Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Pembukaan coffee shop


__ADS_3

Cerryl sudah bisa mengelola usaha mini market nya. Gadis itu bisa belajar dengan cepat saat ibunya mulai membuka usaha itu tujuh tahun yang lalu. Hingga membuka cabang pertama di tahun ke-enam, gadis itu sudah bisa menguasai. Namun karena masih sibuk dengan urusan sasana beladirinya, Cerryl belum mau untuk mengelola cabang yang akhirnya diserahkan kepada Andra.


Kini Cerryl sudah ingin mengembangkan usahanya setelah mengincar sebuah kios yang ada di sebelah mini marketnya. Setelah melakukan negosiasi, ia pun segera mendokarasi ruang dengan bantuan Sherly, sahabat kentalnya dari masa kuliah.


Warna hitam mendominasi putih di dalam ruangan. Dengan penataan lampu lampu yang bergelantungan, menambah kesan eksentrik bangku bulat agak tinggi dari potongan batang pohon yang menemani meja akar pohonnya. Semuanya dibalut pernis bening, tanpa cat tambahan.


Di sisi kanan dan kiri ruangan, ditempeli kotak lampu delman antik yang sudah dimodifikasi dengan pencahayaan rendah.


"Cerr... menurutmu mana yang lebih cantik?"


Sherly menunjukkan beberapa model wadah tissue meja di ponselnya. Cerryl memperhatikan gambar gambar itu sambil melirik ke arah ruangan dan meja. Hingga akhirnya menunjuk gambar yang menurutnya cocok.


Sherly mengamati sebuah kotak tissue berbahan kayu ukiran. Warna dan modelnya memang seirama dengan interior ruang. Gadis itu pun tersenyum.


"Ternyata biarpun sedikit tomboy, selera senimu juga lumayan... "


Cerryl tidak peduli dengan sindiran sahabatnya. Ia masih sibuk mencari gelas, cangkir juga peralatan lainnya di layar laptopnya.


"Okey, tinggal mengurus bagian luar"


Kedua sahabat itu pun menghampiri orang yang dipercayakan untuk mendisain coffee shopnya. Orang itu adalah utusan Reyhan yang telah lama ikut pemuda itu dalam bisnis yang akan digeluti Cerryl. Atas saran dan dukungan Reyhan pula, Cerryl berani dan memantapkan diri terjun ke bisnis itu.


"Ngga salah, Cerr...Reyhan benar benar total mendukung kamu"


Sherly manggut manggut melihat orang itu mengerjakan semua sesuai dengan arahan Reyhan, teman kampus mereka berdua yang sudah dua tahun menekuni bisnis itu di Bandung. Pemuda itu sudah memiliki tiga coffee shop. Untuk itulah Cerryl meminta bantuannya.


"Iya, katanya sih dia mau datang di acara pembukaan nanti"


Cerryl melanjutkan memeriksa lantai dua. Dimana nuansa romantis tercipta sesuai dengan konsep Cerryl. Memang gadis sengaja memanjakan pasangan yang ingin berduaan menikmati kemesraan. Meja kecil bulat dipasangkan dengan dua kursi empuk.


Cerryl begitu puas melihat sekeliling ruangan itu. Apa lagi setelah naik dan melihat ruangan sebelah kanan, di lantai tiga. Ada meja kaca berukuran sedang dengan sebuah kursi kantor membelangi jendela, tertata apik menghadap dua sofa panjang yang mengapit meja kaca berbentuk oval. Di sebelah kiri lorong tangga, terdapat ruang kaca dengan rak dan lemari yang berjejer di dalamnya.


Waktu pun berlalu, cahaya mentari mulai redup. Cerryl dan Sherly tampak kelelahan, keduanya telah terbaring di atas sofa.

__ADS_1


"Hem... rupanya kalian disini... "


Reza membuka pintu lorong tangga setelah mengetuk beberapa kali, namun tiada jawaban. Pemuda itu mendapati dua gadis sedang terlelap. Ia pun berjalan mengendap agar tidak mengganggu tidur mereka.


"Mau apa kamu datang kemari?"


Rupanya Cerryl belum begitu lelap. Samar samar gadis itu mendengar suara ketukan pintu, namun ia enggan membukakan. Menunggu dan melihat siapa gerangan yang berani naik dan masuk ke ruangan pribadinya.


"Eh... maaf... aku kira kalian sudah di alam mimpi"


Reza agak terkejut mendengar ada suara saat pemuda itu sedang memperhatikan ruangan itu.


"Akhhh.... "


Cerryl menggeliat. Merentangkan kedua tangannya dan bangkit. Duduk memandangi sosok tamu tak diundangnya.


"Siapa yang menyuruhmu masuk?"


"Hem... kamu masih marah ya?"


Reza berusaha tenang dan perlahan mendekati Cerryl. Saat pemuda itu sudah duduk di sofa tempat Cerryl duduk, Cerryl pun tiba tiba bangkit. Berjalan malas ke arah jendela, melihat lihat keluar sebentar lalu duduk di kursi kantornya.


Reza masih berusaha bersabar. Pemuda itu memaklumi sikap Cerryl.


"Okey... kalau begitu aku pamit. Aku harap kamu bisa memaafkanku secepatnya "


Cerryl tak begitu menanggapi ucapan Reza. Ia memainkan jari jarinya di atas keyboard laptop.


Reza pun pergi dengan rasa kecewa yang teramat dalam. Bagaimana pun pemuda itu sudah membuat Cerryl marah, namun semua karena ia tak bisa melawan kata kata ibunya.


"Ada apa Cerr... ?"


Sherly bangun sambil mengucek ucek matanya. Gadis itu sedikit terganggu dengan suara suara tadi.

__ADS_1


Cerryl menghampiri Sherly, setelah menjelaskan kejadiannya, keduanya pun bergegas untuk pulang. Karena besok pagi Cerryl sudah harus bersiap siap untuk acara pembukaan coffee shopnya.


Cerryl mampir sejenak ke mini marketnya. Setelah mengambil beberapa kebutuhannya, ia pun mengantarkan Sherly lebih dulu sebelum pulang ke rumahnya.


Pagi sekali Cerryl sudah memanaskan mobilnya. Jeni dan Prastyo saling berpandangan melihat putri ketiga mereka begitu semangat dalam berbisnis.


"Persis seperti mamanya... " bisik Pras.


Prastyo melirik Cerryl di ruang garasi dan Jeni yang sedang menikmati secangkir teh hijau di teras rumah bergantian. Ia memang memberikan kebebasan putri putrinya untuk memilih jalan hidup yang sesuai dengan keinginan masing masing.


"Pa... ma... Cerryl berangkat ya... "


Gadis itu pun menyalami dan mencium tangan dan pipi kedua orang tuanya. Sebagai imbalan, orang tuanya pun memberikan ciuman hangat di kening gadis itu.


"Semangat dan jangan mudah menyerah. Jalan menuju sukses itu banyak rintangannya... "


Pesan Prastyo kepada putrinya. Jeni merasa terharu dengan kalimat itu. Karena kalimat itu pula yang dahulu pernah ia terima dari seorang Prastyo saat dirinya terpuruk dalam keputus-asaan.


"Iya, pa. Terima kasih sudah mendukung Cerryl, pa. Ma, terima kasih sudah mengajari Cerryl... "


Cerryl pun bergegas masuk ke dalam mobilnya.


Di hari minggu, suasana jalan raya tidak sepadat hari hari biasa yang selalu ramai dan sering terjadi kemacetan. Tidak sampai 20 menit, Cerryl sudah tiba kawasan ruko tempat mini market dan coffee shopnya.


Cerryl membuka dan masuk ke dalam coffee shop. Dibantu tiga pegawai perempuan dan dua pegawai laki laki, Cerryl segera menyiapkan segala sesuatunya.


Setelah siap, Cerryl pun mulai membuka coffee shop. Tanpa ragu, gadis itu ikut membantu membagikan selebarannya.


Sebentar saja ruangan coffee shop sudah ramai pengunjung. Cerryl memberikan layanan dengan penuh keramahan.


Walaupun tidak mendapatkan hasil di hari pertama buka, karena memang sengaja sebagai promosi dan mengenalkan coffee shop, jadi pengunjung tidak dipungut biaya atas semua minuman yang mereka pesan. Cerryl dan pegawainya berusaha untuk melayani dengan sepenuh hati.


Kerja keras mereka terbayar, senyum kepuasan dan decak kagum atas pelayanan juga dekorasi ruang yang memanjakan mereka.

__ADS_1


__ADS_2