Cinta Tulus Si Cupu

Cinta Tulus Si Cupu
Rumah Tara


__ADS_3

Mereka semua barus selesai menyantap makanan yang mereka pesan tadi.


"Kenyang juga gue" ucap Ari setelah meneguk habis air mineral yang dia bawa sedari tadi.


"Nia kamu bawa mobil gak?" tanya Tara pada Nia dengan berbisik, Nia hanya mengangguk saja untuk menjawab pertanyaan Tara dia tau pasti Tara ingin pulang dengannya.


"Kak Raka, semua gue sama Tara pulang duluan ya" pamit Nia dia juga sudah membayar makanan dirinya dan yang lain tanpa sepengetahuan mereka semua.


"Kok Tara pulang sama lu Nia? kan yang bawa Tara kesini gue" jawab Irfan sedikit tidak terima


"Maaf Kak Irfan, Tara pulang sama Nia aja ya, Tara takut dicari Ibu apa lagi Tar kalau Ibu liat Tara pulang sama cowok" ucap Tara tidak enak.


"Dengar sendiri kan lu"


Terpaksa Irfan membiarkan Tara pulang bersama Nia, sebenarnya Irfan masih ingin bersama Tara lebih lama lagi, rencananya untuk berdua dengan Tara gagal total gara-gara kedatangan mereka semua.


"Gagal dah gue kencang tanpa disengaja sama Tara, gara-gara mereka" ucap Irfan dalam hatinya.


"Kalau gitu gue sama Tara duluan ya" pamit Nia.


"Aku duluan semaunya" pamit Tara juga.


Setelah kepergian Tara dan Nia Raka pergi ke kasir untuk membayar semua makanan tadi sedangkan yang lain masih menunggu di meja tempat mereka menyantap makanan tadi.


"Mbak saya mau transaksi" ucap Raka saat sudah sampai di depan kasir.


"Baik mas silahkan" jawab Mbak kasir tersebut dengan ramah.


"Meja nomor berapa Mas?" tanya kasir itu sambil bersiap-siap akan menghitung semua total makanan yang sudah dibeli.


"Meja no 50 Mbak" Raka menjawab sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Maaf mas meja no 50 tagihannya sudah lunas" jawab kasir.


"Hah! udah lunas yang benar aja mbak? siapa yang bayar semaunya?" tanya Raka penasaran.


"Atas nama Mbak Nia"


Mendengar nama Nia disebuat dia menjadi paham tapi yang Raka aneh sedari tadi bukanya Nia selalu ada disampingnya jadi kapan Nia membayar itu.


"Mas, Mas" panggil mbak kasir pada Raka.

__ADS_1


"Iya Mbak, kalau guru terimakasih banyak Mbak" Raka berkata sambil berlalu pergi dari tempat tersebut.


"Kenapa muka lu bang? kayak orang bingung, apa uang abang kagak cukup?" tanya Irfan penasaran saat Raka sudah bergabung kembali dengan mereka.


"Sial lu, kali kagak cukup" jawab Raka sambil duduk kembali di kursinya.


"Terus kenapa tu muka?" kali ini Ari yang bertanya.


"Makan kita udah dibayar semua sama Nia, tapi yang gue heran kapan dia bayarnya? dari tadi diakan duduk disebelah gue"


"Oalah, tadi Nia bayarnya pas pelayan naro makanan disini" jawab Sri.


"Jadi tadi dia yang ngasih apa tau tadi sama pelayan restoran itu uang? buat bayar makanan kita?" Ari juga ikut penasaran dia memegang tadi melihat Nia menyerahkan sesuatu pada pelayan tapi dia tidak tau kalau itu uang.


"Iya bener, kan tadi kalian pada fokus sendiri-sendiri" jawab Sri seadanya.


"Udah yok cabut" ajak Irfan..


"Lu duluan aja gue masih mau sama Sri" jawab Ari enteng.


🍂🍂🍂


Saat ini Nia dan Tara masih berada di dalam mobil milik Nia, mereka sedang menuju jalan rumah Tara.


"Tadi itu ceritanya aku abis dari rumah Sri, terus pas pulang Sri mau nganter tapi aku gak mau jadi aku pulang sendiri, terus kebetulan pas dijalan ada anak kecil yang lagi dibully jadi aku bantu, pas mereka sudah pergi tiba-tiba aja Kak Irfan usah ada di belakang aku" ucap Tara jujur dia menceritakan semuanya pada Nia.


"Kok si Sri sudah ceper banget sama lu lagi pas di mal?" Nia bertanya tapi entah pada siapa karena pertanyaan itu sebenarnya bukan untuk Tara..


"Paling pas aku pulang Kak Ari langsung jemput Sri, ee pas di mall kebetulan kita ketemu lagi" Tara menjawab pertanyaan Nia tadi.


"Terus lu bener sama Kak Raka cuman kebetulan ketemu?" selidiki Tara


"Iya lah, kan lu denger sendiri tadi kalau Kak Raka ke mall sama Kak Ari sama Reza"


"Benar juga kamu Nia"


"Tar kayaknya Kak Irfan suka deh sama lu" celetuk Nia sambil menatap Tara sekilas.


"Lu suka gak sama Kak Irfan?" Nia kembali berkata karena dia tidak melihat respons apa-apa dari Tara.


"Gak bisa aja, aku menganggap Kak Irfan sebagai teman doang sama kayak Kak Raka, Kak Ari" jujur Tara.

__ADS_1


"Kalau kamu suka ya Nia sama Kak Raka?" tanya Tara sambil memperhatikan Nia.


"Nggak" jawab Nia dengan cepat tapi dia merasa sedikit gugup.


"Bilang aja iya,  tapi kayaknya Kak Raka suka juga sih sama kamu, aku perhatiin tadi aja pas makan dia ngelirik kamu terus"  Tara bisa berkata seperti itu karena dia melihat sendiri Raka tadi sewaktu makan selalu mencuri-curi pandang pada Nia, Tara yang duduk di depan Raka jelas dapat melihat itu semua..


"Ngomong apa sih lu Tar, ngelantur aja" muka Nia saat ini sudah memerah mendengar ucapan Tara tadi ada perasaan senang yang Nia rasakan.


"Kok muka kamu merah si Nia" goda Tara..


"Apa sih Tar, mana gak kok" ucapnya sambil memberhentikan mobilnya mereka sudah sampai di depan rumah Tara.


"Kamu ya mana bisa liat"


"Udah yok turun kasian Ibu pasti nungguin kamu" ajak Nia cepat kalau tidak Tara akan terus membuatnya malu.


"Bisa aja kamu Nia"


Mereka akhirnya turun dari mobil Nia dan melangkah menuju rumah Tara.


"Assalamualaikum" sapa Nia dan Tara secara bersama. Tapi tidak ada jawaban adapun dari dalam rumah.


"Ibu kemana ya Nia?, hak biasanya Ibu kalau ada orang salam gak dijawab"  ucap Tara entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada ibunya..


"Kali lagi di dapur Tar terus kita salam gak kedengaran" Nia menenangkan Tara yang raut muka Tara sudah berubah khawatir.


"Udah ayok kita lihat pasti ibu ada di dalem" ajak Nia, dia memang memanggil ibu Situ dengan sebutan ibu sama seperti Tara.


"Ibu" panggil Tara yang sudah masuk ke dalam rumahnya diikuti Nia.


"Ibu kemana sih tumben biasanya juga kalau dipanggil langsung ada sahutan" Tara sudah kembali gusar saat dia tidak melihat ibunya di dapur dan ibunya juga tidak menjawab ucapannya.


"Di kamar ibu mungkin Tar" ucap Nia karena memang hanya kamar ibu Siti lah yang belum mereka lihat.


"Semoga aja Nia" ucap Tara sambil membuka pintu kamar ibunya.


"IBUUUU......." teriak Tara saat dia melihat ibunya sudah tergeletak tak berdaya di lantai.


"Ya Allah Ibu" Nia segera menghampiri Tara yang sudah mengankat kepala ibunya sambil menangis sejadi-jadinya.


"Tar ayok kita harus bawa ibu ke rumah sakit" ucap Nia..

__ADS_1


"Ibu kenapa Nia? Ibu gak kenapa-napakan?" Tara bertanya masih dengan derai ari mata.


Dengan segera Nia dan Tara membawa ibu Siti untuk pergi ke rumah sakit.


__ADS_2