
BAB 12 🌹
" Aduh! Bagaimana ini, kalau dia nantinya lama di sini aku tidak bisa pulang-pulang dong, Aira pasti ketahuan kalau kenal dengan Aku ,
semoga saja Aira belum keluar dari ruangannya." Gumam Clara.
Kenric menatap ke arah Clara, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Clara darinya karena dia menangkap keanehan dari sikap Clara tersebut.
" Ada apa dengan Moni? Kenapa dia sepertinya gelisah sekali. Apakah dia dijemput sama kekasihnya atau dia takut aku mengetahui dia memiliki seorang kekasih, aku harus menunggunya sampai temannya itu menjemputnya, Aku ingin melihat siapa sebenarnya temannya itu, perempuan apa laki-laki." Gumamnya sembari menghela nafasnya dengan panjang dan menyandarkan tubuhnya di kursi yang saat ini dia duduki dan merentangkan kedua tangannya menambah kekesalan Clara dan kebingungan Clara sembari menatap terus ke arah pintu lobby.
Clara kemudian mengambil ponselnya dan mengirim chat pribadi pada Aira. Namun karena Aira tidak memegang ponselnya, Aira hanya terus melangkah menuju ke arah pintu lift karena memang waktunya sudah pulang kantor.
" Aira tidak membalas chat ku sih, bagaimana ini kalau dia keluar dari ruangannya dan menuju ke arahku ini, bisa ketahuan nih! Di samping itu kalau aku tetap aja di sini pasti si ngeselin ini tak akan pernah pergi, tadi aja dia menawarkan dirinya untuk mengantarkan aku pulang, sama aja kan ketahuan aku pulangnya ke rumah Aira." Gumamnya di dalam hati sembari terus mondar-mandir tanpa menghiraukan kehadiran Kenric sang bos yang duduk di kursi yang ada di lahan parkir kantor News Group itu.
Benar saja ketakutan Clara pun jadi kenyataan, Aira terlihat melangkah menuju ke arah parkiran, dia tidak mengetahui kalau Pak bosnya dan Clara ada di tempat itu. Saat dia menuju ke arah mobilnya, Dia pun menoleh ke arah samping, ternyata pak Bosnya dan Clara tidak jauh dari mobilnya yang terparkir.
Aira terkejut namun dia berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya itu.
" Astaga! kenapa Clara bersama dengan Pak Ken di situ? Bagaimana dia pulangnya nanti."
Aira kemudian berpikir keras, lalu dia pun tersenyum dan mendekati mereka berdua yang ada di tempat kursi tunggu itu.
" Sore Pak Bos..."
" Iya sore..."
Aira kemudian menoleh ke arah Clara, Clara langsung mengekspresikan wajahnya kalau dia mengatakan Pak Kenric berada di sini sejak tadi, Aira pun mengerti dan dia pun tersenyum.
__ADS_1
" Oh iya, kamu kan sekretaris barunya Pak Ken.?"
" Oh iya Mbak, ada apa ya Mbak?" Ucapkan dengan sedikit kelembutan menjawab pertanyaan dari Aira.
Aira yang melihat gaya Clara itu pun ingin tertawa namun dia menahannya dengan sekuat tenaganya.
" Kita kan satu arah, kemarin aku pernah melihat kamu berada di rumah nomor 49 di jalan Melati itu kan." ucap Aira sembari mengekspresikan dari matanya agar Clara mengetahui kalau dia hanya berbohong saja mengatakan itu.
" Oh iya Mbak, Mbaknya tahu tempat saya tinggal ?"
" Saya sering lewat di situ."
" Kebetulan Mbak, kayaknya teman saya ini lama menjemputnya, bagaimana kalau saya ikut sama Mbak aja?"
" Oh...Dengan senang hati. Apakah Pak Ken masih lama menunggu di sini.?"
" Memangnya teman kamu laki-laki apa perempuan yang akan menjemput kamu itu?" Tanya Aira pada Clara, masih dengan bermain sandiwara.
" Oh, teman saya itu perempuan, saya selalu antar jemput sama dia, kebetulan dia bekerja sama seperti saya di kantor juga, tapi saya tidak tahu kantornya itu dimana."
Terlihat wajah Kenric pun tersenyum dia bergumam di dalam hatinya.
" Oh! Ternyata temannya perempuan, berarti masih aman... Aku akan selalu mengingatkan dia waktu di masa kecil dulu sampai dia mengingat kalau aku adalah temannya." Gumamnya.
" Baiklah, kalau seperti itu, dia ikut sama kamu kan terlihat aman juga karena kalian menggunakan roda empat, Saya permisi dulu." Ucapnya sembari melangkah menuju ke arah mobil pribadinya, beberapa saat kemudian mobilnya itu pun meninggalkan mereka berdua menuju ke arah kediamannya, melihat mobil Bosnya itu sudah tidak terlihat lagi Clara menghela nafasnya dengan panjang dan mengusap dadanya dia pun bersuara.
" Akhirnya Bos yang ngeselin itu sudah pergi juga, aku merasa aneh aja dengan dia."
__ADS_1
" Aneh kenapa?" Tanya Aira sembari mengajak Clara untuk masuk ke dalam mobilnya, beberapa saat kemudian mobil itu pun juga meninggalkan kantornya menuju ke arah rumah kediamannya.
Di dalam mobil, Clara pun menceritakan kembali apa yang terjadi pada dirinya. Setelah dia bangun dari tidak sadarnya itu dia melihat keanehan di diri Bosnya tersebut, mendengar cerita dari Clara, Aira terkejut.
Terkejut bukannya mendengar Bosnya yang berperilaku aneh pada Clara, tapi melainkan saat Clara mengalami ketidak sadarannya itu.
" Kamu tidak bilang kalau kamu pingsan padaku?"
" Aku tidak tahu juga karena kepalaku saki, lagi pula kamu kan nggak boleh ketahuan dari pak Bos." Ucap Clara.
" Iya juga sih, tapikan aku sudah bilang padamu, kalau kamu sakit atau kurang enak badan kamu bisa tidak masuk kerja, Aku yang Akan bilang pada pihak kantor."
" Udahlah nggak apa-apa, biarin aja Aira.
Aira kemudian melihat spion yang ada di dalam mobilnya itu, dia melihat kendaraan di belakangnya Aira berasa aneh.
" Clara, merasa aneh nggak sih, sejak tadi kendaraan yang ada di belakang mobilku ini mengikuti kita dari arah depan kantor tadi sampai saat ini." Ucap Aira.
Clara pun kemudian menoleh ke arah belakang memastikan apa yang dikatakan oleh Aira.
" Benar Aira, Aku tidak tahu siapa mereka."
" Kita lihat aja dulu, apa benar dia mengikuti kita atau tidak, kita tidak langsung pulang ke rumah, tapi kita berhenti dulu di tempat lain, apakah dia masih mengikuti kita juga, kalau seandainya iya, berarti itu mencurigakan, kita harus tahu apa mau mereka." Ucap Aira dan dianggukkan Clara.
Kemudian Aira melajukan kendaraannya menuju ke arah lain yang biasanya dia berbelok ke arah kanan untuk menuju ke arah rumahnya, namun sekarang mobilnya berbelok ke arah kiri, dia lagi-lagi melihat kendaraan yang ada di belakangnya, melalui spion dalam mobilnya tersebut, mobil itu tetap mengikuti laju mobil Aira.
Aira kemudian lebih melajukan kembali mobilnya dan dia pun berhenti di sebuah rumah makan lesehan, dia memarkirkan mobilnya ternyata mobil yang ada di belakangnya itu pun berhenti di depan rumah makan tersebut, Namun mereka berdua pura-pura tidak mengetahuinya dan memasuki rumah makan itu.
__ADS_1