Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Persiapan toko baru


__ADS_3

Jeni sudah selesai mengurus berkas berkas yang dibutuhkan. Cerryl menemani ibunya dalam proses penandatanganan kontrak untuk lima tahun ke depan.


"Terima kasih, bu. Semoga kerja sama ini akan terus berlanjut"


"Aamiin... "


Jeni pun membalas jabat tangan lelaki paruh baya itu dengan senyum hangatnya. Kemudian Cerryl pun ikut menyalaminya.


Setelah notaris membereskan semua berkas dan memberikan kontrak kerja sama itu kepada kedua belah pihak, Jeni pun pamit undur diri. Begitu pula dengan lelaki paruh baya itu.


Reza baru saja tiba saat Jeni, Cerryl dan lelaki paruh baya itu hendak memasuki mobil masing masing.


"Maaf, pih. Reza terlambat" sapa Reza.


Lelaki yang ternyata ayahnya Reza itu pun tersenyum. Ia tahu Reza hari itu sedang mengurus proyek pembangunan gedung perkantoran. Jadi lelaki itu memakluminya.


"Tidak apa apa, nak. Semua sudah beres kok"


Lelaki itu menepuk pundak Reza setelah Reza mencium tangannya sambil menyapanya tadi, mencoba menenangkan Reza. Yang saat itu terlihat merasa tidak enak hati karena tidak ikut proses penandatanganan kontrak itu.


Jeni dan Cerryl menyaksikan keduanya. Jeni sebenarnya menyukai jiwa bisnis pemuda itu, namun ia sedikit miris dengan sikapnya, yang tidak bisa tegas.


"Ayo, ma. Cerryl harus cepat ke sasana"


Cerryl pun masuk dan menghidupkan mesin mobilnya. Jeni ikut masuk. Cerryl pun keluar dari lokasi parkir gedung. Saat melewati Reza dan ayahnya, Cerryl tidak mengucapkan apa apa, hanya Jeni yang melambaikan tangan sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya. Reza dan lelaki itu membalas dengan membungkukkan badan.


Reza masih memandangi mobil yang dikemudikan Cerryl keluar dan menjauhi gedung itu, hingga akhirnya menghilang saat berbelok di perempatan sana.


"Sudahlah, nanti juga Cerryl akan baik lagi"


Bisik lelaki itu kepada Reza. Ia sudah tahu dari istrinya tentang pertengkaran Reza dengan Cerryl. Baginya itu adalah bumbu dan sudah biasa dalam membina suatu hubungan.


Reza hanya mengangguk lemas. Lelaki itu pun masuk ke dalam mobil setelah Reza mencium tangannya. Kemudian sang sopir pun sudah membawa tuannya pegi, meninggalkan Reza yang segera berjalan kembali ke arah mobilnya yang terparkir agak jauh dari tempat itu.


"Kamu belum berbaikan dengan Reza?"


Jeni memancing pembicaraan. Karena semenjak pergi dari kantor notaris itu, Cerryl terlihat diam dan acuh. Termasuk saat Reza mencoba untuk mendekati dan tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Belum, ma" jawabnya singkat.


"Mama mengerti, kok"


Jeni tidak berani meneruskannya. Ia lebih memilih untuk ikut diam dan membuka note booknya.


Cerryl memarkirkan mobilnya begitu tiba di sebuah mini market. Setelah itu, ia pun mengikuti Jeni masuk ke dalam ruangan di sisi mini market itu.


"Cerr, mama ingin kamu urus dengan baik toko itu. Mama yakin, kamu bisa mengembangkannya seperti Andra"


"Iya, ma"


Cerryl masih terbawa suasana. Gadis itu memang begitu. Walaupun sedikit tomboy, tapi perasaannya terlalu sensitif. Tidak bisa dengan mudah melupakan sesuatu bila sudah mengusik perasaannya.


Seorang pegawai wanita mengetuk pintu kaca ruangan itu dan memberi salam kepada Jeni juga Cerryl. Setelah itu menyerahkan sesuatu ke Jeni.


"Tolong kamu atur untuk menempatkan dua orang disana, agar bisa membimbing pegawai baru" ucap Jeni.


"Iya, bu" jawab pegawainya.


Jeni kembali melihat dan memeriksa beberapa berkas yang diserahkan pegawainya itu.


"Siapa yang akan memberikan training pegawai baru?" tiba tiba Cerryl ikut bicara.


Jeni dan pegawai yang nota bene sebagai pengawas yang bertanggung jawab di mini market itu pun menoleh ke arah Cerryl yang duduk menyudut di sofa.


"Saya sudah meminta Hasan untuk mentraining bagian gudang. Wati bagian operasional, bu" jelas pegawai itu.


Cerryl memandang Jeni dan pegawai itu. Kemudian gadis itu pun berdiri menghampiri mereka yang duduk berhadapan bersekat meja kaca.


"Ma, biar Cerryl yang urus training mereka. Karena Cerryl besok libur, ma"


Jeni menatap putrinya. Mencoba mencari sebuah keyakinan dari balik sorot mata Cerryl.


"Baiklah... kalau begitu kamu harus datang lebih awal. Karena mama ingin lusa sudah siap untuk membuka cabang disana"


"Jangan kwatir, ma... Cerryl ngga pernah mengecewakan mama, kan?"

__ADS_1


Jeni tersenyum puas. Melihat kesungguhan dan keinginannya untuk ikut terjun dalam bisnis itu. Dari ke-empat putrinya, hanya Andra, si sulung dan Cerryl yang memiliki jiwa bisnis sepertinya. Christine mengikuti jejak ayahnya meniti karier di sebuah perusahaan besar. Gadis itu berambisi menjadi manager seperti ayahnya. Sedangkan Astrid masih sibuk dengan kuliahnya. Belum ada terlihat kemana ia akan menentukan masa depannya.


Pegawai itu pun pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara, Jeni dan Cerryl disibukkan dengan urusan masing masing.


"Tadi kamu bilang mau ke sasana, Cerr"


"Ngga jadi, ma. Cerryl sudah izin ngga ikut ngajar ma"


"Lho, kenapa?"


"Cerryl terlanjur bad mood tadi"


"Ouh... "


Jeni kembali dengan note booknya. Perempuan itu tidak ingin membahas masalah di tempat parkir kantor notaris tadi, takut menghilangkan mood putrinya yang sedang antusias dalam perencanaan toko barunya itu.


"Ma..." seru Cerryl tiba tiba.


"Kenapa, sayang?"


Jeni menoleh ke arah putrinya. Jari jemarinya masih berada di atas keyboard note booknya.


"Cerryl mau buka coffee shop di sebelah ruko itu" ujar Cerryl lirih.


"Apa?!!!"


Jeni memutar kursinya menghadap Cerryl. Perempuan itu begitu terkejut mendengar kalimat Cerryl. Bukan karena takut akan mengganggu konsentrasi Cerryl yang akan baru memulai mengelola mini marker cabang, tapi lebih kepada takjub karena ternyata Cerryl sudah lebih jauh dari pikiran perempuan itu.


Cerryl bingung mendapati ibunya yang terdiam saat memperhatikan gadis itu. Ia mengira kalau Jeni akan marah karena tidak menyetujui rencananya itu. Gadis itu pun tertunduk lesu seakan menyesali perkataannya, yang telah membuat kecewa ibunya.


"Apa mama tidak salah dengar, sayang?!"


Jeni sudah bangkit dan berdiri di hadapan Cerryl yang terduduk lesu di sofa. Diangkat wajah gadis itu perlahan.


"Mama bangga sekali, sayang. Mama akan mendukung rencana kamu... "


Jeni membungkuk dan memeluk Cerryl. Cerryl tersentak, tidak menyangka kalau ibunya justru menanggapi rencananya itu. Ia pun membalas pelukan Jeni. Keduanya hanyut dalam haru.

__ADS_1


__ADS_2