Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Mimpi


__ADS_3

Cerryl masih terjaga,biarpun jarum jam telah menunjuk angka 2. Sherly yang notabenenya datang tuk menemani Cerryl,justru telah terbang dan terbuai oleh mimpi indahnya. Tak lagi pedulikan sahabatnya yang sedang gundah memikirkan hatinya.


Nyanyian serangga malam begitu terasa jelas saat Cerryl membuka jendela ruangannya. Semilir angin pun seketika datang menyapa, menyibak helai rambut yang sedikit menutupi kening Cerryl. Rembulan pun tersenyum saat melihat wajah penuh Cerryl.


Perlahan Cerryl menghirup dalam udara segar malam itu. Aroma aneka bunga juga dedaunan yang terbawa angin begitu menyegarkan pikirannya. Sedikit menutup matanya,Cerryl merasakan hatinya sedang terbuai oleh pesona rasa. Jiwanya begitu tenang dan lepas.


"Hemmm..."


Sambil merentangkan kedua tangannya,Cerryl menghembuskan nafas panjang perlahan. Seolah sedang membuang duka yang penuh sesak mengisi ruang hatinya.


Ya,gadis itu seperti tidak menghiraukan apa pun saat itu. Tak perduli ada beberapa pasang mata yang tidak sengaja menangkap ulahnya dari bawah sana saat melintas. Bahkan dari sudut pos security,ada dua pasang mata yang sedang memperhatikannya.


Cerryl masih tidak perduli. Baginya saat itu ia begitu menikmati perasaan hatinya. Membiarkan hembusan angin malam membelai dan mengusap lembut wajah juga helai rambutnya. Mempersilahkan nyanyian serangga malam membuai hatinya seolah sedang mendengarkan simfoni syahdu sang maestro.


"Non,,,!"


Tiba-tiba mata Cerryl sedikit terganggu oleh sorotan tajam lampu senter dari bawah sana yang tepat menyoroti wajahnya. Bersamaan dengan panggilan seseorang pemegang lampu senter itu.


"Apaan sih!?" gerutu Cerryl. Kedua telapak tangannya menyilang demi menghalagi sorot lampu itu.


"Maaf non..." seru orang di bawah sana. Perlahan segera mengalihkan arah senter dan mematikannya.


"Ada yang bisa saya bantu?" serunya lagi.


Cerryl memperhatikan sosok yang sedang berdiri tegap di bawah sana. Di bawah sinar lampu jalan,terlihat sosok familiar dengan seragam security.


"Ouh,tidak pak. Saya cuma sedikit mencari udara segar" seru Cerryl.

__ADS_1


"Iya,non. Kalau begitu saya lanjut patrolinya,non" segera setelah mengucapkan itu,pak Anton pun bergegas pergi.


"Iya,pak. Hati-hati" seru Cerryl.


Pak Anton tidak menjawab,hanya lambaian tangan dan senyuman kecil saat menoleh. Karena ia telah sedikit menjauh saat Cerryl mengucapkan kalimatnya. Dengan lampu senter juga sebuah handy talkie,pak Anton mengelilingi sekitar komplek ruko.


Cerryl pun menutup kembali jendela ruangannya. Berjalan kembali ke sofa panjangnya dan duduk. Di hadapannya,Sherly terlihat pulas di sofa lainnya. Dengan bantal panjang karakter lucu.


Hati Cerryl masih belum tenang. Kejadian di rumah Johan,juga moment pertemuannya dengan Hadi terus membayang dalam pikirannya. Seolah sedang mencari sesuatu dalam setiap gambaran itu.


"Hem,,," ia hanya bisa menghela nafas.


Malam semakin larut. Tak terasa kedua mata Cerryl pun perlahan mulai menutup. Dalam posisi terduduk,Cerryl pun terlelap sambil memeluk bantal bulat pipih.


"Kamu cantik sekali hari ini,,," puji seseorang yang sedang berdiri di hadapan Cerryl.


Ternyata rona kemerahan telah memancar dari wajah Cerryl saat mendengar pujian orang itu.Ia pun berkata singkat demi mengalihkan gejolak dalam hatinya sambil menunduk.


Sosok yang ternyata Hadi itu pun langsung meraih dan memegang kedua telapak tangan Cerryl yang menyilang berjuntai di hadapannya. Perlahan Hadi mengangkatnya mendekati wajah dan,,,


"Tidak perduli berapa lama juga lelahnya menunggu,melihat kehadiran kamu serasa semua baru saja terjadi" dengan lembutnya mengecup kedua tangan setelah mengucapkan kalimat itu.


Karuan saja rona merah di wajah Cerryl makin menjadi. Walaupun bisa menahan kedua tangannya agar tidak gemetar,namun jauh di dalam hatinya ada semacam kekuatan yang sedang menggetarkan jiwanya. Hingga kedua kakinya seolah tidak kuasa lagi tuk menopang tubuhnya yang sedang berdiri kaku di hadapan seseorang yang telah begitu banyak mengganggu pikirannya.


Tanpa menunggu reaksi Cerryl,Hadi langsung meraih dan melingkarkan tangan kirinya di tubuh Cerryl. Sedang tangan kanannya masih memegangi telapak tangan kanan Cerryl. Perlahan pemuda itu pun membimbing Cerryl berjalan masuk ke dalam.


Saat itu Cerryl bagaikan terhipnotis. Tangan kiri Hadi yang melingkar di tubuhnya bagaikan menghantarkan kehangatan. Terlebih di telapak tangan yang menempel dan memeluk erat pinggangnya. Dengan tenangnya ia mengikuti pemuda itu berjalan. Teramat kontras dengan suasana di dalam hatinya yang sedang berkecamuk,bergelora.

__ADS_1


Di kanan dan kiri jalan,aneka warna bunga bermekaran saat keduanya melintas. Seakan ikut merasakan dan memberikan keharuman dalam hati Cerryl. Langkah demi langkah berlalu,kuncup bunga pun telah bermekaran semuanya. Sampailah mereka di salah satu pondok. Seorang pelayan telah menanti mereka disana.


"Hati-hati,,," ucap Hadi saat membimbing Cerryl menaiki dua anak tangga sambil tetap memeluk tubuh dan memegangi tangan Cerryl.


Cerryl hanya melirik mendengar ucapan Hadi. Betapa sikapnya itu teramat lembut dan hangat dalam memperlakukan dirinya saat itu. Senyum pun mengembang di bibir lembut Cerryl.


Tanpa mereka sadari,beberapa pasang mata telah melihatnya. Menghadirkan senyum juga iri melihat begitu harmonisnya tingkah Hadi dan Cerryl. Berharap pasangan mereka yang telah lebih dulu tiba dan menikmati suasana juga hidangan di tempat itu,bisa seperti Hadi dan Cerryl.


Pondok bambu dengan desain indah dikelilingi aneka tanaman bunga,benar-benar tempat yang harmonis tuk para pasangan yang sedang dilanda asmara.


Cerryl begitu bahagianya. Matanya mengedar ke sekeliling. Mulai dari ornamen yang tergantung di atas setiap sisi pondok,kursi dan meja juga penataannya yang unik. Semuanya dari bahan bambu dan kayu yang telah dipoles juga di cat dengan apik.


Setelah itu,Cerryl melirik ke luar. Barisan batu alam yang tertata apik dan rapih menghubungkan gedung bangunan utama dengan pondok-pondok itu. Termasuk pondok yang saat itu ia tempati.


Hingga akhirnya,ia baru sadar kalau selama itu ia telah menjadi sorotan tajam beberapa pasang mata yang duduk di gedung utama juga pondok sekitar. Hatinya berdebaran. Seolah hari itu ia bagaikan seorang putri yang sedang bersanding dengan pangerannya di atas singgasana.


"Bangun,Cerr,,,bangun,,," tiba-tiba ia mendengar suara aneh. Suara yang begitu familiar di telinganya.


"Kenapa tiba-tiba ia ada disini? mengganggu saja,,," bisiknya lirih.


"Jam berapa ini,Cerr,,,sebentar lagi pegawaimu pasti akan membersihkan ruangan ini"


"Jam berapa? membersihkan ruangan ini?" suasana hati Cerryl jadi kacau. "Belum juga makan atau minum. Bahkan memesan pun belum. Kenapa tiba-tiba mau dibersihkan?" bertanya kesal dalam hati. "Pegawaiku!???"


Mata Cerryl membulat. Ia langsung menatap ke sekeliling ruangan. Pondok itu,taman itu, juga semua keindahan yang tadi ia lihat,semuanya berubah. Tinggalah sebuah ruangan dengan berbagai barang yang begitu lekat dalam ingatannya. Ruangannya di coffee shop.


Cerryl tertunduk lemas. Kedua telapak tangannya mengunci wajah kesal sambil bergumam.

__ADS_1


"Ouh,,,ternyata semua hanya mimpi,,,"


__ADS_2