Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Galau


__ADS_3

Cerryl tidak menyangkal kalau dirinya telah menaruh simpati kepada pemuda yang menolongnya itu. Seharian gadis itu hanya menghabiskan waktu di kamar. Hingga membuat Jeni khawatir dengan sikap putrinya itu.


"Cerr, kamu tidak apa apa nak?"


Jeni memastikan Cerryl yang hingga sore hari belum mau keluar dari kamarnya.


Cerryl menoleh sebentar ke arah ibunya yang berada di pintu kamar. Kemudian gadis itu pun duduk bersila di atas tempat tidurnya. Karena melihat Jeni sudah berjalan menghampirinya.


"Kenapa? kamu marah sama mama?"


Jeni ikut duduk, mengelus rambut dan kepala Cerryl. Gadis itu masih diam. Ia hanya menggelengkan kepala sambil menatap ke luar jendela kamar.


"Ya sudah, mama minta maaf kalau mama salah"


Jeni mencoba untuk merajuk. Perempuan itu adalah ibunya Cerryl, yang mengandung dan melahirkannya. Bahkan ikut merawatnya dari kecil, walaupun sudah ada baby sitter. Jadi ia sudah hafal betul sifat putri ke-tiganya itu.


"Mama ngga salah kok. Cuma Cerryl masih pengen sendiri aja"


Gadis itu pun luluh. Jeni telah berhasil membuat Cerryl bicara. Bahkan seperti biasa gadis itu merebahkan kepala di pangkuan Jeni.


"Ma, apa papa cinta pertama mama?"


Jeni agak terkejut mendengar pertanyaan Cerryl. Tangannya pun berhenti mengelus rambut putrinya. Menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.


Cerryl merasakannya. Tapi gadis itu masih menunggu Jeni menjawabnya.


"Bukan, papa itu orang yang mama benci. Karena papa sudah menjadi penyebab putusnya mama sama cinta pertama mama"


Jeni mulai bercerita. Cerryl langsung bangkit dan duduk di sebelah Ibunya.


"Kok bisa?" heran Cerryl.


"Papa tidak suka kalau mama berhubungan sama orang itu"


"Pasti karena papa suka sama mama... iya kan?"


"Tidak, sayang... saat itu papa sudah punya gadis lain yang jauh lebih cantik dari mama"


Jeni tersenyum saat melihat wajah putrinya yang tambah penasaran.


"Aneh... " gumam Cerryl.

__ADS_1


"Papa hanya kesal sama mama. Karena setelah kenal dengan orang itu, mama jadi sering bolos kuliah. Papa adalah senior mama di kampus. Papa pula yang telah menjadi pembimbing mama"


Cerryl mulai sedikit memahami sikap papanya. Tapi ia masih ingin lebih banyak tahu.


"Ah... sebentar, mama kok merasa ada yang aneh ya?"


Jeni tiba tiba menoleh ke arah putrinya. Diperhatikannya Cerryl dengan tajam.


"Apa sih...!?"


Cerryl merasa risih mendapati Jeni yang sedang memperhatikan dirinya. Seperti sedang ditelanjangi oleh sorot mata Jeni.


"Aih... sepertinya anak mama yang satu ini sedang jatuh cinta rupanya... "


Karuan saja membuat wajah Cerryl bersemu merah. Menambah yakin Jeni dengan pikirannya.


"Mama... "


Cerryl merebahkan tubuhnya di pangkuan Jeni. Jeni tersenyum tipis sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Tangannya kembali mengusap lembut kepala putrinya itu. Sesekali menyibakkan helai rambut yang menutupi telinga Cerryl.


"Reza bagaimana?"


Cerryl bangkit mendengar ucapan Jeni. Bibir Cerryl bergerak gerak mengingat nama itu disebutkan Jeni.


Cerryl memahami ucapan Jeni. Tapi ia belum berani mengatakan kalau perasaan yang ia rasakan saat itu adalah bentuk dari kata cinta. Baginya terlalu cepat untuk menyimpulkan arti dari perasaan yang ia alami.


"Tapi saran mama, kamu harus hati hati dalam mengartikan sebuah kedekatan atau hubungan dengan seseorang. Bisa jadi itu hanya ungkapan kasih sayang seorang sahabat"


"Tapi ma... !" sela Cerryl.


"Cerryl belum pernah bertemu dengan orang itu. Jadi mana bisa dianggap begitu?"


Cerryl akhirnya menjelaskan kenapa dirinya tidak setuju dengan ucapan Jeni tadi. Karena mereka baru kali pertama bertemu.


"Kalau begitu, mungkin saja pemuda itu hanya berniat menolong tanpa ada maksud lain"


Plak...


Ucapan Jeni seperti menampar lamunannya.


"Mama benar, dia cuma berniat menolong tanpa ada tujuan lain. Karena walaupun akhirnya dia mengantarku pulang, tapi tidak ada sikap yang menandakan ada niat lain. Jangankan minta nomor hp, tanya nama aja ngga" bisik Cerryl dalam hati.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu jangan terlalu memikirkan pemuda itu. Nanti kalau tidak bersambut bagaimana?" ledek Jeni.


"Mama... !"


Cerryl spontan menjawil pinggang Jeni. Jeni merangkul dan memeluk putrinya dengan penuh kasih sambil tersenyum. Cerryl pun membalasnya. Keduanya hanyut dalam kasih sayang ibu dan anak.


"Apa pemuda itu, yang mengantar kamu semalam?" bisik Jeni.


Cerryl mengangguk manja. Gadis itu masih bersandar di pangkuan Jeni.


"Lalu bagaimana dengan Reza?"


Jeni berhati hati sekali mengulang pertanyaan yang tadi belum dijawab Cerryl.


"Ngga tau ma, Cerryl malas tuk bicarakan itu"


"Ouh... ya sudah... "


Jeni sudah mengerti maksud Cerryl. Perempuan itu pun diam. Sedikit menunduk agar bisa mencium kepala Cerryl.


"Kalau begitu, ayo keluar. Biar kamu dapat udara segar"


"Kemana, ma?!"


Cerryl bangkit, merapihkan rambut dan bergegas pergi ke kamar mandi. Jeni sudah melangkahkan kaki keluar kamar Cerryl. Menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang keluarga.


"Lama banget sih, ma...Emang kak Cerryl kenapa ma? sakit?"


Sambut Astrid yang tengah duduk menonton televisi. Cristine tidak berkomentar karena ia tahu adiknya itu sedang galau. Sementara Andra, anak tertua, asyik dengan majalah terbarunya. Yang baru sempat ia baca, padahal sudah hampir terbit edisi baru lagi esok hari.


Jeni hanya tersenyum mendengar pertanyaan Astrid. Perempuan itu pun duduk di sebelahnya.


"Biasa, sayang... urusan orang dewasa"


"Hem... "


Astrid hanya bisa mencibir mendengar jawaban ibunya. Gadis itu hanya sudah tidak sabar untuk segera pergi ke tempat hiburan favorit mereka. Sebuah taman di tengah komplek perumahan.


Setiap akhir bulan di minggu terakhir, mereka memang selalu kesana. Bersepeda ria sambil menikmati indahnya bunga bunga yang bermekaran di setiap sisi jalan khusus pejalan kaki dan sepeda. Air mancur di tengah taman menambah riang ikan ikan yang saling berkejaran di kolam itu.


Di sebelah barat berjejer belasan kios yang menyajikan aneka jajanan dan minuman. Dengan penataan dan dekorasi yang begitu menarik perhatian.

__ADS_1


Disanalah Jeni dan ke-empat bidadarinya melepaskan kepenatan dari rutinitas.


__ADS_2