Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Pertarungan brutal


__ADS_3

Entah sudah berapa jurus yang dikeluarkan. Namun Bimo masih belum bisa membuat Cerryl terjatuh atau setidaknya mendaratkan pukulan yang telak. Selalu saja Cerryl bisa menghela dan menghempaskannya. Sesekali pukulan dan tendangan Bimo hanya menyentuh ruang hampa karena Cerryl bisa menghindar dengan cepat.


"Ternyata masih lemah seperti dulu,,,"


Kembali ucapan Cerryl membuat Bimo semakin menaikkan intens serangan secara membabi buta. Ucapan Cerryl telah mampu memancing emosi Bimo. Membuatnya hilang kendali dan,,,


Bough,,,!!!


Tendangan kiri Cerryl menghantam sisi kanan tubuh Bimo. Sejenak Bimo meringis dan memegangi bagian kanan pinggang atasnya setelah terhuyung. Rupanya Cerryl memanfaatkan kelemahan Bimo. Karena emosinya,Bimo menyerang terus tanpa memikirkan pertahanan dari serangan balik. Cerryl yang melihat itu. Saat Bimo berusaha memukulnya,dengan cepat Cerryl menghela tangan Bimo ke kanan. Dengan kondisi itu otomatis ada celah terbuka di bagian kanan Bimo. Tanpa menunggu, kaki kiri Cerryl melayang dari arah belakang dan menyapu bagian pinggang atas Bimo.


Melihat kejadian itu,ke-empat orang yang tadi tersungkur mulai bangkit setelah merasa mempunyai tenaga lagi. Dengan gerakan mata dari Bimo,mereka langsung menerjang Cerryl bergantian.


Awalnya Cerryl sedikit terkejut dan agak kewalahan menghela dan membalas pukulan juga tendangan mereka yang datang bergantian.Namun kesigapan dan ketenangannya mampu mengatasi semua itu.


Namun naas,,,


Tiba-tiba tendangan keras Bimo mendarat dari arah belakang mengenai punggung Cerryl. Tubuh gadis itu pun tersungkur mencium alas beton ruang parkir.


Saat Bimo hendak maju dan melanjutkan pukulan ke arah wajah Cerryl yang baru saja ingin bangkit dan berbalik,tiba-tiba kedua lengannya ditahan seorang security dan petugas parkir.


Bimo berbalik dan dengan cepat menghajar keduanya hingga terjatuh. Wajah security nampak lebam,sedangkan petugas parkir mengalami patah di hidungnya dan mengeluarkan cairan merah kental.


Perlahan Bimo melihat sekeliling. Kerumunan orang telah berdiri di sekitar area parkir. Di kejauhan,tiga orang security sedang berlari menuju ke mereka. Dengan tongkat hitam menghunus ke atas,ke tiganya mencoba memperingatkan.


Tanpa basa basi,Bimo mengisyaratkan untuk segera pergi. Ke-empat orang itu pun segera berlari mengikuti Bimo yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu.


"Dasar banci,,,! cuih,,,!"


Cerryl meludahkan sedikit darah dari mulutnya saat melihat Bimo CS lari seperti kucing tersiram air. Sambil duduk ia menyeka sisa darah dari bibirnya.


Christine segera berlari dan memeluk Cerryl. Ia teramat takut dan khawatir dengan keadaan adiknya itu.

__ADS_1


"Kamu terluka,,,sakit?" tangannya memegangi wajah Cerryl. Matanya mengamati ke seluruh bagian tubuh Cerryl.


Dua orang security segera menghampiri dan ingin nembantu Cerryl berdiri. Namun tangan Cerryl dengan cepat mengisyaratkan kalau ia masih bisa bangkit dan berdiri sendiri. Sedang seorang lagi menghampiri petugas parkir yang tangannya masih memegangi bagian hidungnya sambil merintih kesakitan.


Di ruang security,petugas parkir telah mendapatkan pertolongan pertama dan menunggu mobil ambulance datang menjemput. Sementara Cerryl,setelah memberikan informasi yang mereka butuhkan,bergegas pergi dan pulang ke rumah.


Nyeri di punggung akibat tendangan Bimo sudah mulai hilang. Hanya luka di bibir Cerryl masih terlihat. Christine berinisiatif tuk duduk di belakang kemudi. Dengan sedikit perdebatan,Cerryl pun mengalah. Sekejap mobil itu pun sudah pergi meninggalkan area parkir dan menyatu dengan keramaian lalu lintas.


Sepanjang perjalanan,Christine terus saja melirik ke arah Cerryl. Membayangkan kalau saja ia yang terkena tendangan dan tersungkur tadi,mungkin saat ini ia tidak mungkin bisa duduk tenang. Cerryl terlihat seolah olah tidak terjadi sesuatu apa pun tadi. Tidak ada keluhan atau rintihan sakit sedikit pun.


"Kak,tolong sesampainya di rumah,jangan bicarakan kejadian ini" pinta Cerryl.


Christine hanya mengangguk. Ia sudah hafal bagaimana watak adiknya yang satu ini.


"Untung tidak rusak,,," gumam Cerryl.


Kening Christine mengkerut. Di saat seperti ini,Cerryl masih bisa mengkhawatirkan tas itu. Bahkan luka di bibirnya sepertinya tidak dihiraukan. Christine menggeleng-gelengkan kepalanya.


Buru-buru Cerryl membuka dan mengambil tas itu. Diperhatikan lagi sambil senyam senyum sendiri duduk di atas ranjangnya sambil mengangkat tas yang baru dibelinya itu.


"Akhirnya,,," bisik Cerryl dalam hati.


Perlahan dipeluknya tas itu sambil berbaring.


Sementara di kamar lain,Christine sedang mengirimkan pesan melalui ponselnya. Ia masih khawatir kalau Bimo masih akan berbuat hal yang seperti itu lagi. Untuk itulah ia mencoba memberitahu kejadian ke Hadi.


Malam hari,udara terasa dingin. Sisa air hujan sore itu masih ada yang menggenang di sebagian jalan juga area parkir sasana ilmu beladiri itu.


Sesosok pria sedang berdiri bersandar pada sebuah pohon seberang area parkir dekat pintu masuk sasana. kepulan cincin asap bergulung-gulung keluar dari mulut pria itu. Entah sudah berapa lama ia disana. Ada beberapa puntung rokok tersebar di sekitar tempat ia berdiri.


Sekitar pukul 21.30,satu persatu keluar anak-anak muda dengan membawa tas di punggungnya. Wajah kelelahan terpancar disana. Suara sepeda motor pun perlahan mulai terdengar bersahutan sebentar dan menghilang.

__ADS_1


Setelah itu keluarlah lima orang secara bersamaan. Sepertinya mereka belum berencana untuk cepat pergi dan pulang. Berbincang berkerumun sambil berdiri diam di depan pintu masuk.


"Besok kalian awasi lagi. Aku masih belum puas menghajarnya" gumam seseorang yang ternyata Bimo kepada empat orang itu.


"Ehem,,,"


Tiba-tiba pria yang sedari tadi berdiri bersandar di pohon datang menghampiri.


"Apa kalian tidak malu?" ucap pria itu lagi.


Sepertinya ia sedang menyindir Bimo CS. Terdengar dari ucapannya yang begitu dalam mengena dan menanggapi ucapan Bimo tadi.


"Hey,apa maksudmu!?" balas Bimo sambil menoleh ke arah suara itu.


Merek langsung bersiaga. Tanpa komando Bimo,ke-empat orang itu segera menyebar mengelilingi pria itu.


Sekilas Bima melihat wajah samar menunduk yang sedang berdiri di hadapannya.


"Ternyata kalian ini masih belum kapok juga" ucap pria itu sambil terus menunduk dan memainkan sebatang rokok yang masih terbakar.


"Apa masih sanggup melawanku?sedangkan lawan wanita saja sudah babak belur. Main keroyok lagi. Hahaha,,,"


Pria itu tertawa lepas dan mengangkat wajahnya. Sekilas ada kerutan tercipta di kening Bimo saat matanya menangkap wajah pria dengan jelas. Namun seketika amarahnya bergolak. Sifat asli dari Bimo yang juga merupakan titik kelemahannya juga keluar.


"Baguslah,jadi aku tidak perlu susah payah mencarimu" ucap Bimo sinis. " Serang,,,!!!"


Sekejap ke-empat orang itu menyergap pria yang ternyata adalah Hadi. Bimo pun tidak tinggal diam. Justru ia yang lebih antusias untuk menyerang Hadi. Karena bagaimana pun ia masih menyimpan dendam saat ia dipermalukan di halte waktu itu.


Hadi dengan tenangnya hanya menghindar dan menghela serangan mereka. Walau pun sama-sama memiliki kemampuan ilmu beladiri,tapi teknik Hadi jauh di atas mereka. Terlebih saat itu mereka sedang dikuasai emosi. Jadi tidak bisa fokus dalam menyerang juga bertahan. Pukulan dan tendangan mereka jadi tidak memiliki kekuatan penuh dan terasa mengambang. Serangan itu terkesan asal dan brutal.


Hingga akhirnya Hadi tidak mau berlama-lama bermain dengan mereka. Dengan setengah saja kekuatannya,ke-lima orang itu telah terkapar tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2