
“Makanya kurangin Cerewet dan bawel kalian jadi para lelaki tak takut untuk mendekati kalian, bagimana kalian mau nikah kalau sikap kekanak-kanakan masih kalian pelihara!” ucap Ayah.
“Ayah...” Ucap Azzahra kesal menjadi bahan tawa.
Azzahra, Nissa, dan Inayah memasang wajah cemberut dan kekesalan mereka. Melihat kekompakan mereka membuat mereka tertawa cekikian. Padahal mereka tak memiliki hubungan darah akan. Akan tetapi mereka membuat hubungan dengan ikatan hati yang akan abadi sampai mati.
“Sudah hentikan, Ayah dan adik ni suka sekali menggoda kakak cantik-cantik ini, mereka memiliki sifat begitu kan juga dari Ayah dan temen Ayah itu?” Ucap Ibu membela para putrinya.
“Oh, Ibuku the best!” Ucap Azzahra. Dan kemudian mereka bertiga menghampiri dan langsung memeluknya.
“Kami menyayangimu Ibu” Ucap mereka bersamaan.
Suasana menjadi penuh kehangatan di ruangan itu karna pelukan para wanita. Dan membuat Ayah terharu akan hubungan mereka. Padahal mereka tak memiliki hubungan darah tetapi bisa melebihi hubungan darah.
“Jadi sama Ayah tak sayang?” Goda Ayah pada mereka.
“Kami juga menyanyangimu ayah” Ucap Azzahra kemudian memeluk ayah nya dan dibalas belaian lembut dan kecupan di kepalanya. Kemudian disusul Inayah dan Nissa yang memeluk Azzahra dari belakang.
“Putri-putriku sayang” Ucap ayah yang membelai lembut kepala kami bergantian.
“Aku dikancangin nih” Ucap Rifai cemburu.
“Kemari lah anakku” Ucap ayah tersenyum.
__ADS_1
Kemudian adzan magrib berkumandang, dan kami pun bergegas mengambil air wudhu hendak melaksanakan shalat berjamah. Kali ini Ayah dan Rifai memilih shalat dirumah karna memang rumah sedang ramai dengan kehadiran sahabat Azzahra.
#Ruang Tamu
“Anakku ada yang ingin Ayah katakan pada kalian?” ucap Ayah setelah duduk di kursi.
“Katakan Ayah?” ucap Azzahra. Sambil memakan kue yang di sajikan ibu, kepada kami.
“Apa kalian sudah siap untuk menikah?” tanya Ayah pada para gadis. Sebenarnya ayah akan bertanya sebelum magrib tetapi ada adik kalian jadi Ayah tunda. Kebetulan saat ini Rifai pergi ke rumah temennya.
“Uhuukk...uhuukk”
“Hati-hati makanya, minum dulu?” Ucap ibu yang khawatir pada kami karena kami tersedak bersamaan. Kemudian kami minum untuk meredakannya.
“Iya, tumben ayah bertanya kayak gitu?” tanya Inayah juga.
“Apa ada sesuatu dibalik itu?” tanya Nissa lagi.
“Ditanya satu belum dijawab, malah balik tanya tiga sekaligus pula?” kata Ayah bingung jawab yang mana dahulu.
“Hehe, ayah mah di aja?” balas Azzahra tersenyum dan juga Nissa dan Inayah.
“Dijawab dulu pertanyaan ayah nanti gantian ayah jawab pertanyaan kalian semua?” Ucap Ayah lagi.
__ADS_1
Namun mereka hanya diam dan tertunduk tak berani menatap ayah, karna mereka bingung bagaimana mengatakannya padanya.
“Kok malah diem?” tanya Ayah lagi.
“Azza, Ina, Nissa kok malah diem kayak gini?” ucap ibu .
Namun kami hanya memberi isyarat pada mereka dengan menggelengkan kepala pertanda bahwa kami belum siap.
“Kompak sekali kalian, pada janjian apa?” ucap Ibu menggoda mereka.
Kamipun masih terdiam kaku, tak bicara sepatah katapun. Tak lama suara Adzan berkumandang. Kami pun bergegas mengambil aur wudhu dan shalat berjamaah.
“Kalian istirahatlah, pasti kalian capek dan lelah?” kata ibu menyuruh kami istirahat dikamar.
Setelah dikamar kami langsung merebahkan badan kami. Kemudian kami teringat perkataan Ayah yang tadi.
“Kenapa Ayah tiba-tiba bilang begitu ya Zza?” Tanya Nissa memecahkan keheningan.
******************************************
Tunggu kelanjutannya...
Note: Mohon maaf jika bahasa dan penulisan kurang rapi. Selamat membaca jangan lupa like, vote sebanyak-banyaknya dan juga kritik dan sarannya. Terimakasih 😊
__ADS_1