
Apri menyadari sesuatu ada yang aneh dalam insiden kecelakaan Tara, dia yakin pasti Tara ditabrak seorang karena jika dia kecelakaan saat di mobil kenapa mang Bono tidak apa-apa.
"Papa keluar sebentar, jaga adik kalian" pesan Apri pada kedua anaknya itu.
"Pasti Pa" jawab keduanya.
Apri ingin mencari tau kebenaran tentang kecelakaan yang hari ini menimpa Tara, dia yakin pasti adahal yang tidak benar.
Apri mengahampiri mang Bono yang berada di luar dengan kang Asep.
"Mang boleh ikut saya sebentar?"
Mang Bono menoleh pada Apri. "Baik pak"
Apri mengalihkan pandangannya pada kang Asep seraya berkata. "Kamu pulang dulu aja Sep" suruh Apri.
"Baik pak"
Tanpa membantah mang Bono mengikuti pak Apri sedangkan kang Asep langsung kembali menuju toko.
Sesampainya di toko kang Asep dihujanin pertanyaan oleh Mbak Fita dan mbak Diah. "Gimana keadaan Tara, Sep?" tanya mbak Diah khawatir.
"Iya benar gimana keadaan neng Tara?" tambah mbak Fita.
"Neng Tara baik-baik aja kan?"
"Kok, bisa neng Tara kecelakaan?"
Keduanya terus beratnya sampai kang Asep bingung mau menjawabnya.
"Mbak Diah sama Mbak Fita kalau nanya satu-satu ya, saya cuman punya satu mulut buat jawab pertanyaan kalian berdua" cegah kang Asep sebelum dia kembali dihujani pertanyaan oleh mereka berdua.
****
Mang Bono sudah berada di ruang kerja Apri saat ini dia sedang merasakan takut sekaligus gugup, walaupun tidak bersalah tapi dia tetep takut karena merasa tidak bisa menjaga Tara, gugup karena ini pertama kalinya Apri berbicara padanya dengan aura yang menyeramkan.
"Duduk mang" suruh Apri tanpa membantah mang Bono segera duduk. " Mang Tara kecelakaan kenapa?" tanya setelah mang Bono duduk dengan baik.
"Anu Pak" mang Bono masih merasa gugup.
__ADS_1
"Ngomong aja mang yang jelas" tegas Apri.
Mang Bono menceritakan semuanya pada Apri perihal yang terjadi hari ini menimpa Tara.
"Astagfirullah" kaget Apri. "Kenapa bisa begitu mang?"
"Saya juga gak tau pak, tapi yang pasti kejadian itu begitu cepat sehingga saya tidak bisa mencernanya, tapi ada orang yang melihat kejadian itu dengan baik pak, orang itu juga sempat meneriaki neng Tara agar menjauh tapi sepertinya neng Tara tidak mendengar teriakan orang itu"
"Bagus kalau begitu kita punya saksi, kamu masih ingatkan mang orangnya seperti apa?" tanya Apri memastikan.
Tentu saja Apri tidak akan tinggal diam melihat anak dari kakaknya terbaring lemas di rumah sakit dia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjaga Tara dan ibu Siti untuk kakaknya Wijaya.
"Insya Allah saya masih ingat pak"
Apri segera menyuruh Rio datang ke rumahnya. "Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Rio sopan saat sudah berada di ruang kerja Apri.
"Benar Rio, tolong selidiki kecelakaan hari ini di depan sekolah SMA Tunas Bangsa tadi pagi"
Rio mengangguk untuk mengiyakan perintah dari Apri, "Maaf pak sebelumnya apa saya boleh bertanya siapa korban kecelakaan tersebut"
Apri menghela nafasnya sejenak. "Tara, dia korbankan tabrakan lari" Apri menjawab dengan sedih. "Dan kamu cari saksi yang melihat kejadian itu, mang Bono akan membantumu, kamu hanya punya waktu sampai sore Rio" ucapnya.
Di rumah sakit semua orang terlihat sangat sedih.
"Mah sebaiknya mama sama ibu pulang dulu biar Gilang sama Nia yang jaga Tara"
"Ibu gak mau lang, ibu mau disini nemenin Tara" tolak ibu Siti mentah-mentah.
"Mbak jangan gitu, Mbak gak boleh sakit kalau mbak sakit nanti Tara gimana? Tara butuh kekuatan dari Mbak" nasehat Mia.
"Bener ibu ada aku sama kakak Gilang yang jaga Tara, jadi sekarang ibu pulang dulu sama Mama besok kembali lagi" tambah Nia.
Bagaimanapun yang paling terpukul diantara mereka tetaplah ibu Siti atas semua ini, tapi Mia dan keluarganya tidak ingin ibu Siti sakit. Ibu Siti harus menjaga kesehatannya juga.
Ibu Siti akhirnya mau pulang dengan Mia atas bujukan ketiga orang itu, sepeninggal ibu Siti dan Mia hanya tersisa Gilang dan Nia di dalam kamar rawat Tara.
"Kak" panggil Nia pada Gilang yang ada disebelahnya. "Nangis aja dek" ucap Gilang yang tau sedari tadi adiknya itu menahan tangis, tanpa aba-aba Nia segera memeluk Gilang dan dia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan kakaknya itu.
"Kakak Tara kenapa bisa kecelakaan? sedangkan mang Bono gak papa" ucap Nia segugan.
__ADS_1
Gilang berpikir sebentar dia juga merasa aneh akan hal ini. " Udah jangan dipikirin dek pasti papa udah cari tau semuanya" hibur Gilang. "Kalau gitu kakak cari makan dulu, kamu harus tetap jaga kesehatan"
Gilang meninggalkan Nia seorang di ruang rawat Tara, dia akan membeli makanan untuk dirinya juga Nia.
"Tara bangun gue kagak bisa hidup tanpa lu bahkan cuman sehari, gue pengen marah-marah sama lu pengen debat sama lu, rebutan kak Gilang yang selalu menghibur kita berdua" ucap Nia paruh sambil mengelus tangan Tara.
Selama ini Nia dan Tara selalu mendapatkan kasih sayang yang sama dari Gilang, Nia tidak pernah marah atau apa jika Gilang membagi kasih sayang pada Tara malah hal itu membuatnya senang.
Sekitar sepuluhan menit Gilang sudah kembali ke dalaman ruang rawat Tara dengan membawa satu kantong berisi makanan dan minuman untuk dirinya dan Nia.
"Dek, makan dulu" ucap Gilang yang baru saja kembali setelah mencari makan untuk dirinya dan Nia
Gilang menyuapi adiknya dengan sangat telaten, jika sedang tidak enak badan atau fikirannya sedang kacau pasti Nia tidak akan makan kecuali disuapi, Gilang paham betul dengan adiknya itu.
"Kak, kapan Tara sembuh?" tanyanya disela-sela makan mereka.
Gilang menghela nafasnya sebentar lalu menatap adiknya dengan perasaan kacau, barus pertama kalinya Gilang melihat Nia seperti ini. "Kita berdoa aja dek, semoga Tara cepat sembuh" hibur Gilang sambil tersenyum pada Nia.
"Iya Kak, gue kangen sama ocehan Tara" rengeknya.
"Bukannya kamu dek yang sering ngoceh? Tara yang jadi sasaran kamu" canda Gilang, dia hanya ingin menghibur adiknya.
"Ya enggak lah Kak" jawabnya sambil nyengir tidak jelas
Apa yang diucapkan oleh Gilang memang fakta yang sebenarnya.
"Kakak udah kenyang" rengek Nia.
Nia menyelesaikan makannya. "Kakak Gilang makan juga kalau nggak Nia marah" ucapnya setelah selesai mengunyah suapan terakhir yang diberikan Gilang.
"Ialah dek kakak makan, emnganya mau mati kelaparan"
"Belum tentu ya kakak kalau kelaparan mati" balasnya tak mau kalah.
"Sak karep mu dek" ucap Gilang lalu fokus makan.
"Sak karep mu itu apaan Kak?"
"Terserah kamu dek!!"
__ADS_1