Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Di luar dugaan


__ADS_3

Seminggu sudah waktu telah berlalu. Di ruanga kerja juga santainya, Cerryl ditemani Sherly sedang menyusun ulang program latihan. Setelah mengevaluasi kegiatan pembukaan,Cerryl merasa harus lebih hati-hati dalam program jangka panjangnya. Karena ia tidak mau apa yang menjadi tujuan awalnya lepas kendali.


"Cerr,,,kamu yakin semua ini ngga akan mengganggu usaha kamu sendiri?"


Sherly bertanya sambil menoleh ke arah Cerryl. Yang ditanya masih asyik dengan beberapa materi juga program dari yayasan.


"Cerr,,,aku tahu niat baik kamu. Tapi ,,,"


"Tenang aja,,,aku sudah atur semuanya kok. Ada Wati juga Ida yang mengurusi minimarket juga kedai. Jadi aku bisa sedikit membantu dalam program ini"


Jelas Cerryl mencegat kalimat Sherly. Sherly hanya bisa mengangguk perlahan karena ia tahu betul watak sahabatnya itu.


"Lagian kan ada kak Hadi yang akan membantu teknis lapangan." lanjut Cerryl.


Kedua sudut bibir Sherly melebar,menimbulkan manis lesung pipit disana. Mendengar Cerryl menyebut nama itu sambil tersenyum dengan mendekap lembaran kertas yang sedari tadi diperhatikan.


"Hem,,,begitu,,," bisik Sherly halus menyindir.


"Apa sih,,,?"


Cerryl baru sadar akan tingkahnya itu. Buru-buru ia pun kembali meletakkan lembaran kertas di atas meja dan segera menuliskan sesuatu.


Sherly makin usil melihat ulah sahabatnya itu. Perlahan ia bangkit dan mendekati Cerryl. Dengan cepat pipi Cerryl yang masih meninggalkan rona semu merah itu dijawilnya lembut menggoda.


"Ihhh,,," gemas Sherly.


Lagi-lagi keduanya sudah saling membalas cubitan dan gelitik kecil. Hingga akhirnya saling bergumul sambil mengacak-acak rambut mereka. Begitulah Sherly dan Cerryl.


Menjelang malam,Wati menghampiri Cerryl di ruangannya.


"Maaf,mba. Ada yang mencari mbak di ruang romantis,,,"


Sambil berkata,Wati setengah menundukkan kepalanya. Walaupun Cerryl telah mengatakan untuk bersikap biasa,tetap saja Wati masih sedikit risih. Bagaimana pun, Cerryl adalah bos-nya. Sekalipun ia diperintahkan untuk memanggilnya 'mbak' di saat berada di ruangannya atau setelah lepas jam kerja,Wati tidak begitu saja mengiyakannya. Karena terkadang ia masih suka memanggil Cerryl dengan Bu atau bos.


"Siapa?" sahut Sherly.


"Okey,terima kasih,Wati. Sebentar saya akan datang" ujar Cerryl.


"Kalau begitu saya permisi Bu,,,eh,mbak,,,"


jawab Wati. "Sekalian saya beritahu orang itu untuk menunggu,mbak,,,"

__ADS_1


Cerryl melemparkan senyumnya kepada orang kepercayaannya itu. Sebagai jawaban dan perintah lembut.


"Siapa menurutmu,Cerr?" tanya Sherly sambil merapihkan berkas yang telah ia kerjakan.


Cerryl hanya menggeleng sambil merapihkan diri. Kemudian melirik Sherly dan memainkan bola matanya bolak balik ke arah Sherly dan meja kerjanya.


"Okey,siap tuan Puteri,,,hamba mengerti maksud tuan Puteri. Jadi tuan Puteri tidak usah khawatir. Temui saja tamu itu,biar hamba yang rapihkan meja juga ruangan tuan Puteri,,,"


Sambil membungkuk dan berkata, Sherly merentangkan tangan kirinya menunjuk arah pintu anak tangga. Sedang tangan kanannya melipat ke depan dadanya dengan ujung telapak tangan memegang bahu kirinya.


Cerryl tersenyum lebar hingga mengeluarkan tawa kecil melihat sikap sahabatnya itu. Dengan sedikit gaya tuan Puteri, Cerryl membalas ucapan Sherly menuju anak tangga. Keduanya tertawa. Hingga akhirnya Cerryl sudah berada di lantai romantis. Sesuai dengan namanya,di lantai itu hanya menyediakan satu meja dengan sepasang kursi empuk. Yang memang diperuntukkan bagi pasangan. Tidak seperti di lantai dasar yang satu meja besar ada 4 sampai 5 kursi empuk mengitarinya.


Cerryl mengedarkan pandangannya. Begitu menangkap sisi punggung orang yang duduk di sudut ruang dekat jendela,jantungnya berdebar. Aliran darahnya serasa begitu cepat mengalir hingga dadanya sedikit sesak.


"Hai,,,aku disini,,," ujar orang itu sambil melambaikan tangan saat menoleh dan melihat Cerryl yang sedang tidak menentu.


"Oh,Tuhan,,,kenapa aku jadi begini?ada apa juga tiba-tiba dia datang dan mencari ku? sendirian pula,,," bisik Cerryl.


Orang itu pun berdiri dan segera melangkah mendekati Cerryl. Cerryl semakin kelu. Sepertinya kini kedua kakinya sedikit bergetar. Semakin dekat gataran kali juga dada Cerryl bertambah hebat. Bahkan nyaris jatuh saat orang itu sudah berada di hadapan Cerryl dan tangan kirinya meraih tangan kanan Cerryl. Dengan lembut dan tanpa berkata apa-apa,orang itu menuntun Cerryl ke sudut ruang menuju tempat orang itu duduk tadi,sambil tersenyum.


Cerryl pun tidak mampu bicara. Hanya berjalan mengikuti kemana orang itu menuntunnya. Dalam mimpi pun ia tidak pernah membayangkan kejadian itu.


Setelah tiba di sisi kursi,orang itu dengan sigap melepaskan tangannya dan beralih untuk menarik kursi itu. Dengan senyum,ia pun mempersilahkan Cerryl untuk duduk. Cerryl membalas dengan senyum dan anggukan halus. Tak lama mereka pun sudah duduk berhadapan.


"Ngga,kak,,,! Cerryl ngga apa-apa kok,,,"


ucap Cerryl tiba-tiba sambil sedikit menarik kepalanya menghindarkan keningnya.


"Tapi kamu kelihatan pucat, Cerr,,,"


Senyuman yang terpancar sedari tadi dari orang itu telah memudar. Berganti wajah cemas karena melihat sikap juga wajah Cerryl yang menurutnya sedang sakit.


"Mungkin karena cape,kak,," kilah Cerryl.


"Kamu serius,ngga apa-apa?" tanya orang itu.


"Iya,kak. Cerryl baik- baik aja,,," lanjut Cerryl berusaha tenang menyembunyikan sesuatu yang sedang menggelora di dada.


"Ya sudah,tapi kamu harus banyak istirahat dulu. Jangan terlalu memaksakan diri,,," ucap orang itu.


Akhirnya orang yang ternyata Hadi itu pun sedikit mengendurkan kecemasannya. Tapi ia meminta Cerryl untuk tidak lupa mengatur waktu istirahat. Ia paham kalau belakangan hari Cerryl sedang sibuk mengurus dan membantu program yayasan juga mengurus usahanya sendiri.

__ADS_1


Cerryl yang sudah bisa menguasai diri,perlahan mulai menjawab dan berbincang-bincang dengan santai setelah Hadi memesan juice juga sandwich yang sama seperti pesanan Cerryl.


"Maaf,ini bukan ikutan lho,,,tapi memang aku suka makan sandwich dan juice jeruk nipis plus madu ini." ucap Hadi.


"Ternyata selera kita sama,kak" senyum Cerryl.


Kecanggungan Cerryl sudah hilang. Bahkan ia sudah bisa tertawa kecil saat Hadi menyindir sikap Cerryl setiap kali mereka bertemu. Walaupun ada rasa malu juga bila mengingat semua moment itu.


Obrolan mereka pun semakin beragam. Mulai dari awal pertemuan mereka sampai rencana jangka panjang program yayasan juga usaha yang sedang dijalani Cerryl.


Cerryl begitu lepas dan tidak merasakan sesuatu yang membuatnya menjadi terlihat bodoh lagi. Hadi telah membuatnya percaya diri dan tidak perlu memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Jadi ia bisa lepas dan santai walaupun hatinya masih deg deg kan.


Tanpa terasa,waktu pun berlalu begitu cepat. Wati berjalan mendekati mereka. Begitu tiba di hadapan Cerryl,ia membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinga Cerryl.


Cerryl sedikit terkejut. Diperhatikan arloji imut yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Kemudian sambil tersenyum,ia pun berkata kepada Hadi.


"Maaf,kak. Sebentar lagi kita mau tutup,,,"


Hadi pun ikut tersenyum.


"Aku tahu,,,dan aku juga salut sama kamu. Walaupun kamu pemilik tempat ini,tapi kamu tetap menjalankan peraturan tanpa kecuali'


"Kak Hadi terlalu memuji. Cerryl cuma ngga mau mereka pulang terlalu malam,kak. Tahu sendirilah,,,"


Hadi paham maksud Cerryl. Dalam hatinya,Hadi semakin simpati terhadap Cerryl. Kali pertamanya ia merasakan ada sesuatu yang meresap di hatinya setelah sekian lama beku.


Saat hendak membayar, sang kasir hanya tersenyum kepada Hadi sambil melirik Cerryl.


"Lho,ngga bisa begitu dong,,,aku kesini atas kemauan dan keperluan sendiri. Jadi ,,,"


"Hari ini aku yang traktir, kak " cegat Cerryl.


Hadi tak bisa bicara lagi. Hingga akhirnya Cerryl ikut mengantarnya ke depan area parkir.


"Oke,berarti lain kali aku harus gantian traktir kamu!"


"Iya,,," ujar Cerryl santai.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Kamu juga jangan terlalu malam. Sampai di rumah langsung istirahat,,," ucap Hadi.


"Iya,kak"

__ADS_1


Hadi pun sudah melajukan sepeda motornya. Meninggalkan Cerryl yang masih tersenyum sendiri menatap perginya sang pujaan. Tak lama ia pun teringat telah meninggalkan Sherly sendiri di ruangannya.


__ADS_2