Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Menjenguk Johan


__ADS_3

Cerryl mengambil beberapa bungkusan dari dalam mobilnya. Setelah menutup dan menguncinya, ia pun naik ke dalam rumah Johan. Sambil membawa beberapa bungkusan, Cerryl menapaki anak tangga. Maklum, rumah Johan memang didesain seperti rumah panggung. Jadi harus naik bila ingin masuk ke dalam rumah.


Bagian bawah dibiarkan terbuka dan dijadikan kolam ikan lengkap dengan ornamen yang mendukung sirkulasi dan filter airnya berbentuk air terjun mini. Dimana airnya tidak langsung jatuh ke permukaan kolam, tapi meluncur melalui deretan pohon kecil dan rerumputan yang diletakkan di atas bebatuan berkelok kelok,baru jatuh melalui celah yang sengaja dibuat melintang di atas kolam itu.


Saat hendak mengetuk pintu, bersamaan dengan Hadi yang berniat keluar dan membuka pintunya.


"Eh, Maaf,,, " ujar Hadi terkejut. Hampir saja keduanya bertabrakan.


"E,,, Ya,,, sama-sama" jawab Cerryl gugup.


Entah kenapa, dalam kondisi normal Cerryl selalu saja gugup bila bertemu dengan Hadi.


"Jo,,, han. Ada kak? " tanya Cerryl basa-basi.


"Sepertinya tadi pergi,,, " jawab Hadi.


"Hah,,,!!! " Cerryl melongo.


Hadi hanya tersenyum kecil melihat tingkah Cerryl. Rupanya pemuda itu sedang menjahili Cerryl. Karuan saja Cerryl langsung tersipu malu. Menunduk agar rona merah semu wajahnya tidak terlihat Hadi.


"Ternyata kamu lucu juga ya. Hahahaha,,, mana ada orang dengan kondisi seperti kemarin bisa keluar rumah sendirian? Hahahaha,,, "


Cerryl semakin malu mendengarnya. Hatinya serasa ada sesuatu yang sedang bergelayut di sana. Tiba-tiba...


"Auw,,, "teriak Hadi sambil meringis.


Entah apa yang ada dalam pikiran Cerryl saat itu, tanpa sadar ia begitu saja melayangkan cubitan kecil di perut Hadi. Namun dengan cepat ia pun buru-buru menarik kembali tangan kanannya dan disembunyikan di balik pinggangnya.


"Ma,,, Maaf, kak!" ujarnya cepat terbata sambil setengah membungkuk dan,,, DUGH!!!


Lagi lagi Cerryl seperti salah tingkah. Kali ini kepalanya menghantam ringan dada bidang Hadi tanpa sengaja. Karena saat membungkuk tadi, ia tidak tahu kalau hendak melangkah maju untuk keluar.

__ADS_1


"Hah,,,!!! " Cerryl benar-benar malu dan segera menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia pun hanya bisa diam dan pasrah. Menunggu respon Hadi.


Dalam hati, Cerryl mengumpat dan menggerutu karena ia telah mempermalukan diri sendiri di depan orang yang telah mengganggu pikirannya.


"Hahahaha,,," Hadi pun tertawa melihatnya.


Johan tiba-tiba sudah berdiri di belakang Hadi. Karena sedari tadi ia mendengar dan melihat kakaknya sedang berbicara dengan seseorang yang dari suaranya tidak asing lagi.


"Benar kan,,, " ucap Johan saat melihat Cerryl yang baru saja membuka kedua telapak tangan dari wajahnya, karena kaget dan heran mendengar Hadi yang tertawa.


Cerryl belum memperhatikan kehadiran Johan. Ia masih memikirkan apa yang ditertawakan Hadi, dan kenapa ia tertawa.


"Oke, kalau begitu aku pergi dulu. Takut terlambat" ujar Hadi sambil menepuk bahu Cerryl.


Tentu saja sikap Hadi membuat Cerryl untuk kesekian kalinya jadi salah tingkah. Dari awal pertemuan mereka, baru kali itu Hadi menyentuh bahunya dengan lembut.


"Stop,,, tolong Cerryl, kamu jangan lagi permalukan dirimu sendiri. Okey,,, " bisiknya dalam hati.


"Jo, awas jangan dekat-dekat dulu sama cewek ini, kalau tidak,,, bisa tambah lukamu" bisiknya agak keras kepada Johan. Agar Cerryl mendengarnya.


Hadi pun pamit meninggalkan Cerryl dan Johan yang masih berdiri di pintu. Berjalan ke arah anak tangga dan sebentar saja sudah berada di atas sepeda motornya, lalu menghilang.


Sementara, Johan yang masih belum mengerti dengan semua kejadian itu hanya bisa menurut saat Cerryl membimbingnya ke arah kursi teras.


"Bagaimana lukamu? "


"Lumayan"


"Oh ya. Tadi Vivi titip salam, mungkin malam nanti baru bisa kesini"


"Ouh, ngga apa-apa kok. Lagian aku juga ngga mau ngerepoti kalian. Aku sudah berterima kasih karena kalian sudah ikut menolongku kemarin"

__ADS_1


Keduanya pun larut dalam obrolan ringan. Diselingi canda tawa sambil menikmati cemilan yang dibawa Cerryl. Memang keduanya sudah dekat dibandingkan dengan sahabatnya yang lain. Inilah yang membuat Lina sempat cemburu karena mengira kalau ada hubungan khusus antara Cerryl dengan Johan.


Bukan tanpa alasan, Lina tahu kalau Johan sudah menyukai Cerryl sebelum menjadi kekasihnya. Tapi saat itu Cerryl masih belum mau terikat dengan suatu hubungan. Jadi tidak bisa menerima ungkapan rasa Johan. Cerryl masih terlalu sibuk dengan kegiatan juga belajar bisnis dari ibunya.


Namun begitu, Johan bisa menerima keputusan Cerryl dan sepakat untuk menjadi sahabat. Ya,,, sebatas sahabat, tidak boleh lebih.


Menjelang sore Cerryl pamit untuk mengurusi coffee shop juga minimarketnya. Dalam perjalanan, ia teringat kembali kejadian memalukan itu. Cerryl pun kembali mengumpat dalam hati.


"Aduh, pasti nanti kak Hadi akan cerita sama kak Cristine. Huh,,, habislah aku,,, "


Sambil mengemudi, Cerryl membayangkan dirinya akan jadi bahan tertawaan saat berada di rumah nanti.


"Kalau begitu, mending aku tidur di coffee shop aja. Telfon Sherly, beres,,, "


Akhirnya Cerryl pun sudah berada di parkiran depan minimarketnya. Setelah mengambil tas dan selembar undangan yang ia dapat dari Johan tadi, ia pun menuju mini market lebih dulu. Para pegawai pun menyambut Cerryl dengan senyuman sambil setengah membungkuk. Membuat Cerryl beberapa kali harus menghentikan langkah untuk membalasnya.


Setelah tiba di ruangan kaca, ia duduk dan melihat hasil laporan per tiga hari yang sudah terletak di atas mejanya. Dengan tenang ia membaca lembar demi lembarnya.


Setelah selesai, Cerryl membuka undangan itu. Membacanya dan menyandarkan kepalanya menempel dinding sebelah kiri gedung. Karena saat membacanya, ia sedikit mendorong kursinya merapat ke dinding.


"Hem,,, " desahnya sambil mengetuk-ngetuk pelan undangan itu ke keningnya.


Rupanya Cerryl diminta Johan untuk menggantikannya menjadi pendamping juniornya yang akan mengikuti event.


"Kamu dimana? aku tunggu di coffe shop"


Pesan Cerryl kepada Sherly. Ia pun meletakkan kembali hand phone ke dalam tas. Kemudian merapikan beberapa lembar kertas laporan. Tak lama ia pun sudah keluar dan menuju coffee shop.


Seperti di mini market, para pegawai pun memberi salam hormat dengan senyum dan sedikit membungkuk.


Sesampai di ruangannya, Cerryl segera merebahkan tubuhnya ke sofa. Mencoba memejamkan mata sambil menunggu kedatangan Sherly. Melupakan sesaat segala apa yang terjadi hari itu, termasuk hal yang membuat dirinya malu...

__ADS_1


Cerryl, si tomboy yang sensitif. Murah senyum dan mudah menemukan teman. Walaupun terkadang bisa menjadi liar dan buas saat berhadapan dengan lawan, ternyata memiliki jiwa dan perasaan yang sama layaknya gadis sebayanya. Bisa salah tingkah dan over acting saat berhadapan dengan orang yang sedang mengacaukan pikiran juga perasaannya.


Kurang dari 15 menit, Cerryl pun sudah terjatuh dalam mimpi. Dan entah sudah berapa lamanya ia terlelap hingga akhirnya Sherly pun membuyarkan semuanya.


__ADS_2