Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Perpisahan


__ADS_3

Kedatangan Reyhan, yang jauh jauh dari Bandung, telah menambah semangatnya. Cerryl begitu berterima kasih kepada sahabatnya karena telah banyak membantu dalam bisnis barunya itu.


Cerryl berkunjung ke sasana tempatnya latihan. Menyempatkan diri untuk datang dan mengabarkan kepada sesama rekan latihan. Karena semenjak menekuni bisnis barunya, gadis itu belum pernah sekalipun bisa hadir. Jsngankan untuk ikut mengajar juniornya, sekedar latihan pun gadis itu belum sempat. Untuk itulah ia datang.


"Kamu serius, Cerr...!?" seru rekannya.


"Iya, karena aku masih harus banyak ikut terjun dalam mengelola usahaku itu. Maklumlah, kan masih baru... " jawabnya.


Seisi ruangan itu pun diam. Saling menundukkan wajah lesu mereka. Betapa mereka tahu, Cerryl adalah orang kedua yang telah banyak memenuhi lemari piala di sasana itu. Gadis itu pun menjadi semacam maskot bagi sasana. Karena setelah kepergian Surya, teratas dalam pengumpulan piala dan penghargaan, dan Gani, peringkat ke-tiga, tinggal Cerryl yang masih bertahan.


"Lho... kenapa pada diam?!"


Cerryl memandangi lima rekannya bergantian. Perlahan mulai menghampiri dan memeluk salah satunya. Sontak rekan lainnya berkerubung dan berangkulan memutari Cerryl. Sepertinya keakraban mereka selama ini sudah begitu dalam. Hingga terasa ada sesuatu yang hilang saat Cerryl berniat untuk mengundurkan diri.


Tangis pun pecah di ruangan itu. Cita, Vivi, Dian sudah lebih dulu tumpah dalam kesedihan. ketiganya begitu erat memeluk Cerryl. Dani dan Johan hanya sempat menitikkan butiran bening dari kedua sudut mata mereka. Maklum, karena hanya mereka berdua yang laki laki.


Setelah cukup lama hanyut dalam kesedihan, akhirnya Cerryl meninggalkan tempat itu. Kelima rekannya berdiri berangkulan menjajar ke samping. Meng-isyaratkan kekompakan juga persahabatan yang tak akan pernah putus. Saling mendukung dan menjaga satu sama lain.


Saat hendak masuk ke dalam mobilnya, seorang junior memberikan salam hormat. Reflek Cerryl ikut membungkuk membalas salam juniornya. Sang junior pun berlalu dan kembali membungkuk, memberikan salam hormat kepada rekan rekan Cerryl yang sedang berada di luar pintu masuk, melepas kepergian Cerryl.


Kembali air matanya mengalir melintasi kedua pipi gadis itu dan jatuh bebas, menyaksikan pemandangan yang begitu mendalam. Tak lama Cerryl pun masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Dengan cepat ia tancap gas tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia tak mau menambah kesedihannya.


Sebentar saja, mobil Cerryl sudah meliuk liuk dipadatnya jalan raya. Tak jarang gadis itu menginjak pedal rem mendadak juga membunyikan klakson saat ada sepeda motor yang tiba tiba menyalip. Gadis itu maklum dan menganggap kejadian seperti itu sudah biasa. Jadi tidak pernah jengkel atau marah. Ia hanya harus berusaha agar tidak menyenggol atau tersenggol.

__ADS_1


Sekitar 45 menit, mobil Cerryl sudah terparkir di depan mini marketnya. Sengaja ia parkir disana karena area parkir depan coffee shop sudah berjejer sepeda motor. Gadis itu pun segera masuk.


Dari hari ke hari, coffee shop makin banyak pengunjung. Alunan lirih lagu lagu keceriaan mengiringi kemesraan pasangan muda mudi yang sedang menikmati kebersamaan mereka. Hilir mudik gadis dan pemuda berseragam hitam bergaris putih dengan topi putihnya, berpindah pindah dari meja satu ke meja lainnya. Menyapa dan membawakan pesanan dengan senyuman keramahan.


Cerryl berjalan pelan sambil mengedar pandang ke seluruh ruang lantai dasar. Senyum pun mengembang dari wajah manisnya. Menghilangkan sebentuk kesedihan hatinya sore tadi.


Di lantai dua, pandangannya tertuju kepada seseorang yang sedang duduk sendirian di sudut ruangan. Belum sempat mengetahui siapa orang itu, tiba tiba orang yang sedang diingatnya itu pun melambaikan tangan memanggilnya.


Baru saja gadis itu ingin mengangkat dan membalas melambaikan tangannya, walau pun belum tahu pasti siapa. Karena gadis itu masih belum bisa mengingatnya. Seorang gadis yang tiba tiba datang dan berada di belakangnya, mengejutkannya untuk kali kedua.


"Hai... " Seru gadis itu.


Cerryl menoleh ke belakang. Ternyata orang itu melambaikan tangan bukan kepada Cerryl, tapi kepada gadis yang ada di belakangnya itu. Malu bercampur bingung. Tapi setelah tahu siapa gadis itu, Cerryl pun menyapanya.


Gadis yang sudah berada di depannya dan berniat menghampiri orang yang duduk di sudut ruangan itu pun berhenti.


"Ouh... ternyata bosnya sudah datang... "


Gadis yang ternyata Cristine itu pun menghampiri Cerryl. Dengan cepat ia menarik dan memeluk adiknya yang agak tampak kesal karena mendengar ucapan Cristine sedikit meledeknya.


"Kebetulan, ayo kesana... " bisiknya.


Cerryl terpaksa mengikuti karena Cristine sudah menarik tangannya. Keduanya menghampiri seorang pemuda yang tadi melambaikan tangannya.

__ADS_1


Cristine sengaja mengajak rekan kerjanya untuk melihat lihat coffee shop milik Cerryl. Ia berniat untuk menggunakan tempat itu saat pertemuan dengan utusan dari kantor cabang. Sedikit memberikan kesan berbeda dari biasanya sekaligus mempromosikan tempat itu.


Cerryl kembali berusaha untuk mengingat ingat pemuda itu. Semakin dekat, Cerryl semakin keras untuk bisa mengingatnya.


"Hadi, kenalkan, ini Cerryl. Pemilik dari tempat ini" ucap Cristine.


Pemuda itu bangkit lagi dari duduknya. Mengulurkan jabat tangan perkenalan kepada Cerryl yang masih berdiri di sebelah Cristine.


Cerryl pun membalas uluran jabat tangannya.


Cristine akhirnya duduk. Cerryl pun berbasa basi sebentar lalu pamit undur diri karena ingin membantu juga memantau kinerja pegawainya.


Seorang pegawai wanita datang membawakan pesanan Hadi, kemudian menulis pesanan Cristine yang menyusul. Karena Hadi datang dan memesan lebih dulu sambil menunggu kedatangan Cristine.


Sementara Cerryl sudah di lantai tiga. Meletakkan tas kecilnya di atas meja dan duduk sebentar di sofa. Dalam keadaan sendiri, pikirannya kembali kepada kejadian di sasana dan sudut ruang lantai dua.


Gadis itu bergegas bangkit demi melupakan semua kejadian. Ia pun sudah di lantai dasar dan masuk ke ruang order. Mengecek lembaran kertas order dan ikut menyiapkan sebelum diantar kepada pengunjung.


Tanpa terasa, satu persatu pengunjung mulai meninggalkan tempat itu. Karena semua pelanggan tahu coffee shop untuk sementara masih buka mulai jam 10 pagi dan tutup jam 10 malam. Jadi setelah jam 9 malam mereka sudah tidak menerima tamu bahkan order. Semua pegawai telah berbenah dan menunggu tamu terakhir pergi.


Cristine dan Hadi pun sudah meninggalkan coffee shop sekitar jam 9. Saat itu Cerryl sedang naik ke lantai tiga dan memeriksa persediaan serta memesan beberapa item untuk esoknya.


Melelahkan tapi meninggalkan senyum kepuasan dari Cerryl juga pegawainya.

__ADS_1


__ADS_2