
Reza mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, hari ini dia akan menjenguk Tara di rumah sakit, ketika mendapatkan kabar jika Tara mengalami tabrakan lari Reza seakan tidak bisa bergerak hatinya hancur seketika, lebih menyakitkan daripada apapun ketika kamu mengetahui orang yang kamu saya sedang tidak baik-baik saja.
'Semua akan baik-baik saja'
Itu suara hp Reza yang bergetar.
"Siapa sih" keselnya.
Terpaksa Reza menepikan motornya untuk mengankat panggil, karena hpnya terus berbunyi tanpa henti.
'Halo' sapa Reza dia bahkan tidak membaca nama yang tertera di layar ponselnya itu.
'Lu dimana lama amat?' kesel orang di seberang telepon.
'Sabar gue bentar lagi nyampek'
'Oke jangan lama, yang lain udah pada sampe'
'Sip'
Orang di seberang sana mematikan telponnya secara sepihak.
"Awas lu Fan" umpat Reza.
Tanpa Reza sadari ada segerombolan pemuda yang sedari tadi sedang mengintainya.
Baru saja Reza akan menyalakan motornya kembali tapi telat karena dirinya sudah dikepung enam orang.
"Hai bro" sapa orang-orang itu sok kenal padahal mah gak kenal.
"Hai, tapi kalian siapa?" balas Reza tanpa rasa takut.
"Gak penting siapa kita, kalau lu mau selamat dari tempat ini maka lu harus celaka" ucap mereka lagi.
"Atuh sama aja babang berarti gue nggak bakal selamat" ralat Reza.
"Serang" perintah seorang laki-laki yang mendengar motor berwarna hitam itu.
Tanpa menunggu lama mereka semua menyerah Reza dengan sangat brutal.
"Lu harus merasakan malu" ucap mereka semua sinis.
Reza menghindari serangan mereka dengan sangat gesit tapi tetap saja dia kalah karena enam lawan satu.
"Cowok tercuek se universitas Jaya sekarang babak belur, seru nih kalau diviralin"
__ADS_1
"Bener banget bro, kita harus bikin dia malu biar kagak seenaknya lagi"
Reza yang sudah kalah hanya bisa pasrah sambil meringis kesakitan.
Duk…
Satu tonjokan lagi mendarat di pipi Reza sampai dia akhirnya pingsan.
"Segitu dong kekuatan lu dasar pengecut"
"Ilah Vin dia pingsan secara kita berenam dia sendiri" sahut temannya.
"Lagian lu kenapa ngajak kita nyerang ini orang yang sama sekali kagak ada hubungannya dengan geng kita?"
"Gue kagak but aja Lex" sanggahnya tanpa merasa telah membuat teman-temannya tidak percaya atas ucapannya barusan.
"Ngelantur lu?"
"Gue bener Bagasi! gue cuman kagak but aje, terus kebetulan liat ni orang yaudah gue ajak aja lu pada buat nyerang dia"
"Terus kok lu tau kalau dia mahasiswa universitas Jaya?"
"Gue pernah lihat dia berapa kali disono juga pas gue gak sengaja denger dari anak-anak sana katanya dia ini orang paling cuek se universitas Jaya"
"Ngeri kali, tapi dia memang hebat sih tadi aja gue hampir nyerah kalau kita nggak keroyokan"
"Bukan pelajaran kali Vin, pengejaran" ralat Bagas.
"Serah lu Bagasi cepat bawa dia sebelum mati ditempat gue nggak mau di penjara ya"
Entah orang tidak waras dari mana mereka sudah menghajar Reza habis-habisan sekarang malam akan dibawa ke rumah sakit untuk diobati.
"Vin jujur sama gue lu kenapa bisa gebukin anak orang yang gak punya salah apa-apa sama kita?" desak Alex saat ini hanya tinggal mereka berdua yang lain sudah membawa Reza ke rumah sakit.
"Oke gue juju, sebenarnya gue kesel sama itu anak dulu pas gue masih SMA nggak sengaja liat dia lagi malui-maluin anak cewek di depan semua orang emang sih itu cewek cupu dan gue juga kagak tau apa akar masalah mereka, tapi gak tau kenapa gue masih kesel aja sama itu cowok, walaupun gue gak kenal siapa cewek yang pernah dia buat malu itu yang pasti waktu itu dia satu bus sama gue saat pulang sekolah" jelas Alvin.
"Ternyata jiwa penolong lu kagak pernah terbuang, tapi jangan bilang lu suka sama itu cewek" tuding Alex, sedang menuntut Alvin untuk jujur.
"Kagak lah masa gue suka sama dia, dari dulu hati gue cuman untuk Mika seorang" ucapnya bangga.
Mike adalah pacar Alvin sudah tiga tahun lebih mereka menjalin hubungan. Ralat Mika itu bukan pacar Alvin tapi kucing kesayangannya. Hahaah
Sampai di rumah sakit rombongan Alvin segera bergegas membawa Reza untuk segera mendapatkan bantuan, tentu saja mereka akan berbohong apa yang terjadi pada Reza.
"Dok cepet kasih pertolongan pertama sama dia" ucap Bagas lebai
__ADS_1
Bagasi memang begitu kalau lagi cari perhatian suka lebay.
"Mana lagi itu dua curut" umpat Bagas.
Mereka bertempat menunggu kemunculan si Alex dan si Alvin tukang hajar tapi batang hidungnya tidak kunjung nongol.
"Permisi boleh gue bertanya?" tanya Raka yang entah dari kapan sudah ada dihadapan empat curut gila itu.
Tadi Raka tidak sengaja melihat siapa orang yang mereka berempat bawa.
"Ada apa?" tanya Bagas sok kenal.
"Tadi yang kalian bawa siapa ya? soalnya mirip adik saya" ucap Raka jujur.
"Kalau gak salah namanya Reza dia korban kero….."
"Dia korban kecelakaan" potong Bagas cepat kalau tidak temannya si cecep itu akan membongkar semuanya matilah mereka kalau ketahuan. Bukan takut pada Raka tapi takut pada Alvin yang akan ngamuk ke gak butannya, jika sudah kumat ke gak butan Alvin semuanya akan dibantai.
"Tapi bener juga muka lu mirip sama dia"
"Astagfirullah, adek gue itu kenapa bisa" kaget Raka.
"Tenaga oke, adek lu jentel lagi pasti dia kagak bakal mati kok" ucap Bagas tanpa beban. Begitulah kalau bagasi yang ngomong.
"Jadi lu doain adek gue mati gitu?"
"Kagalah, santari bro" jawab Bagas sambil nyegir menjijikan menurut Raka.
"Woi, gimana keadaan itu curut?" tanya Alvin tiba-tiba, dia dan Alex baru saja sampai di rumah sakit.
"Lu siapa?" tanyanya lagi pada Raka. Seperti biasa muka gila Alvin selalu dia tunjukkan, rasanya setiap yang melihat ingin sekali menonjoknya.
"Gue abangnya" ketus Raka.
Alvin dan Alex saling tatap satu sama lain lalu mereka beralih menatap ke empat temanya dengan tajam. Yang ditatap hanya pura-pura tidak melihat.
"Hemm" dehem Raka.
"Kalian nemuin Adek gue kecelakaan di mana?" tanya Raka penasaran.
Gelg...
Bagas yang ditatap tajam oleh Alvin hanya bisa menelan ludahnya kasar. "Aun, itu tadi jalan mau arah ke rumah sakit ini" dalih Bagas.
'Abis gue kalau kayak gini, untung tadi si Cecep kagak keceplosan' batin Bagas.
__ADS_1
"Kalau guru terima kasih udah mau bantuin adek gue" ucap Raja tulus.
Sedangkan Fahmi, Eza dan Alex ingin sekali tertawa ngakak.