Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Ternyata...


__ADS_3

Sherly masih penasaran dengan sikap Cerryl. Wajahnya mulai nampak kesal, terlihat dari mata dan ekspresi sikapnya dalam menatap sahabatnya itu.


Hey, nenek lampir... ! mau cerita atau ngga... ?!"


Sherly mulai mencengkeram bahu dan menggoyang goyangkan tubuh Cerryl. Cerryl justru semakin terkekeh melihat Sherly yang begitu kesal dan penasaran.


"Hahaha... "


Cerryl makin menjadi. Tangannya pun semakin kuat menahan perutnya yang terasa kaku. Tangan kanannya menutupi mulut agar suara tawanya tidak pecah dan terdengar ke lantai dua.


"Permisi, mbak. Maaf ini minumannya"


Seorang gadis berseragam coffee shop CERIA, datang di sela kekesalan Sherly dan tawa Cerryl. Dua gelas kristal bergaris gelombang dibawanya di atas baki kayu ukir yang cantik. Setelah meletakkannya di atas meja, gadis itu pun mempersilahkan kepada Sherly dan pemilik coffee shop.Tanpa menunggu komentar keduanya, gadis itu pun pamit undur diri.


"Kalau tidak ada keperluan lagi, saya pamit mbak" ucapnya.


Sherly hanya mengangguk. Cerryl mengangkat dan melambaikan tangan kanannya sebagai isyarat mempersilahkan gadis itu untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sherly telah melepaskan cengkeramannya, beralih mengambil juice alpukat dengan hiasan susu cokelat yang bergaris garis belum menyatu dengan juicenya. Sendok plastik kecil panjang digunakannya untuk mengaduk minuman itu setelah sedikit mengangkat pipet berwarna putih yang dekat ujungnya fleksibel.


Cerryl telah bisa menenangkan dirinya. Merapihkan lagi rambutnya dan segera ikut melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Sherly. Keduanya sementara membisu karena sedang asyik menikmati segarnya juice alpukat yang bercampur susu cokelat.


Namun begitu, wajah Sherly masih saja tampak kesal. Karena belum mengetahui perihal Cerryl yang tiba tiba datang dan menangis juga bisa tertawa di saat hatinya sedang sedih. Belum lagi maksud kedatangan pemuda itu.


"Jadi begini ceritanya, nenek gerandong... "


Cerryl mulai hendak bercerita. Namun kalimat terakhir terasa membuat dan memaksa Sherly membulatkan kedua bola matanya sambil menampilkan senyum sinisnya.


"Iya, nenek lampir... bagaimana ceritanya?"


Balas Sherly mengejek. Cerryl pun tidak meneruskan rasa geli melihat tingkah sahabatnya itu, karena Sherly buru buru mengepalkan tinjunya di hadapannya. Akhirnya, perlahan Cerryl menceritakan kejadian itu. Sherly menyimak dengan sabar dan penuh perhatian. Seolah sedang mencari dimana letak kesalahan pemuda itu sampai bisa membuat si tomboy itu menangis.

__ADS_1


Agak terbata juga saat Cerryl menceritakannya. Karena secara gadis itu pun tidak berharap bisa bertemu dengan situasi seperti itu. Hatinya begitu perih menyaksikan pemuda itu bersama gadis lain. Lebih perih ternyata gadis itu adalah Cristine, kakaknya kandungnya sendiri.


"Ouh... " desah Sherly.


Gadis itu pun segera memeluk Cerryl yang sudah mulai murung. Mendekatkan kepala sahabatnya bersandar di dadanya.


"Tapi aku senang kok. Karena akhirnya kakakku mendapatkan seseorang yang bisa menjaganya. Menjaga cintanya... "


Cerryl berucap sambil kepalanya yang bersandar di dada Sherly, mendongak ke atas memandangi langit langit ruangan. Seolah sedang melihat gambaran sosok pemuda itu disana.


"Sudahlah... aku yakin suatu saat nanti, kamu juga akan mendapatkan yang lebih baik dari dia"


Sherly pun mencoba menghibur hati. Membelai lembut rambut Cerryl.


Keduanya pun kembali membisu. Tangan Sherly masih bergerak gerak mengusap rambut Cerryl, yang kadang tersenyum kadang sedih sambil tetap memandangi langit langit.


"Oh iya. Bagaimana reaksi cowok itu saat tau kalau kamu adalah adik pacarnya?" bisik Sherly.


"Tunggu dulu... " ujar Cerryl.


Cerryl kembali berusaha mengingat secara detail moment itu. Pikirannya memutar kembali saat ia mengulurkan jabat tangannya untuk berkenalan.


"Kenapa, Cerr?!" sahut Sherly heran.


"Aku rasa dia ngga ingat sama aku, Sher... karena saat kak Cristine membawa dan mengenalkan aku sama dia, cowok itu terlihat biasa aja. Sama sekali ngga ada komen. Cuma kenalan terus duduk lagi... " jelas Cerryl.


"Aneh... ngga kaget atau gimana gitu saat lihat kamu, Cerr ?" protes Sherly.


"Iya... " jawab Cerryl.


"Bener bener aneh... " ucap Sherly.

__ADS_1


Sherly agak menunduk. Jari telunjuknya menempel dan mengetuk ketuk keningnya. Mencoba mencari jawaban atas sikap pemuda itu.


"Jangan jangan dia pura pura, Cerr !" tebaknya.


"Pura pura gimana?" sahut Cerryl.


"Pura pura ngga kenal sama kamu, biar kak Cristine ngga tau" lanjut Sherly.


"Maksudnya... ?" tanya Cerryl.


"Siapa tau cowok itu ternyata juga suka sama kamu. Terus dia pura pura ngga kenal kamu di depan kak Cristine. Jadi dia kan bisa selingkuh di belakang kak Cristine, sama kamu... "


"Ngaco... !" bentak Cerryl.


Cerryl sama sekali tidak menggubris perkataan Sherly. Karena ia yakin kalau pemuda itu tidak mungkin seperti yang dipikirkan Sherly. Walaupun hanya beberapa jam ia dan pemuda itu bersama, tapi Cerryl bisa memastikan kalau pemuda itu orang baik baik.


"Kalau mau, sudah dari awal dia begitu. Buktinya...dia cuma bantu aku melawan Bimo CS. Terus ngga ngajak kenalan dan minta nomor HP" jelasnya.


"Tapi dia yang ngotot nganter kamu pulang kan?" sergah Sherly.


"Iya, itu kan karena sudah malam dan karena si berengsek itu ngga datang datang... " jelas Cerryl.


Entah mengapa Cerryl begitu antusias membela pemuda itu. Ia hanya tidak mau Sherly menganggap pemuda tidak bedanya dengan pemuda lainnya. Yang sering modus di balik semua kebaikan, demi mendapatkan simpati.


"Dan lagi... setelah dia nganter aku pulang, dia ngga pernah datang lagi... "


Sherly mengernyitkan keningnya. Ucapan Cerryl telah membuatnya tidak tahu harus berkata apa lagi. Gadis itu berusaha memakai logika awam untuk mengerti sikap pemuda itu.


Cerryl kembali mengambil minumannya. Sherly pun demikian. Hingga isi gelas mereka sudah berpindah ke dalam perut masing masing. Setelah itu, keduanya turun untuk melihat keadaan coffee shop juga memantau kinerja pegawainya.


Cerryl sudah kembali ceria. Seperti tidak pernah terjadi apa apa. Sedangkan Sherly, masih harus berusaha keras menerima penjelasan dari Cerryl. Walaupun dalam hatinya, gadis itu begitu mengagumi sifat dan karakter sahabatnya itu. Begitu cepat kembali dalam kondisi tenang di saat perasaannya sedang gundah. Berjiwa sosial, keras kepala, tomboy, dan menyukai tantangan.

__ADS_1


Sampai akhirnya, pengawas mini marketnya datang dan menyetor hasil penjualan hari itu bersama sang kasir. Begitu juga pengawas dan kasir coffee shop. Cerryl dan Sherly pun segera pulang setelah kedua tempat usahanya tutup. Sherly sengaja menunggu Cerryl, karena malam itu ia berniat menginap di rumah keluarga Cerryl.


__ADS_2