
BAB 29 🌹
Di kantor News Group, sesuai dengan rencana yang akan dilancarkan oleh Kenric untuk meyakinkan dirinya kalau Clara adalah teman masa kecilnya tersebut, dia pun kemudian menulis sebingkai kata 'Cintamu hanya untukku' dan 'Cintaku hanya untukmu' di sebuah kertas yang bergambarkan sebuah pohon rindang dengan satu buah kursi panjang serta gambar dua orang anak perempuan dan laki-laki bertuliskan nama Moni dan Poni,dia pun kemudian tersenyum menatap tulisan dan gambarnya tersebut, sembari bergumam.
" Lumayanlah untuk mengingatkannya, walaupun gambar ini tidak seindah aslinya." ucapnya sembari tersenyum dan melihat kertas tersebut, dia pun langsung bergegas keluar dari ruangannya, dia memang datang terlalu pagi sebelum Clara dan Santi datang, ruangan itu kosong hanya dirinya saja yang menyematkan kertas tersebut di bawah buku jurnal yang sering digunakan oleh Clara, kemudian dia bergegas masuk kembali dalam ruangannya, Clara dan Aira pun datang kekantor, dan mereka menuju ke arah ruangannya masing-masing, terlihat meja Santi kosong, dia pun tersenyum.
" Mungkin Santi belum datang kali ya, biasanya Santi lebih dulu datang daripada aku." Ucapnya kemudian dia pun duduk di meja kerjanya itu, dia menatap ke arah ruangan Kenric.
" Apakah bagus sudah datang?" ucapnya, dia menaruh tas kerjanya di atas meja dan menuju ke arah dapur tempat pembuatan minuman, karena dia ingin membuatkan minuman untuk pak bosnya tersebut, saat dia keluar dia melihat Pak bosnya berdiri di meja kerjanya dengan kedua tangan berada disaku celananya.
" Sejak kapan Pak Bos datang?"
" Aku baru saja datang, aku melihat meja kamu kosong, tapi peralatan kamu sudah ada makanya aku menunggu di sini." ucap Kenric sembari menatap ke arah Clara dengan tatapan layaknya seorang bos pada bawahnya.
" Ada apa dengan Pak Bos? padahal dia kemarin tak seperti ini banget, di rumah Aira dia banyak senyum tidak dingin kaya gini,Tapi kenapa di sini dia terlihat dingin dan angkuh seperti itu?" ucapnya di dalam hati.
Kenric kemudian masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Clara dan dia pun menaruh minuman kesukaan Kenric di atas meja, saat Clara berbalik arah, Kenric memanggilnya.
" Clara, kamu cepat persiapkan berkas yang akan kita bawa untuk meeting hari ini dengan klien."
" Siap pak." ucapnya sembari menggangguk, kemudian dia pun melangkah meninggalkan Kenric.
__ADS_1
Kenric menatap langkah demi langkah Clara dengan memberikan senyuman termanis yang Clara sama sekali tidak mengetahuinya.
Clara kemudian duduk di meja kerjanya dia menoleh ke arah meja kerja Santi sudah terlihat Santi duduk di meja tersebut, Santi berdiri dari duduknya dan mendekati Clara, dia menyalami Clara sembari tersenyum.
" Akhirnya kamu sudah sembuh, Maafkan aku ya, aku tidak mengunjungi kamu karena aku tidak tahu kamu berada di mana."
" Tidak apa-apa, Alhamdulillah aku sekarang sudah sehat, kemarin mungkin sedikit kecapean aja, tidak terlalu serius kok penyakitnya."
" Syukurlah kalau seperti itu." ucapnya lalu Santi pun melangkah kembali ke meja kerjanya, Clara menghidupkan layar laptopnya dia membuka buku jurnal dan dia melihat lipatan kertas yang dikirim oleh Kendric dia membukanya betapa terkejutnya dia karena di situ dia melihat tulisan yang pernah diucapkannya saat kecil dulu, dia melihat nama teman kecilnya dan nama dirinya yang tertulis di kertas tersebut, dia menengok kiri dan kanan namun tidak ada orang sama sekali.
" Ya Tuhan siapa yang memberikan kertas ini padaku? Apakah Poni ada di sini, tapi di mana? Kenapa dia mengetahui aku tapi aku tidak mengetahui dia." Gumamnya di dalam hati namun dia tidak menyadari Poninya adalah Kenric.
" Kenapa kamu tersenyum sendirian, ada yang aneh di layar laptopnya?"
" Oh tidak apa-apa dan tidak ada yang aneh kok." ucap Clara terkejut mendengar pertanyaan Santi yang sudah berada di sampingnya itu, Clara tidak sempat menyembunyikan kertas tersebut Santi pun langsung mengambilnya.
" Oh ya Tuhan, rupanya ini yang membuat kamu tersenyum, Cintamu hanya untukku, Cintaku hanya untukmu, Poni dan Moni so sweet... Apakah ini dari kekasih kamu Clara?" tanya Santi sembari memberikan kembali kertas itu pada Clara, Clara tersenyum dia tidak bisa menjelaskannya pada Santi apapun.
" Siapa Moni, Poni? tanya Santi kembali, namun Clara lagi-lagi hanya menjawab pertanyaan Santi dengan mengukir senyum di wajahnya.
" Apakah itu nama sayang kalian berdua? Aku mau dong dipanggil seperti itu sama ayang. Tapi sayangnya aku tidak punya ayang hehehe..." ucap Santi terkekeh.
__ADS_1
Lagi-lagi Clara tersenyum lebar.
" Clara, aku tidak perlu dengan senyuman kamu itu, Aku ingin tahu siapa kekasih kamu itu, sangat manis sekali dia mengirimkan kertas ini di pagi-pagi seperti ini, aku jadi iri deh dengan kamu, pengen sekali aku di romantisi seperti ini." ucap Santi, Clara pun tersenyum dan menghela nafasnya dengan panjang.
" Aku tidak tahu siapa yang mengirim kertas ini, tapi nama Poni itu adalah temanku di waktu kecil, dia tidak mengetahui nama asliku dan aku juga tidak mengetahui nama asli dia, akhirnya kami mengukir nama ini dan mengukirkan nama ini satu sama lainnya, tapi aku tidak tahu kalau dia masih mengingatnya."
" Jangan-jangan dia berada di kantor ini juga?"
" Mungkin iya mungkin juga tidak, aku menganggap itu semua di masa kecil, tapi saat aku melihat tulisan ini berarti dia memang mengingat aku, tapi aku tidak tahu siapa dia?"
" Teman di waktu kecil? So sweet sekali, padahal sudah beberapa puluh tahun loh, tapi dia tetap mengingat kamu itu artinya adalah jodoh kamu, dan mungkin dia mencari kamu selama ini, siapa tahu dia juga benar bekerja di sini atau jangan-jangan Pak Bos deh teman masa kecil kamu itu..."
Mendengar ucapan Santi, dia pun terkejut dia terdiam sesaat namun kemudian dia tersenyum.
" Ah, kamu ini ada-ada saja, tidak mungkin lah kalau Pak Bos adalah Poninya aku, pastinya dia akan cepat mengenali aku saat pertama kali aku masuk ke sini."
Santi menghela nafasnya dengan panjang.
" Tapi perasaan di ruangan ini hanya kita berdua dan Pak Bos, tidak ada yang lain, tapi siapa tahu ada di ruangan yang lain yang memang sudah mengetahui kalau kamu itu teman masa kecilnya, kok aku jadi pusing ya memikirkannya, Ya udah deh kamu aja yang mikirkannya, aku lanjut kerja hehehe..." ucap Santi sembari terkekeh, Clara pun menggelengkan kepalanya, dia tersenyum pada Santi yang sedang melangkah meninggalkannya menuju ke arah kursi kerjanya itu, Clara menghela nafasnya dengan panjang, dia menatap kembali kertas yang bertulisan itu.
" Kenapa sekarang aku jadi merindukan Poni? Kalau memang dia ada di kantor ini, kenapa dia tidak langsung menemui aku, aku jadi rindu dengannya, sekarang rupanya bagaimana ya? Aku pengen banget mengetahuinya." ucapnya sembari tersenyum dan menghela nafasnya, lalu dia kembali mengerjakan pekerjaannya dan mempersiapkan berkas yang akan dibawanya bersama dengan Pak bosnya untuk bertemu dengan Clientnya.
__ADS_1