ibu Siti mengatakan bibir Tara akan terjatuh.
"Ternyata kalian kocak juga" ucap Mia masih tertawa.
"Ma, kenapa ketawa sampe kayak gitu?" tanya pak Apri heran dia barus saja kembali setelah membeli minum.
"Ini Pa kata ibu Siti bibir Tara mau jatuh" jelasnya.
"Pa! mana pesena Nia?"
Pak Apri memberikan dua bungkus snack pada Nia lalu Nia memberikan sebungkusnya pada Tara. Nia tau papanya membelika juga untuk Tara sebungkus.
"Ya sudah kalau gitu Tara ibu Siti kami pamit pulang dulu ya" pamit Mia.
"Iya Tan, makasih banget malam-malem udah mau repot-repot datang kesini" Tara tidak enak
"Gak usah sungkan sama tante Tar" seperti biasa Mia akan selalu tersenyum pada Tara.
"Kami duluan ya" pamit pak Apri juga Tara dan ibu Siti hanya mengangguk saja.
"Ayok Nia pulang" ajak Mia.
"Tapi Ma, Nia pengen disini menenun Tara"
"Gak papa Nia kamu pulang aja, lagi pula pasti kamu capek"
"Ta-pi"
"Aku gak papa Nia" potong Tara cepat.
__ADS_1
Nia dan kedua orangtuanya pun pulang ke rumah mereka menggunakan mobil masing-masing karena memang Nia membawa mobil sendiri.