
Cerryl masih bermalas malasan di atas peraduannya. Walaupun sudah mendekati pukul tujuh pagi, gadis itu masih saja memeluk guling di bawah dekapan selimutnya.
Matanya menyudut ke sisi kanan atas, dahinya sedikit berkenyit. Bibirnya terkatup tapi bergerak gerak tak karuan.
"Bodohnya, aku. Kenapa juga masih memikirkan cowok itu" umpatnya dalam hati.
Rupanya ia sedang mengingat kejadian semalam.
"Ahh... "
Cerryl bangkit dan duduk, mengacak acak rambut dengan kedua tangannya. Ia terlihat begitu kesal, hingga bantal dan gulingnya pun sudah berserakan.
Bugh...
"Apa apaan sih?!" bentak Cristine.
Sebuah bantal melayang dan mengenai wajah Cristine saat gadis itu membuka pintu kamar Cerryl.
"Maaf, hi hi hi" senyum Cerryl.
Cristine mengambil bantal itu dan melemparnya ke arah adiknya itu. Tapi Cerryl dengan sigap memiringkan tubuhnya, menghindari bantal yang sedang meluncur ke arahnya. Lidahnya menjulur meledek kakaknya.
Karuan saja membuat Cristine jengkel karena lemparannya meleset, hanya mengenai sudut dinding kamar. Ia pun menghampiri adiknya. Sekejap saja keduanya sudah bergumul di atas peraduan Cerryl.
Memang diantara ke-empat bersaudara itu, hanya Cerryl dan Cristine yang sering terlibat konflik kakak beradik. Saling debat, ejek juga tak jarang usil. Tapi keduanya pun bisa menjadi tempat curhat yang baik. Saling berbagi dan mendengarkan keluh kesah masing masing.
Keduanya sudah terbaring saling berpelukan karena kelelahan. Seperti biasa Cerryl dapat menaklukkan kakaknya. Gadis itu memanjakan kepalanya di atas dada Cristine.
Begitulah Cerryl dan Cristine, walaupun kakak adik, tapi keduanya tampak seperti dua sahabat yang sangat akrab. Saling mengisi satu sama lain.
"Kak, semalam aku bertemu cowok"
Cerryl bangun dan duduk di samping kakaknya yang masih kelelahan saat mencoba meraih dan mengacak acak rambut adiknya. Namun tenaga Cerryl jauh lebih kuat. Dengan susah payah justru Cristine berusaha melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman Cerryl.
"Hem... " jawab Cristine.
Gadis itu menoleh ke arah adiknya. Kemudian ikut bangun dan duduk berhadapan. Tangannya sambil merapikan rambut panjangnya yang terurai karena jepit rambutnya terlepas saat meronta tadi.
"Ganteng sih, kak. Tapi sedikit dingin"
Cristine mengernyitkan dahinya. Ia sudah selesai menjepit kembali rambutnya. Kedua tangannya menempel bahu Cerryl.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Cristine.
"Itulah, kak... " ujar Cerryl.
Gadis itu tiba tiba menundukkan wajahnya. Rambut panjangnya pun terurai dan menutupi wajah lesunya menahan sesal dan kesal.
"Maksudnya?!" seru Cristine penasaran.
Meraih wajah adiknya setelah terlebih dulu menyingkap helaian rambut itu. Memandangi raut wajah sayu dan mencoba menunggu Cerryl memberikan penjelasan.
"Dia baik, karena sudah menolong Cerryl saat Bimo dan teman temannya mengeroyok Cerryl"
"Apa... !!"
Cristine melotot mendengar nama Bimo. Mantan kekasihnya sewaktu sekolah dulu. Mereka putus setelah Cerryl memergoki Bimo sedang bermesraan dengan gadis lain di rumah temannya.
Saat itu Cerryl berniat untuk menjenguk Mirna yang sakit di rumahnya. Karena sudah dua hari tidak ikut latihan, ia pun bersama anggota paskibra sekolah datang.
Tak disangka ia melihat Bimo sedang berciuman dengan Linda, di ruang belakang.
Karena itulah Bimo jengkel. Setelah kejadian itu Cristine memutuskan hubungan mereka. Begitu juga dengan Linda. Setelah ia tahu Bimo juga menjalin hubungan dengan gadis lain, ia pun memutuskannya pula.
Cerryl memang mempunyai ilmu bela diri yang cukup. Tapi untuk melawan Bimo, yang juga pernah menjadi seniornya, Cerryl tak akan bisa semudah itu. Terlebih ke-empat orang temannya itu ternyata dua diantaranya pernah menjadi lawan tanding Cerryl.
"Maafin kakak ya, gara gara kakak kamu jadi harus berurusan sama Bimo"
Kecut juga hati Caterine. Bagaimana pun Bimo pasti akan selalu mengejar Cerryl. Caterine sudah hafal karakter mantan kekasihnya itu.
"Ngga apa apa, kak. Tenang aja, lagian mereka pasti mengira kalau cowok itu adalah pacarku. Jadi mungkin Bimo akan berpikir dua kali untuk mengganggu lagi"
"Mudah mudahan begitu, Cerr... " harap Caterine.
"Oh iya, Reza ada di bawah!"
Caterine baru ingat kalau tujuan gadis itu untuk memberi tahu Cerryl bahwa Reza datang dan ingin bertemu.
"Reza ? mau apa dia sepagi ini?"
Caterine pergi meninggalkan adiknya. Tak perduli Cerryl mau menemui atau tidak. Gadis itu sudah tahu Cerryl sedang marah terhadap Reza.
Cerryl turun walau terpaksa. Bukan hanya untuk menemui Reza, tapi karena ingin meluapkan emosinya pula.
__ADS_1
"Masih berani kamu datang kemari!!"
Cerryl langsung mendamprat Reza yang sedang duduk di ruang tamu, begitu melihatnya. Padahal gadis itu masih meyisakan lima anak tangga lagi sebelum meginjak lantai dasar.
Pemuda itu pun terkejut dan menoleh ke arah sumber suara tadi.
"Kamu tau ?! Semalam aku hampir celaka dihajar orang. Gara gara kamu ngga jemput aku" bentak Cerryl saat sudah berada di hadapan pemuda itu.
"Maaf, semalam mami telfon begitu tau aku pergi" jelas Reza.
"Whats... !!!"
Ingin rasanya gadis itu menghajar Reza. Mendengar alasan yang sama sekali tidak bisa diterima dengan logikanya.
"Okey...sekarang lebih baik kamu pulang !" usir Cerryl.
"Karena aku sudah tidak kuat lagi menahan emosiku... " lanjutnya.
Reza terlihat gemetaran. Ia tak tahu harus berbuat apa.
"Ada apa, Cerr?"
Jeni menghampiri putrinya dan merangkul pundaknya.
Cerryl tidak menjawab. Ia langsung pergi meninggalkan ibunya bersama Reza di ruang tamu, kembali ke kamarnya. Sangat terlihat gadis itu sedang dalam puncak emosinya.
Brakkk... !!!
Cerryl melompat ke atas tempat tidurnya kembali setelah membanting pintu kamarnya.
Sementara Jeni sedang meminta penjelasan kepada Reza, mengapa Cerryl bisa bersikap seperti itu tadi. Reza pun mencoba menjelaskan kepada calon ibu mertuanya.
Sampai akhirnya Cristine datang menghampiri Jeni dan Reza.
"Lebih baik kamu menjauhi Cerryl sekarang. Karena aku ngga bisa jamin kamu masih bisa pulang apa ngga setelah dihajar Cerryl "
Ucap Cristine setengah berbisik kepada Reza. Membuat wajah pemuda seketika pucat pasi.
"Ha...ha... ha... "
Cristine pun berlalu sambil tertawa melihat perubahan wajah Reza. Jeni hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Cristine.
__ADS_1