
Perasaan Cerryl begitu berbunga saat itu. Memandangi Hadi yang sedang menikmati hidangan.mereka saat berada di pondok itu kembali. Seolah ia tidak percaya kalau mimpinya itu akan menjadi nyata. Seorang yang awalnya dianggap dingin dan acuh,sekarang telah resmi menjadi kekasih hatinya.
"Kenapa,,,? jangan menatapku seperti itu. Bisa ge-er aku nanti,,,"
Hadi sedikit tersenyum mendapati Cerryl yang sedang asyik memperhatikannya. Ia berucap tanpa mengangkat wajah dan memandang Cerryl. Sambil melirik, Hadi terus saja sibuk menggulung-gulung spagheti bolognese di piringnya kemudian menyuapkan ke mulut dengan garpu.
Cerryl pun tersenyum. Segera ia pun ikut mengaduk dan menggulung-gulung spaghetinya. Sambil tersipu malu,ia pun menyuap sedikit.
"Oh,iya,,,besok pagi aku ingin jalan-jalan seperti biasa. Sudah seminggu ini aku belum bertemu ibu itu"
Hadi berkata sambil duduk tegak dan memandangi Cerryl. Cerryl pun balas menatapnya. Hingga ada sedikit saus bolognese yang menempel di sudut bibirnya saat hendak menyuap, ia keburu mengangkat wajahnya.
Hadi tersenyum,tangan kanannya dengan cepat terulur. Jari jemarinya dengan lembut menempel di pipi Cerryl. Sebentar saja,dengan lembut ibu jarinya menyeka sudut bibir Cerryl.
Masih dalam posisi berdiri sambil membungkuk,Hadi makin mendekatkan wajahnya. Memperhatikan sudut bibir dan memastikan sudah tidak ada lagi noda saus di sana.
Cerryl hanya mematung. Seperti sedang membiarkan dan menikmati perlakuan Hadi yang lembut. Walaupun sedikit berdebar saat wajah Hadi berada sangat dekat di hadapannya. Hidung mancungnya nyaris saja menyentuh hidungnya saat Hadi fokus pada ibu jarinya yang sedang menyeka sudut bibir Cerryl.
"Okey,,,sudah bersih" ucap Hadi.
Tangan kiri Hadi meraih beberapa lembar tissue. Kemudian dengan tangan kanannya,Hadi kembali membersihkan sisa minyak saus di sekitar bibir juga pipi Cerryl.
Cerryl masih terdiam dan mematung. Layaknya seorang bocah yang sedang mendapat perlakuan manja dari pengasuhnya.
"Terima kasih,kak,,," ucapnya lirih.
Hadi tersenyum dan kembali duduk. Sambil menyeka ibu jarinya, ia pun berkata lagi.
"Aku penasaran sama ibu itu. Setiap pagi aku ngga pernah melihat juga berpapasan di tempat biasa"
Cerryl terkejut. Namun tidak diperlihatkan. Secara ia merasa ada yang aneh dari sikap Hadi.
"Hah,,,ada apa ini?" gumam Cerryl dalam hati.
"Apa tadi dia ngga sadar? jelas-jelas tadi dia menyentuh dan mengusap bibirku. Apa dia ngga merasakan apa-apa saat,,,"
Cerryl begitu terkejut dan penasaran. Tidak mengerti mengapa Hadi bersikap seolah tidak merasakan sesuatu dengan perlakuannya tadi. Masih saja Hadi terpikirkan oleh ucapan sebelumnya dan mencemaskan ibu itu.
Hadi kembali tersenyum melihat sikap Cerryl. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Cerryl saat itu.
"Kenapa,,,? Kamu pikir aku juga ngga deg-degan?"
Cerryl membulatkan matanya. Menatap Hadi dengan tetap menyembunyikan keterkejutannya.
"Aku adalah lelaki normal. Sama seperti yang lain. Tapi aku ngga mau terlalu dalam mengikuti perasaanku"
__ADS_1
BOOMMM
Cerryl tertunduk malu. Ia merasa berat tuk mengangkat dan memandang wajah Hadi.
Keduanya pun kembali menikmati hidangan mereka yang mulai dingin. Hingga akhirnya Hadi berdiri mendekati Cerryl setelah menyelesaikan makan malam mereka. Hadi melihat arlojinya.
"Masih ada waktu,kita bisa ngobrol santai di sana" ucapnya.
Cerryl pun ikut berdiri dan mengikuti Hadi tangan Hadi yang menariknya menuju kursi panjang empuk di sisi pondok. Setelah duduk berdampingan dengan tangan kanan yang masih menggenggam tangan kiri Cerryl,Hadi pun berkata sambil menatap lembut wajah Cerryl.
"Cerr,,,maafin aku ya. Aku tahu selama ini kamu sudah lama menyukaiku"
Cerryl tersenyum. Tangan lembutnya meremas telapak tangan Hadi dan menepuk-nepuk dengan manja.
"Jahat,,," ucap Cerryl manja.
"Kakak tahu kalau Cerryl sudah lama suka sama kakak. Tapi kenapa kakak terlihat cuek sama Cerryl?"
Cerryl semakin mendekatkan tubuhnya. Menyandarkan kepala di bahu Hadi sambil terus mempermainkan telapak tangan Hadi dengan jari lembutnya.
Perlahan Hadi menarik tangan kanannya. Diangkat dan melingkar pundak Cerryl memeluk. Membuat kepala Cerryl jatuh di dada bidang Hadi.
Cerryl tersenyum. Tanpa sengaja tangan kanannya bergerak dan memegangi dada Hadi. Mencoba memastikan seberapa besar detak debar di dada Hadi karena saat kepalanya jatuh disana,ia mendengar debaran kencang disana.
"Karena aku begitu menyukai kamu,,," bisik Hadi lembut.
Cerryl tersentak. Menarik kepala dan mengangkat wajahnya setelah mendengar jawaban Hadi.
"Kakak menyukai Cerryl,tapi kakak cuek sama Cerryl!?
Cerryl belum mengerti maksud perkataan Hadi itu. Bagaimana bisa seseorang menyukai orang lain tapi bersikap acuh seperti tidak memperdulikan perasaannya.
"Hem,,,semua karena masa lalu,,,"
Cerryl langsung merentangkan kedua tangannya setelah Hadi mengucapkan kalimat itu. Memeluk erat Hadi dengan harapan bisa sedikit mengurangi beban pikirannya dari kenangan pahit masa lalu. Hadi pun perlahan melingkarkan tangan di tubuh Cerryl yang sudah lama mendekapnya.
"Cerryl tahu kak. Pasti kakak merasa berat menanggung semua itu sendirian"
ucap Cerryl.
Hadi semakin yakin kalau kali ini ia benar-benar sudah jatuh hati dan membukakan kembali ruang hatinya yang telah lama hampa. Hanya kenangan pahit di masa lalu yang selama ini menyelimuti dan mengunci semua celah dari banyak gadis yang mencoba datang dan mendekatinya. Termasuk Christine.
"Kak,,, Cerryl harap, kakak bisa bangkit dan bisa bahagia lagi"
Kata-kata Cerryl keluar bersama jatuhnya butiran kristal bening yang sejak itu telah menyudut di kedua matanya.
__ADS_1
Begitu pula dengan Hadi. Tak kuasa menahan kepedihan saat mendengar ucapan Cerryl yang terasa seperti cambuk sedang memecuti dirinya. Karena terlalu lama terkungkung dalam kenangan masa lalu hingga tanpa sadar telah banyak melukai perasaannya juga orang lain.
Keheningan mereka pecah saat suara ponsel Cerryl beberapa kali memutarkan nada panggilan. Menyadarkan keduanya kalau saat itu malam sudah larut.
Setelah Cerryl memutuskan panggilan, Cerryl menyimpan kembali ponselnya dalam tas kecilnya. Sambil bergandengan tangan,keduanya meninggalkan tempat itu dan pergi.
Sepanjang perjalanan,Cerryl terus saja memandangi Hadi yang duduk di belakang kemudi.
"Ternyata dia juga punya sisi lembut dan bisa menangis. Sangat manusiawi"
Cerryl berucap dalam hati. Baru pertama kalinya ia melihat sendiri kerapuhan seorang Hadi yang begitu tegar dan tegas dalam setiap ucapan juga tindakan. Ia meyakini,sekuat dan sehebat apa pun seseorang, ada kalanya ia akan bersedih dan bisa menitikkan air mata. Dan kini ia sedang membuktikan sendiri keyakinannya itu.
Sesampainya di Kedai Ceria,Wati sudah menunggu di pintu masuk. Sementara Hadi menunggu di area parkir, Cerryl menghampiri Wati dan masuk kembali ke dalam kedai.
Sambil menunggu,Hadi membakar sebatang rokok putihnya. Memainkan sebentar kepulan asap rokoknya kemudian dihembuskan hingga membentuk lingkaran berputar-putar ke atas sana.
Kurang dari lima belas menit, Cerryl sudah keluar lagi bersama Wati.
"Kalau begitu aku langsung pulang ya" ucap Hadi.
"Hati-hati kak,,," lambai Cerryl.
Hadi membalas lambaian Cerryl dari atas sepeda motornya. Setelah itu ia pun tancap gas lurus menyusuri jalan yang mulai sepi itu. Cerryl berbelok ke kiri menuju rumah yang belum lama ia sewa tak jauh dari tempat usahanya.
Cerryl berusaha mandiri,tak mudah awalnya untuk bisa mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya saat ia memutuskan untuk menyewa dan tinggal di sebuah rumah yang lumayan besar. Di sana Wati juga beberapa pegawai perempuan ikut tinggal bersama, tanpa harus ikut membayar sewa. Dari sanalah Cerryl semakin menjadi panutan dan dihargai oleh pegawainya.
"Mbak,,,boleh tanya sesuatu ngga?" ujar Wati pelan dan hati-hati saat mereka sudah tiba di sebuah rumah dua lantai.
"Kamu ini,,,senangnya bikin orang penasaran ya" jawab Cerryl.
Setelah keluar dan mengunci pintu mobilnya, Cerryl dan Wati berjalan memasuki rumah itu. Sebelum masuk ke kamarnya, Cerryl duduk di ruang tamu bersama Wati.
"Sekarang mau tanya apa,Wati?"
Wati yang sedari tadi menunggu kata-kata Cerryl langsung duduk agak mendekat dan bicara pelan agak berbisik.
"Maaf,mbak. Apa karena tadi saya ada disana,jadi pacar mbak ngga kasih kiss bye sama mba?"
Cerryl tersentak mendengar kalimat Wati. Sampai Cerryl sedikit melonjak dari duduknya setelah Wati bicara.
"Kamu ini,,,huh,,,!"
Cerryl terlihat sedikit kesal dan gemas. Namun ada rona merah melebar di wajahnya. Jarinya kedua tangannya segera menggelitik tubuh Wati tanpa ampun. Membuat Wati kerepotan karena satu tangannya harus mengibas-ngibaskan jari Cerryl yang dengan gemas berusaha menggelitiknya. Sedang tangan satunya harus menutup mulut agar suara tawanya tidak terlalu terdengar keras.
Cerryl tetaplah Cerryl,,,Dimana pun dia ada, keceriaan selalu hadir bersamanya. Tidak pernah bersikap dan membedakan status bila di luar pekerjaan. Di rumah mereka adalah teman juga saudara. Itulah mengapa Cerryl begitu dihormati dan disegani, terutama pegawai perempuannya.
__ADS_1