
Mentari sudah mulai meninggi saat Cerryl keluar dari mobilnya. Sambutan sinar mentari begitu terasa mencubit cubit kecil sebagian wajahnya. Setengah berlari, Cerryl bergegas masuk ke dalam mini marketnya.
"Selamat siang,bu" sapa para pegawainya yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Selamat siang... " balasnya ramah.
Sebenarnya gadis itu merasa risih bila dipanggil, bu. Secara ia masih lajang. Jangankan suami, kekasih pun belum ada. Namun etika tetap etika, yang mau tidak mau harus dituruti.
Memasuki ruangan kaca, gadis itu disambut oleh pengawas yang sedang memeriksa beberapa laporan dan jadwal kerja.
"Selamat siang, bu" salam pegawai itu.
"Selamat siang... " jawab Cerryl.
Gadis itu pun meletakkan tas kecilnya di meja, kemudian duduk dan langsung membuka sebuah map yang telah disodorkan pengawas itu. Lembar demi Cerryl membaca isi map itu. Tak lama ia pun mengambil pena dan membubuhkan tanda tangan di lembar terakhir.
"Oke, yang ini kamu sampaikan ke bagian gudang. Lalu untuk cash box, seperti biasa kamu antarkan ke ruangan saya di coffee shop"
"Siap, bu. Kalau begitu saya permisi dulu, bu"
Pengawas itu pun undur diri untuk menemui bagian gudang. Setelah itu, ia kembali ke dalam ruang operasional guna memantau segala sesuatunya.
Cerryl masih duduk di dalam ruangan kaca. Gadis itu belum beranjak, rupanya ia telah mengingat siapa pemuda yang dikenalkan Cristine waktu itu.
"Ya... pasti dia. Aku baru ingat sekarang... "
Cerryl menarik kedua sudut bibirnya sambil sedikit memiringkan posisi kepala saat wajahnya menatap langit langit dalam ruangan itu. Kedua tangannya melipat berlawan arah dan menyilang di dadanya. Kedua telapak tangan saling memegangi lengan. Telapak tangan kanan memegang lengan kiri dan telapak tangan kiri memegang lengan kanan.
Membayangkan wajah tampan pemuda yang telah menolongnya dari gangguan Bimo CS. Juga sudi mengantarnya pulang ke rumah. Senyum lebarnya terlihat jelas oleh seorang pegawai yang kebetulan melewati ruangan itu.
__ADS_1
"Tapi... "
Tiba tiba Cerryl bangkit dan menurunkan lipatan kedua tangannya.
"Kenapa dia bersama kakakku...?"
Senyum lebar yang tadi terlihat dari wajahnya, kini berbalik menjadi murung. Kedua bahunya turun hingga kedua tanggannya jatuh menjuntai seperti kehilangan daya. Kepalanya tertunduk lesu menatap lantai.
"Apa dia pacar kak Cristine ? ups... !"
Gadis itu membulatkan kedua matanya. Tangan kanannya dengan cepat menutup mulut yang tadi ikut terbuka lebar karena terkejut, membayangkan jika pemuda itu benar benar kekasih Cristine.
Cerryl terduduk lemah tak berdaya. Kegembiraannya karena telah dapat bertemu dengan pemuda itu sirna seketika. Bagaimana tidak, semula ia bahagia karena Cristine telah mempertemukannya dengan sosok yang ia khayalkan. Ia yakin kakaknya bisa mempertemukannya lagi suatu saat. Tapi, begitu membayangkan jika pemuda itu adalah kekasih kakaknya, pupus sudah kuncup bunga di hatinya. Jatuh beradu bersama dedaunan kering sebelum mekar.
"Kamu kenapa, Cerr?" sapa Sherly.
Sherly sudah menunggunya sejak siang. Begitu melihat sahabatnya datang, gadis itu pun segera beranjak dari sofa tempatnya berbaring menunggu tadi. Berdiri dan menghampiri Cerryl yang datang dengan wajah lusuhnya.
Sherly menggoyang goyangkan tubuh Cerryl karena sahabatnya itu belum menjawab pertanyaannya. Ia merasa ada sesuatu yang telah mengganggu perasaan Cerryl. Dengan sigap gadis itu pun memeluk sahabatnya.
Sherly paham betul jika saat itu sahabatnya pasti sedang dirundung kepiluan. Sebagai sahabat, ia sudah mengenal watak dan sifatnya. Memeluknya erat tanpa berkata kata. Berharap bisa sedikit memberikan ketenangan kepada sahabatnya itu.
Seperti biasa, Cerryl tiba tiba membalas dan memeluk erat sekali tubuh Sherly. Isaknya pun pecah dan tumpahan air mata Cerryl telah membasahi sebagian baju Sherly. Sherly masih diam. Membiarkan sahabatnya itu menumpahkan sebentuk kesedihan di dadanya. Tangannya mengusap usap rambut Cerryl dengan lembut.
Kedua sahabat itu masih larut dalam kebisuan. Hanya isak tangis Cerryl yang terdengar sesegukan dari balik wajah yang dibenamkan ke dada Sherly. Hingga akhirnya Cerryl pun sudah bisa mengendalikan diri dan perlahan melepaskan pelukannya yang diikuti Sherly. Keduanya pun duduk.
Sherly memberikan kotak tissue kepada Cerryl. Kemudian berdiri dan keluar ruangan. Saat berpapasan dengan salah seorang pegawai yang hendak mengambil sesuatu di ruang penyimpanan, gadis itu pun memintanya untuk mengantarkan minuman untuknya dan Cerryl.
"Ada apa sih, Cerr... "
__ADS_1
Ucap Sherly hati hati saat ia sudah kembali masuk ruangan kantor dan mendapati Cerryl sudah duduk dengan tenang setelah merapihkan rambutnya.
Cerryl menarik nafasnya dalam dalam. Menghembuskannya perlahan dan kembali mengulang sampai tiga kali. Itulah cara Cerryl untuk dapat kembali tenang. Cara yang sering dilakukan setiap kali selesai latihan.
"Cowok itu... " ucapnya lirih.
"Cowok yang mana... " jawab Sherly santai.
Gadis itu tidak ingin merusak mood sahabatnya lagi. Ia hanya mengikuti irama ucapan Cerryl.
"Cowok yang waktu sudah menolong dan mengantarku pulang" lanjut Cerryl.
"Ouh, itu... " ucap Sherly masih santai.
"Kemarin dia datang kesini..."
"Whats... !" teriak Sherly.
Kali ini gadis itu tidak bisa mengendalikan diri. Secepat kilat ia mendekat dengan duduk berjongkok di hadapan Cerryl. Kedua tangannya memegangi kedua tangan Cerryl yang berada di pangkuan sahabatnya itu. Entah mengapa sepertinya Sherly ingin Cerryl cepat cepat menjelaskan dan meneruskan ceritanya.
Cerryl sempat terkejut dengan ulah sahabatnya itu. Tapi ia maklum karena pastinya Sherly mengira bahwa sudah terjadi keributan antara pemuda itu dengan Cerryl.
Mau tidak mau, Cerryl pun harus menjelaskannya. Agar Sherly tidak salah faham. Bagaimanapun juga Cerryl tidak ingin pemuda yang telah berhasil menarik hatinya itu, diusik oleh Sherly.
Ya, Sherly memang terkenal dengan ulahnya yang dengan banyak cara bisa membalaskan sakit hati sahabat sahabatnya. Gadis itu terlihat biasa dan anggun. Bahkan lebih anggun dari Cerryl juga sahabatnya yang lain. Tapi jika sudah berani mengusik perasaannya, ia akan berubah sadis dan kejam. Bukan dengan adu fisik atau kekerasan, tapi dengan mempermalukan orang itu sampai tidak berdaya.
"Katakan, Cerr... akan aku buat dia malu seumur hidupnya...!"
Benar saja, gadis itu sudah bernafsu untuk memulai aksinya. Sorot tajam matanya menusuk dalam mencari kalimat Cerryl.
__ADS_1
"Hahahaha... !!!"
Cerryl tertawa terpingkal pingkal melihat ulah sahabatnya itu. Hingga ia harus memegangi perutnya karena sedikit kaku menahan tawanya. Sherly tersentak. Gadis itu dibuat bingung dengan sikap Cerryl yang tiba tiba tertawa tapi ditahan. Sherly hanya bisa menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, menyaksikan tingkah sahabatnya itu.