
Hampir seminggu sudah Hadi dan Cerryl resmi menjalin hubungan kekasih. Tidak ada yang berubah atau pun istimewa dalam keseharian mereka. Hanya saja,pada saat-saat tertentu keduanya saling mengingatkan tentang berbagai hal sepele. Namun teramat berkesan.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Hadi.
Cerryl yang tersenyum manja pun menjawab lembut sambil berbaring di sofa panjangnya. Dengan ponsel di tangan kanan, jari tangan kirinya menggulung-gulung rambutnya.
"Belum,,,kakak sudah?"
"Ini kakak lagi makan siang bareng sama kakak ipar,hehehe,,,"
Christine yang berada di hadapannya segera memperlihatkan senyum sambil menggoyangkan kepalanya. Kemudian kembali menyuap nasi gudeg di kantin kantornya.
"Ouh,,," jawab Cerryl lemah.
"Hem, sepertinya ada bau-bau cemburu,,,"
Hadi mulai menggoda Cerryl. Membuat Christine sedikit membulatkan mata sambil mencoba menahan tawa dengan kedua tangan menutup mulutnya.
"Ih,,,siapa juga yang cemburu,,," protes Cerryl.
"Lagian,mana mungkin Cerryl cemburu sama kakak sendiri !" kali ini suaranya agak keras.
Sepertinya Hadi telah berhasil menggodanya. Terlihat dari sikap Cerryl yang buru-buru bangkit dan duduk dari rebahannya sambil memasang wajah cemberut.
"Hahaha,,, iya lah,aku cuma bercanda kok. Biar kamu ngga terlalu stress mikiri usaha juga hal lainnya"
Christine pun ikut tertawa. Ia tak tahan lagi dengan sikap Hadi yang selalu menggoda Cerryl dengan banyak hal setiap kali mereka makan bersama di kantin di jam istirahat.
"Tenang, Cerr. Pangeran kamu akan kakak awasi dengan ketat. Sekali saja dia berani main mata sama cewek lain,kakak pasti akan seret dia. Hahaha,,,"
Kali ini Christine pun ikut menggoda adiknya. Suara tawanya yang agak lumayan keras jelas saja terdengar oleh Cerryl melalui ponsel Hadi. Membuat Cerryl makin tersipu malu karena telah sukses dijadikan bahan candaan kakak dan kekasihnya.
"Kalian tuh sama ya,kalau sampai kalian jadian,pasti bakal tambah seru tuh hari-hari kalian,hehehe" balas Cerryl.
"Waduh,,,yang ada tiap hari aku bisa nangis batin karena selalu dicemburui kakakmu,hahaha" sahut Hadi.
"Hahaha,,," Christine pun geli mendengarnya.
__ADS_1
Ketiganya begitu asyik walau salah satunya berada di tempat lain. Biar hanya lewat ponsel,keseruan mereka acap kali menambah keakraban. Membuat Christine sepenuhnya merelakan Hadi untuk adiknya, Cerryl. Begitu pula dengan Cerryl yang tidak lagi merasa bersalah atau risih karena Hadi tidak menanggapi perasaan kakaknya dan malah memilih dirinya sebagai kekasih di lembaran kehidupan barunya.
"Wuah,,,!" tiba-tiba Hadi berteriak.
Tanpa sadar ia langsung saja meneguk kopi panas yang baru saja disajikan. Karuan saja bibir dan lidahnya terasa kelu dan panas hingga cairan kopi hitam yang terlanjur berada di mulutnya,tersembur. Untung saja ia sedikit menunduk. Hingga semburannya tidak mengenai Christine.
Secara reflek, Christine segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Hadi. Sementara Cerryl yang mendengar pun terkejut dan bertanya dengan nada gelisah. Christine tidak memperdulikan suara kecemasan dari ponsel yang diletakkan Hadi di atas meja. Karena tangan Hadi langsung memegang dan mengibas-ngibaskan sebagian ampas juga cairan kopi yang tersisa di bagian ujung lidahnya. Christine memberikan lembaran tissue.
Setelah Hadi mengambil dan menyeka bekas semburan yang mengenai sebagian lengan kemejanya, Christine memegang lembut bibir Hadi sambil memperhatikannya. Nampak ia pun begitu cemas.
"Kak,,,kenapa kak!? kak,,,!"Suara Cerryl di ponsel Hadi terus saja bertanya cemas.
Setengah sadar,wajah Christine makin lama makin mendekati wajah Hadi. Membuat jantung Christine berdetak kencang saat memperhatikan dan memegang bibir Hadi. Ada sesuatu yang sepertinya mendorong Christine untuk tidak sekedar melihat dan menyentuh bibir Hadi dengan jarinya. Keinginan itu semakin kuat,hingga nyaris saja bibir Christine pun menyentuh bibir Hadi.
"Maaf,,,!"
Christine segera mundur dan menarik wajahnya menjauh. Mencoba menenangkan kembali pikirannya sambil berdiri tegak dengan kedua tangan yang merapikan juntaian rambut di leher juga keningnya.
Hadi terdiam. Kejadian itu begitu cepat dan ia pun hampir tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Christine tidak segera mengangkat dan menjauhi wajahnya. Karena pada saat yang sama,ia pun merasakan sesuatu di dalam dadanya yang bergejolak.
"Ah,,,anu,,,tadi aku ngga sadar minum kopi yang masih panas"
"Terus sekarang mulut kakak melepuh!?"
Seru Cerryl setelah mendengar suara Hadi menjawabnya.
"Cerryl kesana,kak. Tunggu sebentar ya"
Belum juga beranjak dan berniat menutup panggilan,suara Hadi terdengar kembali di ponselnya.
"Ngga usah,aku ngga apa-apa kok. Tadi cuma kaget aja. Bener,,," hiburnya.
Hadi berharap agar Cerryl tidak cemas. Karena sebenarnya ia tidak apa-apa. Hanya mengalami sedikit kelu di bagian lidah.
"Tapi,kak,,," Cerryl masih cemas.
"Beneran aku ngga apa-apa,,," sela Hadi.
__ADS_1
Akhirnya Cerryl pun kembali duduk dan mengurungkan niatnya pergi. Begitu pun dengan Christine dan Hadi. Keduanya telah kembali ke ruang kerja masing-masing karena jam istirahat telah usai.
Christine beberapa kali sempat melirik dan melihat ke arah Hadi. Ternyata gadis itu belum bisa melepaskan diri dari kejadian di kantin itu. Perasaannya masih berkecamuk. Walaupun sudah berusaha dengan keras untuk melupakan dan membuang jauh pikiran nakalnya.
Mentari mulai memancarkan rona kemerahan saat berada di sisi barat dan hendak meninggalkan sinarnya. Dari kejauhan, Cerryl memandanginya seperti sang mentari tenggelam di antara tingginya gedung pencakar langit juga rimbunnya pepohonan. Perlahan rona merahnya semakin pekat dan lambat laun hilang tergantikan kecerahan lampu lampu penerang jalan dan bias lampu gedung-gedung.
Sesaat keduanya matanya menuju area parkir di bawah sana. Mendengar suara deru sepeda motor yang begitu familiar di telinganya. Benar saja, seseorang baru saja membuka helmnya dan turun dari sepeda motor besarnya. Senyum Cerryl mengembang saat orang itu berbalik dan mengangkat wajahnya melihat ke atas. Sambil tersenyum melambaikan tangan kepada Cerryl.
Cerryl bergegas turun. Sementara orang yang ternyata Hadi itu pun masuk ke dalam kedai CERIA dan menuju anak tangga. Baru saja hendak naik lantai tiga, Cerryl sudah berada di ujung anak tangga. Setengah berlari,ia pun langsung menghampiri dan memeluk Hadi dengan erat.
"Hey,,,apa-apaan ini? Kalau ada yang lihat bagaimana?" bisik Hadi kaget.
Cerryl tidak perduli. Semakin erat saja ia memeluk Hadi. Hadi pun perlahan melingkarkan tangannya ke tubuh Cerryl, membalas pelukan manjanya. Debaran hati masing-masing bisa dirasakan oleh keduanya. Hingga mereka pun sesaat terbuai dalam pelukan hangatnya.
"Kak,,,dari siang Cerryl belum makan"
Ucap Cerryl saat keduanya sudah melepaskan pelukan rindunya sambil menatap wajah Hadi.
"Kenapa!?" jawab Hadi penasaran.
"Apa karena kejadian siang tadi?"
Cerryl mengangguk pelan. Membuat Hadi gemas dan mengusap-usap kening Cerryl. Menyibakkan juntaian rambut yang sedikit menutupi wajah Cerryl sambil tersenyum. Kemudian tiba-tiba saja ia mencium kening Cerryl dengan lembut.
"Ya,sudah,,,kalau begitu kamu sekarang harus makan" ucapnya setelah mencium kening Cerryl. Menatapnya penuh kasih sayang.
Membuat Cerryl yang masih terpaku mendapatkan ciuman hangat di keningnya,segera kembali memeluk dan membenamkan wajahnya di dada Hadi.
Hadi tersenyum. Kemanjaan yang ditampilkan begitu kontras dengan sikapnya yang keras dan tegas. Seperti bukan Cerryl yang ia kenal sebelum menjadi kekasihnya dulu. Namun begitu,ia pun mengakui ada sisi lembut dan penuh kasih sayang yang pernah ia lihat saat Cerryl bersama anak-anak yayasan.
Akhirnya Cerryl pun mengandeng tangan kiri Hadi menuju ruangannya. Sambil sesekali memperhatikan Hadi yang terus saja tersenyum melihat kemanjaan Cerryl.
Setibanya di ruangan, Cerryl meminta pegawainya untuk mengantarkan minuman dan makanan ringan. Sambil menunggu,Hadi pun minta izin memakai ruangan pribadi tempat istirahat Cerryl untuk melaksanakan ibadah shalat Maghrib.
Cerryl dengan lembut menolak. Bukan karena tidak boleh ada orang lain masuk ruangan pribadinya. Tapi sebelumnya Cerryl sudah menyediakan ruang khusus di lantai dua untuk keperluan ibadah para pegawainya juga pengunjung.
Membuat Hadi makin kagum dan simpati. Karena Cerryl begitu toleran walaupun beda keyakinan.
__ADS_1
Cerryl sudah kembali ke ruangannya. Sementara Hadi juga beberapa pegawai Cerryl,bergantian melaksanakan ibadahnya. Maklum saja karena tempat itu tidak begitu besar,namun begitu bersih dan nyaman.