
Kuncup bunga di taman mulai bermekaran, aneka warna dari rupa nan elok saling menebarkan keharuman yang begitu menenangkan. Membawa hati damai dan melayang jauh bersama khayalan.....
Indah,,, memanjakan mata dengan pesona memikat. Menari-nari bersama iringan merdu kicau burung-burung yang hinggap berjejer di ranting seolah paduan suara alam nan syahdu.
Semilir angin yang berhembus pelan bak kreator tari sang bunga. Meliak-liukkan tangkai bunga yang satu dan lainnya hingga tercipta gerakan menawan.
Sinar mentari yang mulai hangat menjadikannya sempurna. Dari celah dedaunan yang bergoyang-goyang, seperti sinar laser berkedap kedip menambah efek pada panggung taman.
Cerryl tersenyum. Hari itu ia begitu lepas dan berlama-lama berdiri di sisi jendela kamar. Tanpa memperdulikan ada sepasang mata sedang mengamatinya di kejauhan.
Cerryl bagaikan sedang berada di dunia mimpi. Bisa mendapati dan menikmati segala apa yang menjadi telah menjadi keinginannya. Sesuatu yang sebenarnya tidak begitu ia yakin akan terwujud.
"Hemmm,,," desahnya lembut memejam.
Sementara sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya,semakin penasaran. Walaupun begitu,perasaan senang pun ia rasakan saat menyaksikan perubahan sikap Cerryl dalam beberapa hari terakhir.
"Syukurlah,mbak Cerryl akhirnya mendapatkan seseorang yang bisa membuatnya bahagia"
Pemilik sepasang mata itu pun melangkah. Mendekati Cerryl yang masih asyik dan larut dalam buaian dan kehangatan hatinya. Dengan hati-hati orang itu berdiri di sisi luar jendela. Tepat di hadapan Cerryl yang berdiri di sisi dalam.
"Ada apa Wati,,,?" lirih Cerryl berucap.
Orang yang ternyata Wati itu pun terkejut. Ia tidak menyangka kalau Cerryl tahu kedatangannya. Padahal jelas ia melihat Cerryl sedang memejamkan mata saat menikmati keindahan alam yang selaras pula dengan suasana hatinya. Pun ia sudah berusaha untuk melangkah pelan agar tidak menimbulkan suara saat kakinya berjalan mengendap-endap.
"Kamu pikir aku ngga tau ya? hehehe"
Cerryl kembali berucap. Kali itu Wati sudah tidak bisa apa-apa lagi. Hanya tersenyum membalas senyum Cerryl, yang nota benenya adalah bos mudanya.
"E,,, sepertinya mbak lagi mengenang hal-hal indah ya? mbak kelihatan bahagia sekali pagi ini,,,"
Kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Wati. Karena memang ia merasakan kalau bosnya itu sedang berada dalam puncak kasmaran.
__ADS_1
"Sok tau,kamu.,," ledek Cerryl.
Senyum Cerryl kembali mengembang saat berucap.
"Oh,iya,,,hari ini kamu off kan?" lanjutnya.
"Iya,mbak" balas Wati.
Cerryl menarik lembut kedua bibirnya. Tangan kirinya menyentuhkan jari telunjuk di sisi kening. Sedang tangan kanannya melipat melingkar di depan dadanya.
"Bisa kan aku minta tolong?" ucapnya.
Kening Wati sedikit berkerut. Bukan karena di hari liburnya, sang bos masih memanfaatkan tenaganya. Tapi karena berpikir tentang permintaan sang bos. Ia sangat senang jika bisa melakukan sesuatu untuk Cerryl. Sebagai balasan karena Cerryl begitu banyak telah memberikan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan uang.
"Minta tolong apa,mbak?" serunya.
Cerryl berpikir sejenak. Kemudian dengan sedikit berbisik, Cerryl berkata sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Wati.
"Tolong jangan ceritakan sama yang lain tentang kejadian ini,,,"
"Ya ampun, mbak. Aku pikir minta tolong apa,,," gumamnya sambil cemberut.
"Hahaha,,, Cerryl terkekeh melihat perubahan sikap dan wajah Wati.
"Tapi aku serius lho,,,!" lanjutnya.
Kali ini Cerryl berkata sambil menudingkan jari telunjuk ke arah Wati. Sebagai isyarat kalau Cerryl berharap Wati menepati permintaannya itu. Walau terkesan agak mengancam.
"Emang kenapa sih,mbak? Toh ini kan bukan sesuatu yang memalukan. Dan saya pikir, wajar bila saat ini, mbak ,,,"
Kalimat Wati dihentikan paksa oleh bekapan tangan Cerryl yang menutup mulut Wati.
__ADS_1
"Jangan keras-keras,,, nanti mereka dengar" gerutu Cerryl.
Gadis itu menjulurkan kepala ke luar jendela. Menoleh kanan dan kiri juga arah depan taman.
"Pokoknya aku minta jangan sampai yang lain tau,titik!" ancam Cerryl.
Wati hanya mengangguk. Tangan Cerryl masih menutup mulutnya. Baru setelah yakin Wati tidak akan bicara dan membuat sesuatu yang tidak Cerryl inginkan, barulah ia melepaskan tangannya.
Dalam hatinya, Wati masih belum memahami sikap Cerryl. Menurutnya sangat wajar seorang gadis merasakan dan mengenang moment kebahagian bersama kekasihnya. Namun setelah mendengar alasan Cerryl saat keduanya duduk dan berbincang di kamar Cerryl,barulah ia mengerti.
Wati semakin menaruh simpati dan menghargai sikap Cerryl. Kedewasaan Cerryl memang sudah sepantasnya terbentuk. Membuat Wati begitu ingin bisa seperti Cerryl.
Mentari sudah mulai meninggi. Cerryl sudah bersiap-siap untuk pergi ke tempat usahanya. Setelah sebelumnya, tiga pegawai perempuannya telah berangkat lebih dulu. Sementara Wati sedang sibuk dengan gelas dan piring bekas sarapan mereka pagi tadi.
"Wati,,,aku berangkat ya,,,!"
Ucap Cerryl sambil melambaikan tangan dari ruang tamu. Wati pun membalas dengan lambaian tangan karena percuma saja bersuara, Cerryl telah berada di teras depan saat ia mendengar dan menoleh. Membuat senyum tipis dengan kepala menggeleng geleng melihat sikap bos mudanya itu.
Di tempat kerjanya, Hadi sudah terlihat serius memperhatikan sebuah berkas yang sedang dibacanya. Dari kejauhan Christine memperhatikan Hadi sambil tersenyum. Ia pun merasa belakangan ini Hadi tampak lebih bersemangat dalam mengerjakan semua tugas kantornya.
"Semoga Cerryl bisa terus membuatnya bangkit dan mengubur masa lalunya yang kelam" Bisiknya.
Awalnya Christine begitu berat menerima kenyataan itu. Ia telah melakukan banyak hal untuk bisa melepaskan Hadi dari bayangan masa lalunya. Walaupun harus berpura-pura setuju dan mendukungnya saat Hadi diperkenalkan dengan seorang gadis yang tak lain adalah anak dari salah satu direksi di perusahaan mereka.
Hatinya sengaja dibalut dengan tebal agar tidak terluka saat menyaksikan Hadi dan gadis itu bertemu di suatu tempat yang telah disepakati. Dari kejauhan Christine seringkali bergumam saat gadis itu dengan agresif mencoba tuk meraih simpati Hadi.
Namun hasilnya tetap sama. Dinding es tebal yang menyelimuti hati Hadi tidak bisa mencair begitu saja. Membuat Christine sedikit lega karena bisa terus dekat dengannya walaupun hanya sebatas teman, seperti yang pernah diucapkan Hadi saat Christine berusaha untuk mendekatinya.
Tapi begitu mengenal Cerryl, Hadi seperti telah menemukan kembali jalan untuk keluar dari Kungkungan hatinya yang telah lama mengurungnya dalam kenangan pahit masa lalu. Membuat Christine iri karena merasa tidak adil. Ia yang berusaha keras tuk mendekati dan mendapatkan tempat di hatinya, harus menerima kenyataan pahit. Karena tiba-tiba tinggi dan tebalnya gunung es di hati Hadi mencair begitu saja setelah bertemu dengan Cerryl.
Tapi akhirnya, Christine sadar dan mengerti bahwasanya perasaan itu tidak memaksa dan dipaksakan. Sejatinya harus mengalir begitu saja tanpa bisa dibendung dan dihalangi. Terus mengalir hingga menemukan dan bermuara di satu tempat dengan sendirinya.
__ADS_1
Sesaat ia melihat hadi tersenyum saat secara kebetulan Hadi menoleh dan berpapasan pandang. Hal itu sudah membuatnya bahagia. Hingga ia pun menyadari kembali, bahwa melihat orang yang kita sayangi tersenyum bahagia, sudah merupakan kebahagiaan terbesar tuk perasaan kita.
Ya, menyayangi dan mencintai seseorang bukan berarti harus dengan memilikinya. Karena intinya kita hanya ingin memberikan kebahagiaan kepada orang itu. Jadi bila ia telah merasakan hal itu, Christine dengan ikhlas harus bisa melepaskannya. Terlebih Hadi menemukan kebahagiaannya bukan dengan orang lain, melainkan adik kandungnya sendiri.