Cinta Yang Terhalang

Cinta Yang Terhalang
Hari bahagia


__ADS_3

Lepas shalat Maghrib,Hadi duduk di teras rumahnya. Masih mengenakan sarung dan kemeja Koko,ia duduk di sudut sambil menikmati asap rokok putihnya.


Kedua tangannya merentang di sandaran kursi panjang. Sementara kaki kanannya diangkat dan menyilang di atas kaki kirinya.


Sekilas ia mendengar kembali ucapan Sherly di telepon saat menggoda Cerryl. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Hadi mencoba tuk menarik benang merah dari kejadian itu.


Pikirannya tertuju pada sosok Cerryl. Seorang gadis yang di awal pertemuan mereka tidak meninggalkan sesuatu yang istimewa di hati Hadi. Namun seiring berjalan waktu,pertemuan demi pertemuan membuat Hadi merasa ada sesuatu yang ia rasakan. Terlebih setelah Cerryl menceritakan satu kejadian yang hampir sama dengan mimpinya.


"Benar juga,,,kenapa aku sudah berani bilang kalau saat itu aku mengajaknya kencan? padahal aku belum pernah sekalipun mengutarakan isi hatiku. Apalagi tuk meminta dia jadi kekasihku"


Hadi sadar. Ucapan Sherly telah mengingatkan dirinya atas status apa yang terjalin antara dia dan Cerryl,hingga berani mengatakan kalau saat dia mengajak Cerryl ke pondok itu adalah sebuah kencan.


Hadi tersenyum saat membayangkan kejadian di pondok itu. Begitu tenang dan santai walau sedikit bingung dengan beberapa kejadian aneh yang menurutnya saat itu tidak masuk akal.


"Kak,,,belum jalan? katanya ada janji?"


Tiba-tiba Johan muncul di ujung anak tangga. Sambil menghampiri Hadi dan mencium tangannya,Johan mengamati sikap dan tingkah kakaknya yang menurutnya agak aneh saat itu.


"Iya,sebentar kakak jalan"


Hadi pun bangkit setelah mematikan rokok di asbak. Melangkah menuju kamarnya dan segera berganti pakaian. Johan pun ikut masuk dan langsung mengambil air wudhu. Sebenarnya ia berniat mampir ke masjid saat mendengar adzan di perjalanan. Tapi karena sebagian celananya terkena cipratan genangan air hujan di jalan,ia pun memutuskan untuk shalat di rumah.


"Jo,,,kakak berangkat ya"


Ucap Hadi saat melihat adiknya sedang menyiapkan sajadah.


"Titipan kamu kakak taruh di atas rak dekat jendela"


"Iya,kak. Hati-hati" sahut Johan.


Hadi pun melangkah pergi menuruni anak tangga setelah mengucapkan salam. Dengan pakaian biasa namun rapih,ia bersiap tuk pergi ke tempat dimana ia telah menjanjikan sesuatu sore tadi. Sebentar saja,sepeda motor kesayangan sudah membawa Hadi melintasi keramaian jalan kota yang sedang padat.


Sementara Christine sudah berusaha keras tuk mengumpulkan keberanian saat menghadapi Hadi yang sebentar lagi akan menjadi calon adik iparnya. Berbeda dengan Cerryl yang masih belum percaya kalau ia dan Hadi telah menjadi pasangan kekasih.


"Apakah malam ini malam yang istimewa? apakah benar malam ini kak Hadi akan mengungkapkan dan mengumumkan kalau kita sudah jadian?"

__ADS_1


Bisik Cerryl dalam hati sambil bercermin dan merias diri.


Sekitar pukul 7, Hadi sudah tiba di tempat pertemuan mereka. Suasananya lebih indah dibanding siang hari. Kecerahan warna warni aneka bunga tergantikan oleh gemerlap lampu yang berkelap-kelip. Tersusun apik saling menghubungkan pondok satu dengan pondok lainnya. Begitu pun lampu taman yang nampak indah. Bak lentera saling bertautan yang menerangi jalan setapak dari sususan bebatuan alam menuju pondok.


Suasana pondok pun terlihat lebih romantis dengan kehadiran lampu kecil berbentuk lilin yang menghiasi meja ruangan.


Cerryl tiba bersama Sherly dan Christine. Ketiganya langsung terpana sesaat setelah memasuki area pondok. Cerryl begitu tertegun. Nuansa malam yang tak kalah indahnya saat pertama kali ia datang di siang hari. Terlebih bagi Christine dan Sherly. Keduanya berhenti sejenak di ujung jalan masuk area pondok. Mengedarkan mata menikmati keindahan tempat itu. Cerryl tersenyum melihat kakak dan sahabatnya itu. Kemudian dengan lembut menarik tangan keduanya tuk berjalan menuju pondok spesial. Dimana Hadi sudah berdiri dan melambaikan tangannya.


"Kak Hadi sudah menunggu,kak" Bisiknya.


Christine dan Sherly pun mengekor mengikuti Cerryl. Beberapa pasang mata pun menyaksikan tingkah mereka. Namun semuanya memaklumi,karena mereka pun begitu saat kali pertama mereka datang ke tempat itu. Senyum pun terlontar dari bibir mereka. Membuat Cerryl, Christine juga Sherly mau tak mau membalas dengan senyum pula.


"Indahnya,,," Gumam Sherly.


"Iya,,," sambut Christine.


Hadi yang sudah berdiri dan menunggu di sisi dalam pondok pun tersenyum. Menyambut kedatangan tiga gadis cantik yang salah satunya adalah si pencuri yang telah merobohkan dinding es dalam hatinya.


"Bagaimana,,,?" sapanya.


Sementara Cerryl sudah duduk di kursi yang sebelumnya di tarik dan dipersilahkan oleh Hadi untuknya. Keduanya tidak berkata apa-apa,hanya mengumbar senyum dan saling bertatap pandang. Mengacuhkan Christine dan Sherly yang masih berdiri dan saling menyimpan segala keindahan disana.


"Hadi,,,kapan kamu tahu tempat ini? kenapa selama ini kamu ngga pernah cerita dan mengajak aku kesini!?"


Christine seolah protes dan sedikit marah. Karena selama itu Hadi menyembunyikan tempat yang begitu indah dan menyenangkan darinya. Hadi hanya mengernyitkan kening mendengar ucapan Christine. Tapi akhirnya ia pun menjelaskannya.


"Bukan begitu,,, sebenarnya tempat ini belum lama dibuat. Jadi aku belum sempat beri tahu atau pun mengajak kamu kesini"


"Maksudnya!?" Christine penasaran.


"Iya,,,kawanku belum lama mengelola tempat ini. Dia mendapatkan tempat ini dari seorang relasi orang tuanya yang kebetulan harus pindah ke luar kota karena sesuatu hal" jelas Hadi.


"Saat itu kebetulan aku juga sedang berniat untuk mencari penghasilan tambahan. Datanglah dia kepadaku. Akhirnya kita sepakat tuk kerjasama"


lanjut Hadi.

__ADS_1


"Jadi maksudmu,tempat ini,,,?"


Christine menutup mulut dengan kedua tangannya. Seolah tidak ingin melanjutkan kalimat karena ia sedikit tidak percaya dengan apa yang akan ia katakan.


Cerryl dan Sherly saling berpandangan. Belum mengerti apa yang dipikirkan Christine hingga ia tidak melanjutkan kalimatnya itu. Kemudian memandangi Christine dan Hadi bergantian. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dua orang pelayan datang membawakan empat cangkir kopi late dan buku menu. Hadi pun mempersilahkan mereka untuk memesan sesuai selera masing-masing.


"Oh,iya. Pesanan kalian akan siap satu jam ke depan. Karena sebelumnya aku ingin kita menikmati kopi ini dulu sambil membicarakan sesuatu"


Belum juga terjawab pertanyaan hati mereka tentang terputusnya kalimat Christine,kini ucapan Hadi pun menimbulkan rasa penasaran di hati Cerryl dan Sherly. Termasuk Christine. Walau sebenarnya ia sedikit tahu apa yang akan dibicarakan oleh Hadi. Mungkin lebih tepatnya suatu pengumuman.


Hadi mulai meneguk sedikit kopinya. Diikuti oleh Cerryl, Christine dan Sherly. Setelah itu perlahan ia pun menjelaskan lebih dulu tentang hal pondok, yang lebih dikenal dengan Rumah makan pondok dan presmanan lesehan. Dari mulai awal mendapatkannya sampai merombak total dan membangun pondok-pondok itu. Hingga akhirnya ia pun mengatakan suatu hal penting dalam hidupnya.


"Selain itu,,,malam ini aku ingin meminta pendapat juga izin dari Christine juga Sherly,,," Hadi berhenti sejenak.


Christine tidak begitu terkejut,namun Sherly terlihat bingung mendengar ucapan Hadi. Sherly memandangi Cerryl, sedangkan Cerryl justru sedang terpaku saat Hadi menatapnya dengan tajam.


"Apakah aku boleh dan pantas untuk mencintai Cerryl,,,?"


DUARRRR,,,,


Hati Cerryl berdentum kencang. Aliran darahnya terasa begitu cepat saat mendengar kata-kata Hadi. Mulutnya bergerak-gerak tapi tak bisa berucap. Ia memang menantikan kata itu. Tapi begitu kata-kata itu terucap, Cerryl tetap saja terkejut.


Sherly sesaat tertegun. Kemudian ia pun tersenyum dan haru mendengarnya. Begitu pula Christine. Senyum lebarnya menghias wajah cantiknya.


"Aku terserah Cerryl aja. Karena dia yang akan menjalaninya,,," ujar Christine ringan.


"Idem,,,!" sahut Sherly.


"Kalau begitu,,,bolehkah aku mencintaimu?"


Kini ucapan Hadi ditujukan langsung ke Cerryl. Tangan kanannya menjulur dengan telapak tangan menghadap ke atas. Seolah berharap dan meminta Cerryl tuk menerima uluran kasih sayangnya.


Cerryl makin bergetaran. Bibirnya terkatup rapat. Hanya timbul butiran kristal bening di kedua sudut matanya saat tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Perlahan Cerryl pun ikut berdiri. Tangan kirinya menyambut tangan Hadi.

__ADS_1


Tanpa sadar,keduanya langsung berpelukan. Menghantarkan getar dalam dada masing-masing tanpa perduli Sherly yang tertunduk dan Christine yang tersenyum puas melihat bersatunya dua hati yang saling menyayangi.


__ADS_2