
Rembulan telah menggantikan tugas mentari menemani aktifitas makhluk bumi di malam hari. Memandu para nelayan dalam menentukan dan menemukan arah saat berada jauh dari daratan. Pun seringkali menambahkan keharmonisan bagi pasangan yang sedang dilanda kasmaran, menyembulkan efek romantis dari sela dedaunan yang menari-nari di ujung ranting. Terpadu apik dengan warna-warni bunga yang meliuk-liuk di sekitar taman. Mengelilingi beberapa bangku dari potongan batang pohon yang tertata indah.
Sherly baru saja tiba, dengan muka masam dilemparnya tas kecilnya ke arah Cerryl yang sedang terbuai dengan impiannya. Karuan saja Cerryl tersentak dan mau tak mau buyar sudah apa yang sedang terjadi di alam mimpinya.
"Ada apa lagi tuan putri,,,? "
Ledek Sherly tuk meredam amarah Cerryl. Karena ia tahu sahabatnya itu tidak terima mimpinya tadi telah buyar oleh tas kecilnya yang mendarat telak di wajah Cerryl.
"Hug,,,!"
Cerryl hanya bisa mengeram setelah melihat sosok yang berdiri bersandar di pintu ruangannya. Ia pun duduk sambil mengusap dan merapihkan rambut. Kemudian mengambil ponselnya.
Sherly yang sudah terbiasa dengan sikap sahabatnya itu, tidak begitu perduli untuk menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi. Menjatuhkan tubuhnya dan duduk persis di sebelah Cerryl yang masih asyik menikmati lagu Goodbye dari air supply.
"Aneh,,, aku pikir si tomboy aku ini lagi kasmaran. Tapi kenapa lagunya kok begitu ya? "
Cerryl langsung menoleh dan melotot mendengar bisikan sahabatnya itu. Dengan cepat Cerryl meletakkan kembali ponsel di atas meja dan,,, keduanya sudah bergumul di sofa itu. Sherly berusaha untuk menghindari serangan nakal jari-jari Cerryl yang mencoba mencubit bagian perut, pinggang juga pipinya. Sementara Cerryl dengan semangatnya terus saja mencari kelengahan Sherly agar bisa mencubitnya. Hingga akhirnya mereka jatuh ke lantai.
Setelah bangkit, duduk kembali di sofa kemudian sama-sama merapihkan rambut juga baju mereka, keduanya pun tertawa. Sulit untuk menebak suasana hati mereka berdua. Karena setiap kali bertemu, selalu saja begitu. Tak perduli dengan mood masing-masing.
Sherly mulai serius. Ia pun duduk mendekat ke sisi Cerryl. Tangan kirinya melingkari leher Cerryl. Sementara tangan kanannya sedikit menarik wajah sahabatnya agar bisa bertatap muka.
"Ada apa? " ucapnya lirih.
Cerryl tak langsung menjawab. Ia justru menundukkan wajahnya. Seakan mencoba menghindari tatapan tajam mata Sherly yang seolah sedang menelanjangi pikirannya.
"Hey,,,!"
Sherly kembali mengangkat dan menarik wajah Cerryl. Sherly yang awalnya mengira Cerryl merunduk karena akan menyembunyikan air matanya, tiba-tiba mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Kerasukan jin apa kamu? " protesnya.
Sherly masih bingung melihat tingkah Cerryl yang menatapnya sambil tersipu malu. Karena biasanya kalau sudah minta ditemani, pasti ada sesuatu yang sedang mengganjal dan mengusik hatinya. Dan selalu wajah murung dan murung yang diperlihatkan.
"What's,,,! "
Belum lagi hilang rasa anehnya, tiba-tiba ulah Cerryl kembali mengejutkannya. Dengan eratnya memeluk dan membenamkan wajahnya di bahu Sherly. Namun ia pun membalas pelukan itu sambil menunggu Cerryl tenang. Dalam hati Sherly benar-benar belum tahu ada apa dengan sahabatnya itu.
"Sher,,, " ucap Cerryl tanpa melepas pelukannya.
Sherly sedikit mencoba untuk melepaskan diri. Namun sia-sia, karena Cerryl justru semakin erat memeluknya.
"Apa kamu pernah merasa bodoh hingga akhirnya kamu mempermalukan diri sendiri di depan orang yang kamu cintai? " lanjut Cerryl.
" Hahaha,,," tiba-tiba Sherly tertawa lepas.
"Hey,,, kenapa tertawa? " protes Cerryl.
Sherly masih belum bisa mengendalikan tawanya. Kedua tangannya segera meraih dan menepuk-nepuk pundak Cerryl.
"Ya iya lah,,, gimana aku tidak tertawa. Ternyata kamu itu lagi demam karena terkena virus. Hahaha,,, " jawab Sherly.
Cerryl diam. Ia merasa untuk kesekian kalinya menunjukkan kebodohannya. Kali ini di depan sahabatnya sendiri. Hatinya semakin ciut saat membayangkan bagaimana jadinya kalau orang tua, kakak juga adiknya tahu tentang kejadian di rumah Johan.
Akhirnya Sherly pun sudah tenang dan bisa mengontrol diri. Percakapan dua sahabat itu pun mengalir hingga tengah malam. Walau sempat terhenti saat pegawai mini market dan coffee shop datang dan berpamitan untuk pulang setelah tutup.
"Itu normal kok. Aku yakin semua orang pasti mengalami hal itu. Cuma, mungkin dengan cara yang berbeda" ucap Sherly.
"Kamu sendiri gimana? " cecar Cerryl.
__ADS_1
"Hampir sama,,," jawab Sherly.
Sherly pun menceritakan kisah cinta pertamanya. Dimana perasaan hati bercampur aduk tidak karuan. Terlebih saat pertama kalinya ia bertatap pandang dengan orang yang menjadi impiannya.
Cerryl begitu antusias mendengarnya. Maklum saja, walaupun ia pernah mendapatkan ungkapan perasaan suka dari Johan, tapi ia tidak merasakan gejolak dalam hatinya. Bukan karena Johan tidak masuk dalam kreteria cowok idamannya, tapi saat itu Cerryl belum terpikirkan untuk mencari pasangan. Ia masih menikmati hidupnya untuk sesuatu yang ia rasa belumlah cukup memuaskan hatinya.
Namun setelah bertemu Hadi, ada perasaan aneh yang sering mengganggu pikirannya. Kebetulan juga saat itu ia telah sedikit bisa mengusai usaha mini market hingga akhirnya mencoba untuk membangun usaha lainnya.
Sherly terkesan detail dalam penuturan kisahnya. Sampai Cerryl terkadang sempat tersipu karena ada beberapa bagian yang hampir mirip dengan kejadian itu.
"Tunggu,,, artinya mereka yang sedang terkena virus ini, pasti akan bertingkah seperti itu ya,,, "
Cerryl mencoba mencari dan memutar kembali semua kejadian dan pertemuannya dengan Hadi. Hingga akhirnya tanpa ia sadar telah mengernyitkan keningnya bersamaan dengan ketukan kecil jari telunjuknya di kening itu.
Sherly pun menangkap moment itu. Ia paham kalau saat itu Cerryl sedang mencari jawaban sendiri atas pertanyaan hatinya selama ini. Ya, benar saja. Ternyata Cerryl memang sedang mencari sesuatu dari ucapan, sikap juga tingkah Hadi selama ini.
Cerryl pun menunduk lemas. Seolah sudah menemukan jawabannya.
"Cerr,,, jangan cepat mengambil kesimpulan sebelum mendapatkan jawaban langsung dari dia"
Sherly tahu kenapa Cerryl menunduk, ia pun mencoba menghibur dan tetap memberikan sugest agar Cerryl tidak down.
"Semua sudah jelas, Sher. Kak Hadi terlihat Biasa saja setiap kali bertemu. Tidak ada sesuatu yang aneh dari ucapan dan sikapnya. Artinya, kak Hadi tidak mungkin ada rasa sama aku,,, " ucap Cerryl sambil tetap menunduk.
Sherly masih berusaha untuk menghiburnya. Walau sebenarnya ia sendiri merasakan hal yang sama kalau ternyata sahabatnya itu hanya bertepuk sebelah tangan.
"Tapi ngga apa-apa, Sher. Mungkin memang kak Hadi sudah mempunyai pilihannya sendiri. Tapi aku berharap kalau orang itu adalah kak Cristine,,,"
Cerryl kembali tertunduk, tapi sebentar mengangkat wajah dan menatap Sherly sambil tersenyum. Sherly pun terharu. Kemudian memeluk Cerryl dengan erat.
__ADS_1