Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Awal kisah


__ADS_3

Cinta adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa. Setiap orang pasti akan merasakannya. Namun bagaimana jika cinta itu terhalang? inilah kisah dua orang anak manusia yang pasti sudah banyak yang mengalaminya...


Adalah seorang gadis bernama Cerryl Jeni Subagya. Gemar berpuisi dan syair. Putri ketiga dari empat bersaudara, yang semuanya perempuan. Cerryl sedikit tomboy, mungkin karena setelah kelahiran anak kedua yang ternyata perempuan juga, ayahnya berharap anak ketiganya nanti adalah laki laki. Tapi lahirlah Cerryl perempuan lagi. Hingga ke-empat kalinya, ayahnya menyerah karena lahir perempuan juga. Jadilah Cerryl seorang gadis manja yang sedikit tomboy, sama seperti si bungsu.


Sedari kecil, gadis itu sudah mengikuti pendidikan ilmu bela diri. Hingga duduk di bangku SMA, gadis itu sudah diminta untuk membina juniornya. Maklum saja, Cerryl sudah mengenakan sabuk hitam begitu kelas sebelas. Namun setelah tamat SMA, Cerryl tidak melanjutkannya ke tingkat master.


Gadis itu memang memiliki kemampuan bertarung beladiri yang baik. Bahkan sudah banyak piagam juga penghargaan tingkat daerah yang berjejer di lemari juga dinding ruang keluarga. Sekalipun begitu, gadis itu tidak pernah pamer juga sombong. Justru ia lebih banyak diam dan sibuk dengan syair syairnya.


Reza Pratama, termasuk anak yang selalu ikuti aturan maminya. Ia adalah adik kelas Cerryl. Keduanya akrab karena orang tua mereka adalah rekanan bisnis. Walaupun usia Reza lebih muda, namun ia sudah terlanjur jatuh hati dengan Cerryl.


Ada juga Hadi Nugraha. Teman kerja kakak kedua Cerryl, Cristine Jeni Subagya. Humoris dan mudah bergaul. Berjiwa sosial tapi teramat dingin bila berurusan dengan perasaan. Banyak gadis yang sudah merasakan kecewa saat berusaha untuk menyelami hatinya.


Saat itu, Hadi sedang memacu sepeda motornya melintasi sepinya jalan kota. Tiba di sebuah halte, ia menepi dan segera menghampiri kerumunan orang yang sedang berkelahi.


Ternyata ada lima pemuda yang sedang mengeroyok seorang gadis. Tanpa pikir lagi, Hadi langsung menghajar salah satunya hingga tersungkur.


"Siapa lu?! ikut campur masalah orang !"


Bentak temannya sambil mengarahkan tendangan ke tubuh Hadi. Namun naas, tangan kiri Hadi dengan cepat menangkisnya. Justru orang itu yang merasakan kepalan tinju tangan kanan Hadi di perutnya. Kemudian roboh karena hantaman tangan kiri ke wajahnya.


Gadis itu pun tak kalah garangnya. Setelah tau ada yang membantunya, gadis itu pun mulai bisa mengatasi dan membalas seorang diantaranya. Karena setelah kedua temannya tersungkur, dua dari tiga orang yang tersisa dan sedang menggeroyok gadis itu sudah berbalik dan menyerang Hadi.


Akhirnya kelima orang itu pun lari karena tidak mampu menahan apalagi mengalahkan Hadi juga gadis itu.


"Terima kasih... " ucap gadis itu setelah merapihkan rambut dan mengambil beberapa bukunya yang jatuh berserakan.


"Sama sama" jawab Hadi.

__ADS_1


"Oh, iya. Kamu ngga apa apa?!" lanjutnya.


Sekilas Hadi memperhatikan gadis itu. Ia merasa khawatir gadis itu terluka.


"Ngga, kak. Aku ngga apa apa kok" jawab gadis itu.


"Ini apa?" Hadi menyeka darah di sudut bibir gadis itu, dan memperlihatkannya kepada gadis itu.


Gadis itu terdiam. Ia sempat menahan pergelangan tangan Hadi saat ibu jarinya sudah menempel di sudut bibirnya. Gerakan reflek karena mengira Hadi akan berbuat kurang ajar.


"Maaf, kak" gadis itu pun melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Hadi, saat tahu dan melihat darah di ibu jari itu.


"Aku ngga macam macam kok. Tapi beneran, kamu ngga apa apa?" cemas Hadi.


"Iya, kak. Ngga apa apa. Cuma sakit sedikit, nanti juga hilang setelah dikompres" ucap gadis itu sambil memegangi sudut bibir kanannya yang berdarah.


"Okey... sekarang kamu mau kemana? biar aku antar. Lagian ngga aman gadis malam begini masih di luar"


"Okey, kalau begitu aku temani kamu sampai temanmu datang"


Hadi segera duduk di atas sepeda motornya. Sedangkan gadis itu berdiri di halte sambil melongok ke kanan dan kiri.


Hadi mengeluarkan bungkus rokok juga pemantik apinya. Mengambilnya sebatang dan membakarnya. Asap putih pun keluar dari mulutnya.


Sesekali gadis itu pun memperhatikan Hadi.


"Sepertinya dia orang baik" bisiknya dalam hati.

__ADS_1


"Ya baiklah. Kalau ngga baik ngga mungkin bantu kamu tadi"


Gadis itu pun mulai tertawa geli dalam hati saat pikirannya mulai bicara dengan dirinya sendiri.


"Maksudku, biasanya cowok suka ada maunya kalau sudah bantu cewek. Minta imbalan gitu...tanya nama lah, atau minta nomor hp. Tapi kenapa cowok ini cuma begitu aja? malah asyik duduk sendiri di motornya. Padahal bisa aja dia duduk atau berdiri di sebelahku"


Hadi membuang rokok yang bara apinya sudah mendekati filternya. Ia pun melirik jam tangannya.


"Ayo aku antar kamu pulang!"


Hadi menyerahkan sebuah helm yang diletakkan di jok belakang. Ia memang selalu membawanya selain helm yang sedang dipakai.


"Maaf, ini sudah jam sepuluh. Aku ngga mau berandalan itu datang lagi"


Gadis itu pun menurut saat melihat kanan kiri, orang yang akan menjemputnya belum juga datang.


"Iya, kak" jawabnya terpaksa.


Namun sejujurnya, dalam hati gadis itu merasa


senang. Karena ia berharap pemuda itu akan bertanya juga nama dan meminta nomor ponselnya.


"Rumah kamu di mana?" tanya Hadi.


Gadis itu menyebutkan tempat di mana ia tinggal. Hadi langsung memacu sepeda motornya ke tempat yang disebutkan gadis itu.


Hadi tidak bersikap aneh atau aji mumpung karena situasi. Gadis itu yang agak risih, walaupun senang, karena bisa memeluk Hadi saat hentakan gas itu, nyaris membuatnya terjengkang ke belakang.

__ADS_1


"Pegangan yang kuat jangan malu, biar ngga jatuh. Tapi jangan mikir negatif ya"


Begitu ucap Hadi sebelum menekan tombol stater. Gadis itu hanya bisa diam.


__ADS_2