CINTAMU HANYA UNTUKKU

CINTAMU HANYA UNTUKKU
CINTAMU HANYA UNTUKKU


__ADS_3

BAB 10🌹


Mobil yang di kendarai oleh Kenric dan Clara memasuki halaman kantor News Group, Kemudian mereka pun turun dari mobil saat Clara hendak turun dari mobil Ken, Dia merasakan kepalanya sakit.


" Ya Tuhan, kenapa kepalaku sakit kaya gini, apa karena tadi malam aku kurang tidur?" Gumamnya.


Kenric menoleh ke arah Clara.


" Kamu kenapa.?"


" Tidak apa-apa Pak."


" Ya sudah, cepatan! Sekarang kita naik ke atas karena masih ada pekerjaan lagi yang harus dikerjakan, besok kita masih bertemu dengan klien yang lain." Ucapnya sembari meninggalkan Clara tanpa peduli sama sekali pada Clara yang telah membawa banyak berkas di tangannya.


Clara menghela lagi nafasnya dengan panjang.


" Isht! Dasar Bos ngeselin, tidak peka lagi! Kenapa dia tidak membantu aku sih, aku kan perempuan, sedangkan dia laki-laki, sedikit peduli gitu dengan aku. Bukannya nyelonong gitu aja." Gumamnya di dalam hati, tapi masih mengikuti langkah Ken dari belakang.


" Ya Tuhan kenapa kepalaku semakin sakit sekali sih?" Ucapnya, namun dia tetap terus melangkah, dia pun langsung mengikuti Kenric masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai atas di mana ruangan Kenric berada.


Kenric masuk ke dalam ruangannya dan Clara duduk di tempat kerjanya.


" Huh! Akhirnya berkas-berkas ini sudah berada di tempatnya semula, Aww! Sakit sekali tanganku memegangnya, tapi tidak ada sama sekali kepedulian dari Pak Bos ngeselin itu! Sungguh sangat keterlaluan!" Ucapnya, namun dia teringat di saat dia memimpin perusahaan keluarganya sendiri.


" Apakah seperti ini yang dirasakan oleh sekretarisku dulu? Semua yang dia lakukan dan dikerjakannya aku pun merasakannya. Apakah ini yang dinamakan karma? Hemmm..Ternyata karma itu tidak semanis kurma." Ucapnya sembari menatap layar laptopnya yang sudah menyala di hadapannya, namun dia pun memegang kepalanya sembari menundukkannya dan sedikit meringis menahan sakit dikepalanya.


" Kenapa kepala ini semakin terasa sakit sekali, kepalaku terasa berat sekali." Ucapnya.


Telepon yang ada di atas mejanya itu pun berdering, dia langsung menjawab panggilan tersebut.


" Clara! Segera bawa berkas-berkas yang ada itu kemari, karena ada yang ingin aku periksa kembali."


" Baik Pak!" Ucapnya, kemudian dia pun berdiri dan membawa berkas yang baru saja dia letakkan di atas meja, dia mengetuk tiga kali ruangan Pak Bosnya itu, terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk, dia pun langsung masuk sembari membawa berkas yang dipinta oleh Kenric sang Bos.


Berkas-berkas itu pun di letakkannya di atas meja Bosnya itu sembari bersuara.


" Ini berkasnya tadi Pak semuanya lengkap."


" Hmmmm... " Jawab singkat Ken, namun dia tetap tidak menatap ke arah Clara, setiap dia menatap ke arah Clara dia selalu tidak bisa mengendalikan degupan jantungnya yang sampai saat ini dia tidak mengerti sebenarnya ada apa dengan dirinya, dia tidak pernah merasakan degupan jantung yang begitu tidak beraturan iramanya itu, padahal dia sering bertemu dengan para wanita yang cantik di luar sana, tapi sedikit pun jantungnya tidak menandakan kalau wanita-wanita itu bisa menggoyahkan pandangannya.


" Maaf pak apalagi yang akan diperlukan oleh pak bos? Agar saya siapkan "

__ADS_1


" Oh ya ini, kamu bisa copi ini ya, Aku minta beberapa rangkap segera." Ucapnya, namun dia tetap tidak menatap ke arah Clara.


Clara pun mengambil kertas tersebut. Namun sesaat dia terdiam dan memegang kepalanya, penglihatannya sudah mulai buram, seakan ruangan itu berputar di atas kepalanya.


Kenric yang melihat Clara berdiam yang tidak langsung melangkah itu, Kenric merasa heran, namun dia langsung sigap bersikap, dia berdiri dari duduknya dan mendekati Clara, bertepatan dengan Kenric yang mendekatinya, Clara pun jatuh pingsan tak sadarkan diri di ruangannya itu, tangan Kenric yang kuat itu pun langsung meraih tubuh cantik Clara, sebelum tubuh clara jatuh kelantai ubin keramik ruangan kerjanya itu.


Dia menatap lekat ke wajah Clara yang memejamkan matanya, terlihat sangat pucat.


" Clara....Clara...Bangun Clara! Kamu kenapa Clara ?" Tanya Kenric sembari menepuk-nepuk pipi Clara dengan pelan


Merasa Clara tidak sadarkan diri, Kenric langsung mengangkat tubuh Clara dan merebahkannya disofa ruangannya itu, dia kemudian menghubungi Santi yang ada di luar ruangannya, Santi pun bergegas masuk ke dalam.


" Ya Pak, ada apa ?"


" Kamu cepat hubungi dokter kantor ini, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Clara, karena dia tiba-tiba saja pingsan."


" Baiklah Pak, saya akan segera menghubungi dokter kantor ini."


" Segera!" Ucap Kenric nampak sedikit panik, membuat Santi kerasa jeran dengan pak Bos itu, tidak seperti biasanya pak Bosnya itu sepanik ini


Santi pun langsung keluar dari ruangan tersebut, kemudian menghubungi dokter khusus kantor News group, tak lama kemudian dokter pun datang bersama dengan suster yang memang bertugas di kantor News group, dia masuk ke dalam ruangan Kenric.


" Pak Dokter! Tolong periksa sekretarisku ini, kenapa dia tiba-tiba pingsan."


" Pak Kenric, Bapak tidak usah khawatir, Dia terlihat kecapean aja, dia kurang tidur sehingga mengakibatkan sedikit pusing melandanya." Terang dr Raka.


" Syukurlah! Kalau seperti itu, terima kasih Pak Dokter."


" Kalau begitu saya permisi dulu, karena sebentar lagi dia pasti akan sadarkan diri."


" Baiklah!"


Kemudian mereka pun meninggalkan ruangan itu termasuk Santi untuk kembali ke mejanya lagi.


Kenric pun duduk di hadapan Clara, menunggu dia sadarkan diri, Kenric menatap ke arah Clara dengan lekat, namun tatapannya itu pun berhenti di samping telinga Clara, karena di samping telinga Clara ada tanda lahir, Kenric terkejut.


" Ya Tuhan Tanda itu?!" Ucapnya, kemudian dia berdiri dari duduknya dan mendekati Clara hendak memastikan kebenarannya, saat dia hendak menyentuh rambut Clara agar dia bisa melihat tanda lahir tersebut dengan jelas.


Clara pun membuka matanya, Kenric langsung cepat-cepat berdiri dan menjauh dari Clara dua langkah, sembari mensedekapkan tangannya di dada, Clara memegang kepalanya, dia menatap ke arah semua ruangan, dia baru menyadari kalau dia berada di ruangan Pak Bosnya.


Clara dengan cepat langsung duduk dari tidurnya.

__ADS_1


" Kenapa saya di sini Pak?"


" Kamu tadi pingsan, kamu nggak usah langsung duduk karena nanti kepalamu pusing lagi."


Kenric pun kemudian melangkah menuju ke arah meja kerjanya dan mengambil satu obat dan air minum, dia pun menyerahkannya pada Clara.


" Minumlah obat ini, ini resep dari dokter."


Clara pun mengambil obat yang ada di tangan Kenric, dia kemudian meminumnya lalu meletakkan gelas tersebut di atas meja.


" Terima kasih Pak...."


" Sama-sama..."


Kenric pun kemudian duduk di hadapan Clara.


" Baiklah Pak, saya akan melanjutkan pekerjaan saya lagi "


" Tidak usah! Kamu duduk aja di situ, karena terlihat kamu sangat capek, apa benar kamu tidak tidur tadi malam?"


Clara pun teringat dia bermimpi buruk dan dia terbangun di tengah malam, sampai pagi pun dia tidak melanjutkan tidurnya lagi, karena matanya tidak bisa terpejam.


" Iya Pak! Karena saya terjaga dari tidur saya."


" Kamu harus banyak istirahat."


" Bolehkah saya bertanya satu hal denganmu?"


Clara menganggukkan kepalanya.


" Kalau boleh tahu, sejak kapan kamu memiliki tanda dekat telinga kamu itu ?"


Clara pun kemudian meraba tanda lahirnya itu, dia tersenyum..


" Ini sejak saya lahir Pak, kenapa Bapak bertanya tentang tanda lahir saya?"


" Oh, tidak apa-apa, saya cuma bertanya saja."


Clara pun tersenyum lagi dan menganggukkan kepalanya.


Kenric senyum sembari menatap ke arah Clara yang sedang menundukkan kepalanya itu tidak dirinya.

__ADS_1


" Moni!" Gumamnya pelan namun Clara tidak mendengar ucapan dari Kenric.


__ADS_2