Cinta Tulus Si Cupu

Cinta Tulus Si Cupu
Semua bukti


__ADS_3

Sore harinya Rio sudah mendapatkan semua informasi yang diminta oleh Apri, ternyata di depan sekolah itu terdapat cctv, jadi Rio bisa mengumpulkan semua bukti-buktinya dengan mudah.


"Dasar bodoh mencelakai orang tapi tidak lihat-lihat tempat, memegang penjahat yang sangat amatir" ucap Rio saat melihat rekaman cctv itu. "Sepertinya aku mengenal pelakunya" Rio tersenyum simpul saat dia jelas melihat siapa pelaku yang telah mencelakai Tara. 


 Rio tinggal mencari saksi pengendara motor yang sempat meneriaki Tara, karena pengendara motor itu memakai helm jadi Rio tidak bisa menemukan orang itu dengan cepat sedangkan mang Bono kadang ingat kadang lupa maklum efek umur. 


"Mang sekarang kita cari pengendara motor itu agar bisa jadi saksi"


"Baik, tapi kita mau cari kemana Rio?" bingung mang Bono. 


"Udah mang Bono ikut saya saja"


Keduanya melangkah pergi dari ruang pak Galih,  sebelum pak Galih juga sudah mencari informasi yang menimpa Tara karena itu kejadiannya tepat di depan sekolah dan juga masih murid SMA Tunas Bangsa tentu pak Galih juga harus mencari kebenaran.


Dian yang tidak sengaja mendengar percakapan kepsek dengan Rio dan mang Bono segera pergi mencari keberadaan Dio. 


"Mana sih itu anak lama banget" kesal Dian sedari tadi dia menunggu Dio yang sudah di hubungi lewat chat. 


"Darrr!!"


"Copot, eh copot" latah Dian. " lu mau cari mati sama gue?"  sinis Dian saat melihat Dio yang ternyata sudah mengagetkannya. 


"Hahahah! gitu doang masak kaget ilah, Dian" jawab Dio enteng tanpa merasa bersalah. 


Dian menatap Dio tajam. "Sekarang bukan waktunya buat ketawa Dioo! kita berdua dalam bahaya" ucap Dian serius. 


Dio yang tadi tertawa langsung menghentikan tawanya begitu saja saat mendengar penuturan dari Dian. 


"Maksud lo apa?"


"Kita udah ketahuan, tadi pas gue nggak sengaja mau ke kelas terus melewati ruang kepsek ada orang yang nyari kebenaran tentang kecelakaan Tara"


"Terus kita harus Gimana?" 


"Gue juga nggak tau,  tapi yang pasti saat ini kita harus tutup mulut jangan sampai ada yang tau kalau kita yang udah nabrak Tara"


Tidak jauh dari tempat Dio dan Dian berada seorang cowok tersenyum puas setelah mendengar semua kejahatan yang sudah dilakukan Dian dan Dio dari mulut kedua orang itu langsung.


"Untung gue sempet rekam semuanya" ucapnya bangga pada diri sendiri.


Sebelum ketahuan cowok itu segera pergi dari tempat Dian juga Dio berada. 


Rio sudah menemukan rumah seorang pengendara motor itu tentunya dia masih bersama mang Bono. 

__ADS_1


Ting tong…


Suara bell rumah yang dipencet itu terdengar jelas dari dalam rumah sang pemilik.


Tidak perlu menunggu lama pintu rumah mewah itu sudah terbuka. 


"Assalamualaikum" Rio dan mang Bono mengucap salam secara bersama. 


"Maaf kalian cari siapa ya?" bingung Tiara. 


Rio tersenyum ramah pada Tiara. "Kami cari yang punya motor itu dek, apa orangnya ada?" Rio berucap sambil menunjuk motor yang terparkir sempurna di halam rumah itu. 


"Masuk dulu" ucapnya. 


Mang Bono dan Rio mengikuti Tiara masuk ke dalam rumahnya.


"Saya panggil kakak saya dulu" pamit Tiara setelah memberikan minum pada tamunya. 


"Bang ada yang nyariin tu" ucap Tiara.


Tiara langsung menghampiri abangnya yang sedang berada di kamar. 


"Siapa dek? Mama, Papa pulang buka?" tanyanya tanpa beranjak dari kasur. 


Mood Tiara langsung hancur seketika saat abangnya itu mengucapkan mama papanya yang hanya sibuk kerja jarang sekali pulang, Tiara merasa sangat kekurangan kasih sayang. 


"Huh, gak boleh gitu dek mereka punya alasan tersendiri pastinya" nasihat abangnya.  "Kalau gitu abang turun dulu" ucapnya lagi lalu beranjak dari kasur empuk miliknya.


Rumah mewah itu memang seperti tidak ada penghuninya karena hanya ada Tiara dan abangnya sedangkan kedua orang tua mereka sibuk bekerja. Sedangkan para asisten rumah tangga hanya akan data disaat jadual mereka.


Rio mematung di tempat saat melihat orang yang turun dari lantai atas rumah itu, begitu juga dengan orang yang sedang menuruni anak tangga, abang Tiara mempercepat langkahnya menuju ruang tamu. 


"Lu Rio kan?" sapa abang Tiara dengan senyumannya,  tapi Rio bukanya menjawab melainkan langsung memeluk abang Tiara itu. 


"Gue gak salah orangkan lu bener Beni?" tanya Rio memastikan.


"Yoi bro, kemana aja lu selama ini?" sambil keduanya melepaskan pelukan.


"Biasalah sok sibu gue" ucapnya sambil terkekeh.


"Pak" tak lupa Beni menyapa mang Bono juga.


"Lama nggak kelihatan lu, tiba-tiba muncul di rumah gue. Lu ada keperluan apa emang? kok tiba-tiba datang ke rumah gue?" 

__ADS_1


"Ini masalah kecelakaan yang lu liat tadi pagi di depan sekolah SMA Tunas Bangsa"


"Astagfirullah, gue masih merinding kenapa lu ingetin sih" ucap Beni.


"Bukan gitu Ben, gue butuh keterangan lu"


Mang Bono hanya bisa mendengarkan percakapan dua anak muda itu.


"Emang lu kenal siapa korbannya? sampek lupa gue bapak yang bawa korbannya ke rumah sakitkan?" tanya Beni memastikan.


"Bener saya"


"Kok lu kenal sama korbannya sih?" tanya Beni lagi.


"Dia keponakan bos gue, namanya Tara"


Prang......


Ketiga orang itu menoleh kesumber suara di mana sebuah gelas pecah.


"Dek, lu kenapa?" tegur Beni.


Tiara bukannya menjawab pertanyaan abangnya itu melainkan mendekatkan ke arah ketiganya.


"Jangan bilang Tara yang abang Rio bilang Tara sepupunya Gilang?" Tiara berucap dengan menahan rasa gemetarnya.


Rio menatap Tiara sekilah. "Kamu Kenal mereka dek?" tanya Beni penasaran.


Lagi-lagi Tiara tidak menggubris ucapan abangnya itu. "Jawab bang Rio?" tanya Tiara sekali lagi.


"Bener neng, Neng Tara sepupunya den Gilang sama neng Nia" jawab mang Bono karena Rio hanya terdiam.


Tiara menutup mulutnya tidak percaya atas kabar yang barus saja dia dengar. Padahal kemarin malam Tara dan Gilang barus mengantarnya pulang, tapi apa ini sore ini dia mendengar kabar yang tidak menyenangkan tentang Tara.


"Dek lu ke kamar dulu" suruh Beni.


"Gue bawa Adek gue ke kamar dulu" pamitnya


Beni memapah Tiara yang tubuhnya sedang bergetar, entah apa hubungannya Tiara dengan Tara itu Beni tidak tau, tapi melihat adiknya seperti itu tentu saja dia tidak tega melihatnya.


"Istirahat dulu dek, jangan mikir yang aneh-aneh dulu oke" pesan Beni saat sudah berada di dalam kamar Tiara.


Tiara hanya mengangguk saja untuk mengiakan ucapan abangnya itu.

__ADS_1


"Istirahat oke, Abang tinggal dulu ke bawah ingat jangan mikirin apa-apa dulu" tanpa menunggu jawaban dari Tiara Beni kembali ke ruang tamu.


__ADS_2