Cinta Yang Memilih

Cinta Yang Memilih
XVI Menceritakan 2


__ADS_3

“Bagaimana perasaan mu pada Dzikra, sebenarnya Zza?” tanya Inayah penuh curiga kalau Azzahra juga menaruh hati pada pemuda itu.


Azzahra hanya diam dan menundukan kepala dan tak berani menatap Inayah dan Nissa.


“Apa kau menaruh hati padanya?” tanya Nissa dengan kesal.


“Tidaklah, Tidak mungkin!” Azzahra menjawab.


“Jawaban yang keluar dari mulut mu itu berbeda dengan hatimu Zza!” Tegas Inayah.


“Kau boleh menyembunyikannya dari siapapun tapi kau tak dapat membohongi dirimu sendiri” pinta Inayah pada Azzahra untuk mendengarkan suara hatinya.


“Dengarkan suara hatimu Zza?” sahut Nissa


“Ya aku tak mengatahuinya, tapi saat aku bersamanya, jalan bareng, ketawa bareng, curhat, ngobrol, aku merasa nyaman dengannya, walaupun dia sering mengganggu ku tapi entah kenapa aku nyaman” Ucap Azzahra


“Walupun kau tau dia seperti apa, dan senekat apa, dan sekeras apa??” Tanya Inayah


“Iya aku tau itu, tapi ntah kenapa saat aku bersamanya aku nyaman bersamanya dan tak berfikir seperti apa dia” sahut Azzahra.


“Dia datang padaku hanya saat dia susah, tapi saat aku susah dan membutuhkannya dia tak ada, aku hanya ingin kita saling balas membalas, dan ada jika salah satu membutuhkannya, itu saja!”Sahut Azzahra dengan lembut dan dalam.


Flashback On

__ADS_1


Dulu saat awal ketemu Dzikra dia terkenal dengan seorang yang mudah marah, sombong dan sangat angkuh. suatu saat Dzikra sangat marah dan melampiaskan


kemarahanya pada miras dan ia sangat frustasi.


Setelah hari berikutnya dia bertemu dengan Azzahra dan ingin berbagi cerita bahwa ibu dan ayah nya bertengkar lagi dan yang membuatnya frustasi dan sangat marah. Karena kali ini orang tuanya merebutkannya, akan diasuh dan dibesarkan oleh ibu atau ayah.


Azzahra hanya menjadi pendengar yang baik dan memberinya solusi dan mengarahkan Dzikra ke jalan yang benar dan tak mengulangi kejadian masa lalu dan bersikap tidak mudah marah.


Beberapa hari kemudian....


Saat Azzahra sakit ia sempat di rawat selama beberapa hari. Tetapi anehnya dari sekian banyak teman dan sahabatnya menjenguk dan menengoknya hanya Dzikra yang tak terlihat. Saat itu Azzahra marah dan kesel pada Dzikra kenapa saat aku butuh dia, dia malah menghilang bahkan dan tak satu pun mengirimkan pesan pada Azzahra.


Dan pada saat itu Inayah dan Nissa yang selalu ada sisinya memahami dan menyadari perubahan sikap Azzahra pada Dzikra. Akan tetapi, mereka hanya diam karna mungkin hanya tebakan mereka. Kalau Azzahra mengharapkan perhatian Dzikra.


“Apakah kau kesepian selama ini Zza?” tanya Nissa penasaran.


“Maksudmu” Tanya balik Azzahra.


“Apa kau merasa ada yang kurang dalam kegiatan sehari-hari yang lakukan?” Tanya Inayah.


“Bisakah kalian bertanya yang tak membuatku pussing?” sahut Azzahra yang kebingungan.


“Kau itu pura-pura, atau memang tak mengerti atau hanya membuat kami naik darah (marah)?” ucap Nissa dengan marah.

__ADS_1


Azzahra hanya memberikan isyarat bahwa ia tak mengerti dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kamu tu ngapin harus marah sih, pada Azzahra, Sabarlah mungkin karna banyak pikiran jadi dia nggak nyambung!” ucap Inayah menenangkan Nissa dengan bicara bisik telinganya.


“Oke... Maksud kami, apakah selama ini dengan hadirnya Dzikra dalam hidupmu bisa mengisi posisi yang selama ini kosong, yang harusnya posisi itu di isi Athariz” tanya Inayah.


“Sebagai contoh: perhatian, ngajak jalan, nongkrong bareng, antar jemput kemanapun itu, maen bareng dan masih banyak lagi!” tanya Nissa penasaran


“Athariz juga perhatian padaku, ya kita lagi ngejar cita-cita kami maka kami mengesampingkan ego kami tapi dengan komitmen saling menjaga hati dan kepercayan itu saja cukup” balas Azzahra.


“Ya enggak mungkin juga, bukannya aku sering ngabisin waktu bareng kalian yah?” jawab Azzahra yang mengelak.


“Itu beda Raida Azzahra” sahut Nissa melotot.




Tunggu kelanjutannya.....



Note : mohon maaf jika dalam bahasa dan penulisan kurang rapi. Selamat membaca jangan lupa Vote, like dan comentnya 😊 terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2