
BAB 26🌹
Di rumah Aira...
Dino dan Aira yang duduk di ruang tengah rumahnya saling berbicara satu sama lainnya.
" Apakah nanti orang tua kamu tidak melarang kamu untuk bersama denganku? Kamu kan tahu Mas, aku hanya sebagai bawahan sedangkan kamu setara dengan Bosnya aku sendiri."
Dino tersenyum sembari menyentuh tangan kekasihnya itu dan menggenggamnya.
" Kamu tidak usah ragu, Aku akan mengatakan semuanya pada Mama dan Papa, mereka pasti mengerti karena Mama dan Papa itu menginginkan anaknya bahagia bukan menderita, sikap dan sifat Mama dan Papa itu menginginkan anaknya memiliki kebahagiaannya masing-masing karena bagi Mama dan Papa Anaknyalah yang menjalaninya selagi anaknya itu merasakan kebahagiaan, mereka tidak ikut campur dalam segala hubungan kekasih ataupun rumah tangga anaknya." Ucap Dino.
" Tapi aku tetap aja Mas merasa gugup kalau seandainya memang benar-benar kamu ajak ke rumahmu, selama ini kan aku tidak pernah ke rumahmu meskipun dulu aku berteman dengan Clara. Tapi aku tidak pernah diajak Clara ke rumah."
" Ayo ngomongin aku ya, aku dengar tadi ada Clara-Claranya gitu." Ucap Clara masih dengan baju tidurnya duduk di kursi ruang tengah rumah Aira tersebut, mereka berdua tersenyum, Clara tidak merasakan sakitnya lagi, karena dia merasa bahagia bisa bertemu dengan saudaranya walaupun hanya satu saja, dia merasa bahagia dan melupakan sakitnya itu.
" Hemmm... Maafkan aku ya, dulu memang aku tidak memperkenalkan kamu dengan kedua orang tuaku, Aku memang terlena dengan kata-kata Mila dan Rere waktu sekolah dulu, kamu juga tidak mau aku ajak ke rumahku karena kamu sendiri yang banyak alasan, ingat kan?" Ucapnya tersenyum.
" Saat itu aku merasa gimana gitu, Kamu kan tahu aku berteman dengan kamu juga seperti bumi dan langit hehehe...Oh ya Clara aku mau tanya nih pada kamu, kamu masih ingat nggak waktu masa kita sekolah.?"
Terlihat Clara menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Aku pasti ingat dong waktu saat kita sekolah dulu."
" Kalau misalkan kamu mengingat di masa kecil kamu bagaimana? Apakah kamu masih ingat.?"
" Iya bener banget tuh! Apakah kamu masih ingat saat kita berada di Kalimantan dulu dek?" Tanya Dino.
Clara menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lagi.
" Hemmmm...Masa kecil ? Kenapa nih kalian bisa bertanya masa kecilku?"
" Bukan masa kecil aja sih, maksudnya apa saat itu kamu memiliki seorang sahabat atau seorang teman disaat itu yang bisa membuat kamu senang ..Dan tidak bosa dilupakan. Apakah kamu masih mengingatnya?" Tanya Aira.
" Seorang sahabat atau teman? Kenapa kalian bertanyanya seperti ini ?Kakak kan pasti sudah tahu bagaimana masa kecilku, tentang teman-temanku juga, aku kan dulu pernah cerita sama kakak kalau aku memiliki seorang teman saat kecil dulu."
__ADS_1
" Memang ada kamu cerita sama kakak? Kayanya kakak lupa sih, Kakak sih memang tahu masa kecil kamu waktu itu. Tapi kan waktu kamu memiliki teman ataupun melihat kamu sekolah taman kanak-kanak itu Kakak kan nggak tahu Teman kamu siapa aja dan apa yang kamu lakukan di sekolah, karena itu bukan urusan Kakak hehehe... Kakak kan sibuk dengan teman-teman kakak waktu itu." Ucap Dino.
" Apakah kamu masih ingat Clara?" Tanya Aira.
" Dulu saat di Kalimantan aku memang masih ingat kok, karena sering terlambat Papa jemput aku sekolah, aku sering nunggu di bawah pohon rindang, nah di saat itu aku bertemu dengan seorang anak laki-laki seingat aku namanya Poni."
" Poni??" Ucap keduanya saling pandang
Clara menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Ya, ya, namanya Poni, karena dia tidak mengatakan nama lengkapnya siapa dan juga saat itu seingat aku juga tidak mengatakan namaku sebenarnya padanya, nama dia itu aku kasih nama Poni."
" Terus kamu dipanggilnya nama apa?"
" Hemmmm..." Terlihat Clara berpikir mengingat di masa kecilnya dulu.
" Moni.... Kalau nggak salah sih, habisnya aku lupa juga sudah beberapa tahun yang lalu, mungkin sekarang dia tidak akan pernah mengingat itu lagi, pula aku juga tidak terlalu mengingatnya lagi, karena aku anggap itu adalah masa kecil yang sebagian orang kadang-kadang bisa tidak ingat terutama aku, setelah itu aku tidak bisa bertemu lagi dengannya, karena Papa pindah ke kota ini, kakak pasti ingatkan? Coba Kakak ingat lagi aku kan pernah cerita pada Kakak saat kita pertama kali tinggal di kota ini, aku bilangkan aku memiliki teman di sana, pasti dia sendirian menunggu di bawah pohon yang rindang karena pohonnya rindang itu tempat aku menunggu papa saat menjemputku. Aku saat itu tidak sempat bilang padanya kalau aku pindah kota."
" Memangnya Papa pernah dilihatnya ya waktu menjemput kamu?"
" Enggak! Karena Papa nggak pernah turun kalau dari mobil, dan akupun langsung masuk aja."
" Kenapa kalian berdua tersenyum? Lucu ya? Perasaan enggak ada yang lucu deh, itu kan namanya juga anak-anak."
" Nggak ada yang lucu, kami tersenyum merasa bahagia aja karena kamu bisa mengingat masa kecil kamu." Ucap Dino.
" Kalau seandainya kamu bisa bertemu kembali, Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Aira.
" Hahaha, itu tidak mungkin Aira ?? Itu sudah lama dan dia mungkin sudah memiliki keluarga saat ini, dia juga berada di Kalimantan sana."
" Apakah kamu sekarang bisa mengenalinya? Tapi siapa tahu mungkin aja terjadi, tidak ada yang tidak mungkinkan?"
" Kalau sampai terjadi, mungkin aku tidak bisa mengenali dia dan mengingatnya, bagaimana sekarang rupa dan wajahnya, aku tidak bisa, karena tidak ada yang bisa mengingatkan aku padanya."
" Maksud kamu?"
__ADS_1
" Ya sejenis tanda-tanda gitu, ya apalah aku juga nggak ngerti."
" Kalau seandainya dia menemukan kamu bagaimana?"
Clara terdiam mendengar ucapan dari Aira, kemudian dia pun tertawa lepas.
" Hahaha... Tidak akan pernah terjadi, karena saat itu aku masih kecil, jelek, gendut, bila tertawa mataku udah hilang tuh nggak kelihatan hehehe... Tapi..." Clara menggantung kalimatnya.
" Tapi kenapa?" Tanya Aira dan Dino sembari menatap ke arah Clara.
" Bisa saja apa yang dikatakan Aira bisa terjadi."
" Maksud kamu?"
" Larena waktu itu aku pernah mengatakan padanya, kalau kami berpisah dia pasti akan bisa mengenali aku, kalau melihat tanda lahirku ini, tapi tidak mungkin juga sih dia menyibakan rambut semua wanita agar dia bisa mencari tanda lahirku ini." Ucapnya sembari memperlihatkan tanda lahirnya pada Aira dan melanjutkan bicaranya.
" Sama aja dia mencari mati dihajar dan dimarahi para Cewak... hahaha." Ucapnya sembari tertawa lepas lagi.
Namun kedua orang yang ada di hadapan Clara itu pun hanya tersenyum saja dan mereka berdua saling berpandangan, mereka berdua pun yakin kalau Kenric adalah orang yang dikatakan oleh Clara temannya di saat kecil.
" jJangan tertawa terus dong Clara, nanti kamu akan terkejut kalau seandainya Tuhan berkehendak lain." Ucap Dino.
" Maksud kakak?"
" Siapa tahu dia memang benar-benar mencari kamu, kalau seandainya dia mencari kamu bagaimana sikap kamu setelah bertemu?" Tanya Dino
Clara terdiam lagi, Dia terlihat berpikir keras, namun dipikirannya dia merasa tidak yakin karena itu sudah puluhan tahun lamanya, dan lagi jarak antara Kalimantan dan kotanya ini sangatlah jauh, itu hanyalah saat di masa kecilnya, itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini.
" Bagaimana kalau seandainya suatu saat kalian bertemu?" Lanjut Dino lagi
" Ya! Kita lihat aja nanti lah kak, aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa di sini."
Clara mulai mengingat masa kecilnya dengan sahabat kecilnya itu.
" Kenapa aku jadi rindu ya dengan Poni?" Gumamnya di dalam hati, mereka pun sama-sama terdiam.
__ADS_1
Mereka pun dikejutkan suara mobiknyang masuk kehalaman rumah Aira, dua buah mobil masuk ke dalam halaman rumah Aira, karena pintu pagar rumah Aira memang terbuka dengan lebar, memudahkan dua mobil tersebut memasuki halaman tersebut.
Mobil itu pun terparkir rapi di depan rumah Aira, Dino dan Clara Saling pandang karena dia mengenali mobil tersebut, sedangkan Aira mengenali mobil Pak Bosnya itu tapi tidak dengan satu mobil yang lain.