Cinta Tulus Si Cupu

Cinta Tulus Si Cupu
Menjenguk Tara


__ADS_3

Dian sudah dikeluarkan oleh pihak sekolah banar-benar dengan cara tidak hormat sama sekali, dan semua orang yang berada di SMA Tunas Bangsa tentu mereka semua tau kabar tentang Dian itu. Kabar itu langsung tersebar hanya dalam waktu satu jam, biasa dari mulut ke mulut tentunya.


Sekarang nama Dian bukan hanya jelek di mata para guru saja tapi dimata semua penghuni SMA Tunas Bangsa. 


Hari ini sesuai jadwal yang sudah  dibuat oleh Aji sebagai ketua osis dia membawa beberapa murid dari SMA Tunas Bangsa untuk menjenguk Tara di rumah sakit.


"Ada berapa orang yang sudah berkumpul?" tanya Aji pada beberapa orang yang berkumpul di ruang osis.


"Sudah kumpul semua kayaknya Ji" jawab Devan, karena dia salah satu dari perwakilan dari SMA Tunas Bangsa untuk menjenguk Tara.


"Oke kalau gitu kita berangkat sekarang saja, Gus yang gue suruh udah lu belikan?" tanya Aji memastikan.


Agus ditugaskan untuk membeli buah tangan yang akan dibawa nanti. 


"Beres tengan kan gue dibantu Devan" jawab Agus santai. 


"Iya kalau nggak ada Devan itu sudah habis masuk ke dalam perut lu Gus" 


"Suka-suka gue dong" Agus selalu tidak pernah ingin kalah berdebat dengan teman-temannya itulah Agus.. 


"Terserah lu Gus"


"Udah sekarang ayo kita berangkat aja" aja Aji.


Hanya ada sekitar delapan orang yang ikut menjenguk Tara, karena jika rame-rame dikira mau tawuran.


Nia dan Agus salah satunya dari rombongan orang-orang itu. Agus diajak karena menjadi perwakilan kelas dari kelas Tara.


Sesampainya di rumah sakit Nia langsung mengajak mereka menuju ruang rawat Tara.


"Assalamualaikum" ucap mereka semua kompak. 


"Waalaikumsalam" orang yang berada di kuris dekat brankar Tara menjawab salam tapi dia sama sekali tidak menoleh. 


"Ibu mana kakak?" tanya Nia, dia tau jika orang tersebut Gilang.


"Pulang dek sama Mama"


"Iya kak ada temen sekolah yang mau jenguk Tara"


Mereka semua menghampiri Tara yang masih terbaring lemah. 


"Dek lu lama nggak disini?"


"Kenapa emang Kak?" bukannya menjawab pertanyaan Gilang Nia malah balik bertanya.


"Kakak mau jemput kak Tiara" ucapnya. 


"Gimana ya kak" jawab Nia sambil berpikir karena tidak mungkin dia hari ini harus bolos.

__ADS_1


"Gak papa Nia entar gue yang izinin lu" sahut Aji. 


"Yasudah kalau begitu"


"Kakak tinggal jangan Tara dek" pamitnya Gilang segera pergi dari kamar rawat Tara setelah mengucapkan salam pada mereka semua. 


Tinggallah Nia dan yang lainnya di sana.. 


"Itu abang lu Nia?" tanya Agus penasaran.


"Iya benar kenapa memegangnya Gus?"


"Eng…."


"Abang lu pacarnya Tara ye Nia?" belum sempat Agus menyelesaikan ucapannya tapi Devan sudah lebih dulu mengajukan pertanyaan.


Nia yang mendengar ucapan Devan hanya bisa tertawa cekikan untung masih bisa dia tahan agar tidak meledak-ledak. 


"Nia kenapa lu ketawa?" tanya Mila. 


Semua juga ikut heran kenapa Nia tertawa atas pertanyaan Devan. 


"Gue.. ga-k ku-at" ucap Nia terbata-bata sambil berusaha mengurangi ketawanya.


"Woilah, Nia kenapa pula lu ketawa?" Agus sudah mulai kumat. 


"Abisnya pertanyaan Devan ada-ada aja" jawab Nia santai. 


"Jawab yang benar Nia!!!" Devan, Agus dan Aji menuntut Nia secara bersama.


"Santai-santai lagain apa peduli lu pada sih kalau kakak Gilang pacaran Tara atau bukan" 


Mereka kembali berpikir benar apa yang dikatakan Nia. 


Karena tidak ada jawaban Nia kembali bersuara.  "Lu pada suka kan sama Tara" tuding Nia. 


"kagak lah masa iya gue suka sama Tara, lu tau sendiri kalau gue dewa kepo" jawab Agus enteng.


"Gue juga cuman kepo sih sama kayak Agus"


"Agus udah bawa penyakit menular" sahut Mila.


"Jangan sampai menular ke gue deh amit-amit" timpal Nisa. 


Tanpa mereka tau ternyata ada satu orang yang langsung terdiam seribu bahasa atas ucapan Nia tadi. 


"Hem" semua mata menoleh ke arah Devan yang barus saja berdehem. 


Melihat teman-temanya sedang menatapnya membuat Devan jadi salah tingkah. "Kenapa?" tanyanya.

__ADS_1


"Seharusnya lu yang kenapa?" jawab Agus asal.


"Gak gue mau beli minum dulu" dalihnya sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. 


Devan keluar sendiri dari rumah Tara tanpa ada yang menemaninya. 


"Itu Devan yang dulu pernah duet sama Tara bukan? waktu acara lulusan tahun lalu" tanya Nia yang memang tidak terlalu mengenal Devan. 


"Iya, kenapa lu suka sama dia ya Nia?" mulut si Agus kembali ngelantur. Si Agus selulu menjawab pertanyaan orang-orang tapi jawabannya bikin emosi.


"Nggak lah, lu kali Gus yang suka sama Devan masa cuman beli buah tangan aja minta anter Devan" 


Semua menatap Agus dengan ngeri.


"Santai woi, kali aja gue suka sama Deven gini-gini gue masih normal kali" sanggahnya tidak terima.


"Masih normal toh, gue kira…"


Duk.. 


"Sakit bego kan gue gak ngelanjutin ngomong" protes Aji dia mendapatkan serangan mendadak dari si Agus. 


Tak berselang lama pintu kamar rawat Tara kembali terbuka menampilkan Gilang dan empat orang lain yang bersamanya..


Raka segera menghampiri Nia. 


"Kak" sapa Nia sambil tersenyum pada Raka, 


"Rera sama Irfan gak ikut kak?" tanya Nia pada Raka. 


"Katanya nyusul mereka" ucap Raka sambil tersenyum.


Tanpa rasa malu Raka mengelus pucuk kepala Nia dengan sayang, semua teman Nia hanya melongo tak percaya dengan kelakuan Raka. 


"Hai semua" sapa Sri yang masih mengenal teman lamanya. 


"Hai Sri" jawab mereka bersama. 


"kemana aja lu selama ini nggak keliatan" ucap Mila.


"Gue udah pindah Mi" jawabnya jujur Mila dan yang lain mengangguk mengerti.


Mereka semua memberi jalan untuk Sri dan Tiara mendekat ke brankar Tara. 


"Hai Tar, kita ketemu lagi tapi lu jahat kenapa ketemunya harus lu dalam kondisi seperti ini? dan maaf abang gue telat buat nolongin lu" ucap Tiara dia merasa bersalah juga karena abangnya tidak bisa mencegah Tara dari kecelakaan itu.


"Hai Tar, maaf gue dulu selalu berniat mencelakai lu" ucap Sri kemudian sedangkan yang lain hanya bisa terdiam.


"Dek lu harus bangun, lu liat banyak banget orang yang saya sama lu,Ibu,Mama, Papa, Nia gue dan mereka semau, kita semua sayang sama lu dek, jadi gue mohon lu harus kuta" tambah Gilang.

__ADS_1


Saat suasana di dalam kamar rawat Tara sedang hening Devan kembali masuk ke dalam kamar rawat Tara. 


Saat pintu kamar itu terbuka semua mata menatap ke arah pintu yang diaman disitu ada Devan, semua mata menatap Devan tapi Devan hanya acuh saja seakan tidak peduli.


__ADS_2