Cinta Tulus Si Cupu

Cinta Tulus Si Cupu
Cinta tulus si cupu


__ADS_3

Reza yang tau jika Tara sudah sembuh segera pergi bertamu ke rumah Tara begitu juga yang lainnya sedangkan Tiara sudah datang saat hari berkumpulnya keluarga Tara. 


Hari ini yang datang lumayan banyak termasuk Irfan, Devan, Ari, Agus, Sri dan masih banyak beberapa orang lainnya lagi. 


"Assalamualaikum" sapa mereka semua kompak.


"Waalaikumsalam, ayo masuk dulu semuanya" ajak bi Inah. 


Mereka semua mengikuti bi Inah dari belakang.


Sementara itu Nia dan Tara sedang berdebat tidak jelas di kamar Nia. Semenjak Tara sembuh Nia dan Gilang lebih sering menginap di rumah Tara. Nia dan Gilang juga memiliki kamar sendiri di rumah itu. 


"Ayo turun" ajak Nia dia sangat kesal pada Tara. 


"Oke gue turun tapi lu suruh kak Reza ketaman belakang dulu" pintanya. 


"Oke fine, gue turun duluan" 


Baru dua langkah kaki Nia beranjak dari tempat itu Tara sudah memanggil namanya lagi. 


"Nia!"


"Apalagi Tara ku sayang!" ucap Nia penuh penekanan.


"Hehe jangan galak-galak dong, gue cuman mau bilang jangan sampek ada yang denger kalau gue minta kak Reza ketaman belakang sebentar, lu harus bisik-bisik ngomongnya" pesan Tara. 


"Siap tuan putri Tara Amaliya"


Saat Nia sudah sampai ke ruang tamu disana sudah ramai sekali manusia-manusia tidak jelas menurutnya. 


"Tara mana dek?" tanya Gilang karena Nia turun sendirian tidak bersama Tara.


Nia mendekat ke arah Gilang lalu dia membisikan sesuatu.


"Kenapa?"


"Mana aku tau kak udah turutin aja sebentar kok katanya, mungkin dia mau jujur dengan masalah ini" bisik Nia lagi pada Gilang.


"Kalian berdua kenapa bisik-bisik dosa tau disini banyak orang" tegur Ari.


"Bisa ae lu Ar" sahut Irfan. 


"Mana yang habis sembuh kok gak keliatan" celetuk Agus. 

__ADS_1


Dimanapun dan kapanpun tidak akan benar kalau ada Agus si biang kerok. 


"Kan tadi si Gilang udah nanya" sungut Raka sambil menabok kecil lengan Agus. 


"Salah lagi dah gue"


"Emang lu selalu payah Agus, Agus" sahut mereka semau kompak. 


Sementara suasana sedang sedikit gaduh Gilang memberi tau Reza jika Tara  ingin bertemu dengannya terlebih dahulu.


Tanpa pengetahuan semua orang yang berada disana Reza sudah pergi menuju taman belakang rumah Tara.


Tara sudah menunggu Reza di taman belakang,  sampai di taman belakang Reza segera menghampiri Tara yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Hai, Tara" sapa Reza pada Tara.


"Hai kak" jawabnya.


Reza mendekat ke arah Tara. 


"Gimana keadaan lu, udah lebih baikkan?" tanya Reza penuh perhatian.


"Alhamdulillah"


"udah bener-bener sehatkan Tar? ingat walaupun sudah sehat tetap harus jaga tubuh biar tetap fit"


"Siap kak,hehe"


Lama mereka mengobrol sampai pada akhirnya Tara menanyakan sesuatu pada Reza. 


Tara menatap Reza penuh harapan. " Kak aku boleh tanya sesuatu?" tanya Tara. 


"Boleh" Reza merasa ada sesuatu yang disembunyikan Tara.


"Kak" panggil Tara, tapi dia tak kunjung menyelesaikan ucapannya.


Reza menatap Tara dengan tatapan yang sulit diartikan, karena sedari tadi Tara tak kunjung melanjutkan ucapannya. "Oke gue dulu yang ngomong sama lu, kalo lu belum bisa ngelanjutin ucapan lu" 


Suasana hening itu seketika pecah saat Reza kembali berbicara.


"Mungkin sekarang waktunya kurang tetap Tar, tapi gue udah gak bisa menahan ini semua" ucap Reza lagi.


Tara hanya mendengar kata-kata Reza tanpa memotongnya. 

__ADS_1


"Gue suka sama lu Tar" Reza mengatakan perasaannya tanpa beban. 


Melihat reaksi Tara hanya tersenyum Reza tidak tau cintanya diterima atau tidak.


"Gak papa…." belum selesai Reza berbicara Tara sudah memotongnya terlebih dahulu, sepertinya kebiasaan Nia sudah menjalar pada diri Tara. 


"Sebenarnya aku memiliki cinta yang tulus terhadap seseorang, aku tidak pernah melupakan anak laki-laki itu" ucap Tara. 


Mendengar penuturan Tara Reza hanya bisa tersenyum kecut.


"Dimana anak laki-laki itu seperti seorang pangeran penolongku, dulu disaat aku masih banyak dibully bahkan dipermalukan didepan orang banyak aku selalu berharap anak laki-laki itu kembali muncul dihadapan ku dan menolongku lagi, tapi sayang semua tidak sesuai harapan ternyata saat sudah beranjak remaja anak laki-laki itu mempermalukan ku, mungkin karena penampilan ku" ucap Tara lagi.


Reza mulai peka dengan apa yang Tara katakan dia hanya bisa menebak jika anak perempuan yang selama ini dia cari Tara.


"Tapi semakin hari dijalani, anak laki-laki itu seperti kembali lagi pada ku, dia selalu menyelamatkan ku saat aku dalam bahaya, bahkan aku bangun dari kritis ku berkat perjuangan kerasnya padahal dia juga baru sembuh" Tara mengucapkan semua unek-uneknya. 


"Jadi lu dari dulu suka sama gue?" tanya Reza memastikan.


"Bukan tapi anak kecil yang pernah menolongku dulu" elak Tara. 


"Gue juga mau jujur sama lu, semenjak hari itu gue sering mimpiin anak perempuan yang pernah nolong gue, bahkan saat gue kritis mimpi itu kembali muncul dan entah kenapa gue hanya tertuju pada diri lu" jujur Reza. 


"Aku cinta sama anak laki-laki itu tanpa alasan, bahkan sampai sekarang cinta itu tidak pernah terganti, karena ini benar-benar cinta tulus si gadis cupu"


"Ternyata dari dulu gue menyukai orang yang sama, tapi gue bersyukur. Dan maaf dulu gue dateng bukan menolong lu tapi malah membuat lu malu" ucap Reza penuh penyesalan.


"Yang lalu biarlah berlalu kak" Tara tersenyum tulus pada Reza. 


"Jadi gimana lu mau jadi pacar gue?" tanya Reza lagi kali ini lebih yakin.


Tara menggeleng. "Aku udah janji sama diri aku kak, kalau aku gak mau pacaran tapi langsung nikah kalau sudah waktunya, jadi kalau kak Reza benar sayang sama Tara, datang lagi nanti saat sudah lulus dan minta Tara pada ibu" jelasnya sebelum Reza salah paham.


Tapi ada rasa tidak senang yang Reza dengar dari jawaban Tara. 


"Tara tau ini pasti gak akan sesuai dengan apa yang kak Reza  mau, tapi aku memilih cinta yang benar-benar tulus pada seorang pangeran penolongku" Tara masih meyakinkan Reza. 


Tanpa keduanya sadari ada dua orang yang mendengarkan isi hati mereka dari tempat yang berbeda, dan keduanya merasakan patah hati, tapi apa boleh buat. 


"Cinta tak harus memiliki, jika dia bahagia gue juga bahagia" batin Devan dan Irfan dari tempat yang berbeda.


Mereka semua sudah berkumpul di rumah tamu termasuk Tara.


Semuanya bersyukur atas kesembuhan Tara, mereka membantu acara kecil-kecilan dengan gembira.

__ADS_1


__ADS_2