
Hadi masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Sambil bersandar di dinding,ia mendekapkan kedua tangan di dada. Pikirannya kembali mengulang kejadian di pondok itu.
"Kalau saja aku tidak mengalaminya sendiri,ngga akan mungkin aku percaya. Dari mulai masuk dan tempat khusus itu,ia mengetahuinya secara detail. Bagaimana mungkin seseorang bisa bermimpi seperti itu? anehnya lagi,cuma aku dan Dandi yang tahu tempat khusus itu"
Hadi berusaha keras mencari kebenaran juga kepastian dari kejadian itu. Pikirannya terus saja bertentangan dengan kata hati juga logika.
"Mungkin saja ia tahu tempat itu dari seseorang. Tapi siapa?"
Semakin keras Hadi berusaha mencarinya,semakin berat rasa di kepala. Seperti ada sesuatu yang ingin meledak dalam kepalanya. Akhirnya ia pun menyerah. Berusaha untuk berpikir positif dan percaya bahwa semua itu sudah ada yang mengatur. Sebagai hamba,ia hanya berkewajiban untuk menjalaninya.
Ya, sepertinya hati Hadi sudah mulai terbuka. Kebekuan yang selama ini menciptakan dinding tebal dan tinggi dalam hatinya,perlahan mulai mencair dan memberikan celah sinar terang yang masuk menerangi jiwanya.
Sementara, Cerryl sedang berbunga hati dan membagikan kebahagiaannya bersama Sherly di ruangannya.
"Benarkah itu kencan!? Apa aku ngga salah dengar?" ujar Sherly penasaran.
Cerryl tersenyum sambil mengangguk manja. Perasaannya begitu bahagia sampai tak bisa menjawab dengan kata-kata.
"Ouh,tuan puteri ku,,, hamba ikut bahagia mendengarnya. Akhirnya cinta tuan puteri tidak bertepuk sebelah tangan,,,"
Sherly berlagak seperti seorang dayang. Sambil berdiri di atas kedua lututnya,kedua tangannya mendekap dada seraya mengucapkan kalimat itu. Membuat Cerryl semakin terbang jauh ke alam khayal.
"Oh,iya. Kapan dia nembak kamu? kenapa kamu ngga pernah cerita?"
Tiba-tiba Sherly membuyarkan lamunan Cerryl. Membuatnya sedikit tersentak dan tersadar.
"Nembak,,,!?"
Cerryl kembali memutar semua rekaman yang terjadi kemarin. Bahkan hari-hari sebelum kejadian itu. Khususnya saat dimana ia dan Hadi saling bertemu dan berbincang. Keningnya berkerut,jari telunjuknya menjentik di sudut keningnya.
Sherly begitu penasaran. Tidak sabar menunggu jawaban dari Cerryl yang masih berusaha menemukan moment penting sebagai kunci jawabannya.
"Iya,ya,,," gumam Cerryl.
__ADS_1
"Kenapa!?" ucap Sherly penasaran.
Cerryl pun tertunduk lesu. Karena ia tetap tidak menemukan kunci jawaban itu. Sepanjang ia memutar kembali rekaman memori dalam ingatannya,tidak ada moment yang ia temukan dimana Hadi mengutarakan isi hatinya. Apalagi untuk meminta dirinya menjadi kekasih. Sinar wajah cerianya berangsur pudar, tenggelam dalam kebisuan saat menjatuhkan pandangannya ke lantai.
"Cerr,,,kamu kenapa?" Sherly bingung.
Dengan langkah gontai, Cerryl berjalan mendekati Sherly yang sudah berdiri dan hendak menghampiri Cerryl. Begitu dekat Cerryl pun memeluk erat Sherly. Membuat Sherly semakin bingung dengan sikap sahabatnya itu.
"Aku juga ngga tahu,Sher. Kak Hadi tiba-tiba saja mengatakan kalau kita akan berkencan. Padahal sebelumnya dia ngga pernah bicara apa-apa tentang hubungan kita" keluh Cerryl.
Sherly menepuk-nepuk punggung Cerryl yang masih dalam posisi berpelukan. Seakan mencoba menenangkan hati Cerryl agar bisa menguasai perasaannya kembali. Karena sebenarnya Sherly pun belum tahu tentang bagaimana hubungan antara Hadi dengan Cerryl.
"Cerr,maaf ya. Kalau kata-kata ku tadi jadi merusak mood kamu. Sebenarnya aku cuma merasa penasaran karena tiba-tiba saja kamu bilang kalau kalian habis berkencan. Sedangkan selama ini kamu belum pernah cerita kalau dia sudah mengungkapkan perasaannya atau nembak kamu" jelasnya hati-hati.
"Ngga,sherr,,,aku aja yang terlalu egois. Terlalu senang dengan sesuatu yang belum jelas"
Cerryl melepaskan pelukannya,ia seakan sudah bisa mengendalikan perasaan dan dirinya. Perlahan melangkah menuju bibir jendela. Mengedarkan pandangannya menyusuri deretan motor dan mobil yang mulai terjebak kemacetan di seberang jalan. Menyisir area parkir kedai juga mini marketnya yang tidak pernah sepi. Juga lalu lalang para pejalan kaki yang hilir mudik di antara pepohonan besar di sisi trotoar jalan.
"Cerr,,," Sherly mendekat.
"Yang penting sekarang,bagaimana dengan kelanjutan program yayasan?"
Sherly mencoba mengalihkan dengan sesuatu yang memang sedang menjadi tujuan Cerryl dan kawan-kawannya.
"Hem,,," desah Cerryl.
Keduanya pun segera membuka beberapa berkas. Sherly melirik,terlihat sahabatnya sudah bisa tenang dan sedikit serius saat memperhatikan salah satu halaman dari berkas yang dibacanya.
Hadi yang biasa gesit dan penuh canda di lingkungan kerjanya,hari itu nampak lebih banyak diam dan menyendiri. Membuat Christine penasaran. Di jam istirahat, Christine berniat menemuinya di ruang kantin. Namun nihil,sejauh mata mengedar,ia tidak menemukan sosok Hadi disana.
"Ada apa sebenarnya,,,?" gumamnya.
"Pasti ada sesuatu yang membuatnya aneh begini"
__ADS_1
Ia pun melangkah hendak kembali ke dalam kantor. Namun tiba-tiba terhenti. Matanya menangkap seseorang yang sedang duduk santai sambil memainkan kepulan asap rokoknya. Ternyata Hadi sedang menikmati kesendirian demi tuk terus merasakan indahnya kejadian waktu itu. Walaupun ada rasa penasaran dan masih belum terjawab.
"Aneh,,, sekarang dia malah senyum-senyum sendiri di taman,,,"
Christine begitu bingung dengan sikap Hadi hari itu. Dengan cepat,ia pun menghampiri Hadi.
"Kamu lagi kesambet ya!?" kejutnya.
Hadi tersentak saat pundaknya ditepuk agak keras oleh Christine. Hampir saja tangan kirinya mengayun dan menyenggol gelas plastik wadah kopinya.
Pun sedikit tersedak karena saat itu ia sedang asyiknya menarik kepulan asap rokok yang melayang-layang di depan mulutnya.
"Huk,,,huk,,,huk,,,"
"Ups,,,!" Christine menutup mulutnya.
Gadis itu tidak menyangka akan seperti itu kejadiannya. Awalnya ia hanya ingin mengagetkan dan sedikit memberikan pelajaran karena merasa kesal. Tapi ternyata asap yang sedang Hadi hisap tertahan di dada dan membuatnya terbatuk-batuk.
"Ma,,,maaf,,," lanjutnya.
Sebotol air mineral yang ia bawa pun secara reflek segera disodorkan kepada Hadi dan segera disambut tangan kiri Hadi. Sementara tangan kanannya memegangi dada yang terasa sesak.
Christine sedikit panik. Dilihatnya Hadi masih memegangi dadanya setelah meminum beberapa teguk.
"Hahaha,,,!" tiba-tiba Hadi tertawa.
Ya,ternyata pemuda itu hanya berpura-pura dan sengaja membuat panik Christine. Wajah panik Christine pun berubah merah. Terbakar amarah menyadari dirinya dipermainkan. Kedua tangannya pun mengepal keras,seolah hendak bersiap mengumpulkan seluruh kekuatannya dan boom,,,,
Seketika kedua kepalannya mengendur dan merentang. Jatuh bergelayut bersama wajah cemberutnya yang hanya bisa mengumpat dan memaki dalam hati. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan sesuatu bahkan melukai seseorang yang sudah lama ia sukai.
"Ada apa? sepertinya kamu marah,tapi juga cemberut.,," Hadi menatapnya.
Jari mungil Christine tanpa sadar sudah mencubit kesal pinggang Hadi sesaat setelah pemuda itu berdiri berhadapan. Hadi hanya meringis dan tersenyum. Membuat Christine makin kesal dan menambah tenaga pada jarinya. Berharap cubitannya kali ini bisa membuat Hadi kesakitan.
__ADS_1
"Kamu pasti belum makan,,," ledek Hadi.
Christine melotot mendengar sindiran itu. Kalau saja saat itu bukan Hadi yang sedang dicubitnya,sudah pasti ia akan mengerahkan semua kesalnya tuk mencubit ganas. Namun jarinya terasa lemah saat menyentuh orang yang menjadi idamannya. Bukan karena lemah belum makan,,,