
"Pa, kok mama kayak pernah liat ibu Siti ya sebelum-sebelumnya, tapi dimana?" ucap Mia saat dia dan suaminya sudah berada di dalam mobil mereka.
"Bukannya mama emang udah pernah ketemu Ma?, waktu di sekolah Nia" jawab pak Apri sabil sekali menoleh ke arah istrinya.
"Iya, tapi maksudnya bukan itu, mama ngerasa gak asing aja sama Ibu Siti"
"Terus tadi papa juga kenapa kayak gak senang gitu sama mereka?" tanya Mia sambil memperhatikan suaminya yang sedang fokus mengemudi.
"Bukan gitu Ma, sebenarnya Papa juga ngerasa sama kayak Mama gak asing gitu sama Ibu Siti juga Tara, tapi mereka mereka itu siapa sebenarnya" bingung Apri.
"Papa suruh aja anak buah papa buat cari tau tentang keluarga ibu Siti" usul Mia.
"Iya mama bener juga"
Setelah sampai di rumah mereka Apri segera masuk ke ruang kerjanya untuk menyuruh anak buahnya mencari asal-usul keluarga Tara.
Sementara itu di rumah sakit Tara dengan setia menjaga ibunya beruntung besok hari libur jadi Tara tidak terlalu sibuk untuk mengurus sekolahnya.
"Nak!" ibu Siti menyenggol lengan putrinya agar terbangun, Ibu Siti tidak tega melihat Tara tidur di lantai dengan kepala ditaruh di tempat tidurnya.
"Iya Ibu, ibu butuh sesuatu?" tanya Tara cepat taku ibunya memang membutuhkan sesuatu.
"Buka, kamu jangan tidur di lantai, sini di sebelah ibu" ucap ibu Siti paruh.
"Tapi bu, emang muat?"
"Udah sini aja, Ibu gak mau kalau kamu ikut sakit nak, gara-gara tidur di lantai"
Tara melihat sekitar kamar rawat itu siapa tau ada tempat tidur yang lebih baik daripada di lantai.
"Tara tidur di sofa aja bu, itu sopan nya besar kok" ucapnya sambil tersenyum.
"Yaudah gih, tidur lagi udah malem"
"Oke Ibu tapi ibu juga harus tidur" Tara membenarkan selimut ibunya sebentar lalu dia pergi berlalu menuju sopa.
Saat sudah berada di sopa Tara tidak langsung tidur melainkan dia mengamati ibunya terlebih dahulu sudah tertidur atau belum, saat Tara merasa ibunya sudah tidur dengan segera dia menyusul ke alam mimpi. Tara merebahkan dirinya di sopa itu.
__ADS_1
Pagi hari Tara sudah pergi dari ruang ibunya entah kemana.
"Mbak saya mau bayar biaya rumah sakit ibu saya" ucap Tara ramah pada resepsionis, sekarang jam sudah menunjukkan jam delapan pagi jadi rumah sakit sudah kembali aktif normal.
"Atas nama siapa dek pasiennya?" tanya resepsionis itu dengan ramah.
"Atas nama ibu Siti Mbak"
"Tunggu sebentar ya"
Resepsionis itu memeriksa tagihan atas nama pasien Ibu Siti yang masuk ke rumah sakit tadi malam.
"Ibu Siti yang jam delapan malam ya, masuk rumah sakitnya?" tanya resepsionis itu.
"Iya Mbak betul, berapa kira-kira biayanya?" Tara khawatir uang tabungannya tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit ibunya..
"Sudah lunas dek, semalam dibayarkan atas nama Ibu Mia dan pak Apri" jawab resepsionis itu heran karena Tara belum tau jika biaya rumah ibunya sudah lunas.
"Terimakasih kalau begitu Mbak, saya permisi" setelah mengucapkan hal tersebut Tara segera pergi menuju ruang di mana tempat ibunya dirawat, pasti ibunya akan sangat khawatir jika saat bangun nanti Tara tidak berada di ruang rawatnya apa lagi Tara tidak sempat pamit karena tadi ibunya masih tertidur pulas.
Sampai di depan ruang rawat ibunya Tara segera masuk, saat masuk di sana sudah ada seorang suster yang sedang mengecek kondisi ibunya sekaligus membawakan makanan.
"Gimana kondisi ibu saya Sus?" tanya Tara ramah saat sudah berada di dekat mereka.
"Alhamdulillah jauh lebih baik dari semalam, tapi masih tetap butuh istirahat satu atau dua hari lagi" jawabnya tersenyum..
"Kalau guru saya permisi dulu, jangan lupa ibunya suruh makan ya neng" ucap suster itu lagi sambil berlalu pergi dia masih banyak pasien yang harus diurus.
"Baik Sus terimakasih"
"Ibu ayok makan dulu biar cepat sehat" pinta Tara dengan segera ibu Siti menerima suapan dari putrinya.
"Kamu tadi abis dari mana nak?" tanya ibu Siti di sela-sela makannya.
"Abis dari luar sebentar kok Ibu, maaf Tara gak ijin dulu sama Ibu, habisnya tadi ibu masih tidur pulas" dia menjawab sambil terus menyuapi ibunya makan.
"Iya gak papa" ibu Siti tersenyum pada putrinya dia sangat bersyukur memiliki seorang putri yang sangat menyayangi dirinya.
__ADS_1
*****
Nia sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit akan menjenguk ibu Siti tidak lupa dia juga membawa pakaian ganti untuk Tara, sementara Nia memberikan bajunya pada Tara karena tidak mungkin dia pergi ke rumah Tara untuk mengambil baju Tara, karena rumahnya semalam sudah di kunci.
"Ma, Nia pergi dulu ya" pamit Nia pada mamanya setelah selesai sarapan..
"Iya sayang, titip salam sama ibu Siti sama Tara, bilang mama belum bisa datang lagi soalnya nungguin kakak kamu" ucap Mia sambil mengantar putrinya ke depan.
"Iya Ma pasti, entar kalau kakak udah datang Nia belum pulang salamin juga atau suruh nyusul Nia ke rumah sakit" pintanya.
"Iya pasti, tapi kalau kakak kamu mau" jawabnya sambil tersenyum.
"Kalau gitu Nia pergi dulu, assalamualaikum" Nia mencium punggung tangan mamanya, dulu dia jarang sekali melakukan hal tersebut tapi semenjak bersahabat dekat dengan Tara diam-diam Nia banyak belajar hal tentang Tara.
"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan jangan ngebut" pesan Mia.
"Iya Ma" Nia sedikit mengeraskan suaranya agar mamanya mendengar karena dia sudah berada di dalam mobil.
Setelah berada di dalam mobil dengan segera Nia menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya Nia di rumah sakit segera menuju ruang rawat ibu Siti.
"Assalamualaikum" sapa Nia sambil membuka pintu ruang rawat ibu Siti
"Waalaikumsalam" jawab keduanya kompak sekarang ibu Siti sudah bisa menjawab dengan sedikit bertenaga.
"Tar, ni gue bawa pakaian ganti, pasti lu belum mandikan?" tebak Nia sambil memberikan satu parebeg pada Tara.
"Makasih Nia udah repot-repot" Tara mengambil parbeg itu dengan tidak enak.
"Udah kayak sama siapa aja, sini gih mandi abis ini makan, gue bawa banyak kebetulan mama masak banyak" ucapnya lagi..
"Kalau guru aku mandi dulu ya" pamit Tara juga pada ibunya.
"Neng Nia makasih banyak udah mau nolong ibu sama Tara" ucap Ibu Siti tulus sedangkan Tara sudah masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan itu.
"Iya ibu sama-sama lagian Tara jugakan sahabat Nia, Nia sudah anggap kayak saudara sendiri malah" jawaban Nia sambil tersenyum tulus.
__ADS_1