
BAB 25 🌹
" Mila memang temannya Clara, Clara berteman dengan Mila dan satu orang lagi kalau tidak salah namanya Rere." Terang pak Ferry.
Kenric hanya memganggukkan kepalanya sembari bergumam.
" Rere? Apakah Rere yang diperkenalkan Mila padaku waktu itu?" Gumamnya sembari mengingat-ingat seorang Rere yang dikatakan pak Ferry.
" Mila dan temannya itu memberikan pengaruh buruk pada Clara." Sambung Bu Mega, terlihat Kenric menganggukkan kepalanya mengerti apa yang dikatakan kedua orang tua yang ada dihadapannya itu.
" Kalau boleh tau kenapa Clara tidak masuk kerja?" Tanya pak Ferry.
" Dia lagi sakit pak..."
" Sakit?" Tanya pak Ferry terkejut, karena dia tahu kalau anaknya itu orang yang jarang sakit.
Kenric hanya menganggukkan kepalanya.
Bu Mega pun langsung menyentuh tangan suaminya dan menatap ke arah suaminya itu, terlihat wajah Bu Mega merasa khawatir setelah mendengar sang anak sakit.
" Pah Clara sakit..." Hanya itu yang bisa diucapkan Bu Mega, karena pikirannya sudah berkecamuk tidak menentu, dia mengetahui kalau sang anak memang jarang sakit.
" Dimana sekarang dia tinggal kalau saya boleh tahu ?" Tanya Pak Fery.
" Dia tinggal bersama dengan temannya."
" Apakah dengan Rere?"
" Bukan pak, dia bersama dengan Aira, Aira adalah salah satu dari karyawan di News group ini juga, saya tidak tahu apa hubungannya dengan Aira, Apakah Aira itu adalah sahabatnya atau teman kuliahnya, atau teman di masa sekolahnya, karena dari cerita bapak tidak menyinggung nama Aira."
" Aira..." Ucap pak Ferry sembari menoleh ke arah sang istri, Bu Mega hanya menggelengkan kepalanya, kalau dia tidak mengetahui siapa itu Aira.
__ADS_1
Kenric pun tersenyum.
" Baiklah Pak, kalau Bapak ingin menemui Clara, saya akan mengantarkan segera Bapak dan Ibu ke tempat Aira."
Pak Ferry terkejut dengan ucapan Kenric, dia menoleh ke arah sang istri, Bu Mega menganggukkan kepalanya, Pak Ferry menghela nafasnya dengan panjang beberapa saat dia terdiam.
Kenric juga menghela nafasnya dengan panjang dan menatap ke arah Pak Ferry dan istrinya yang ada di hadapannya itu.
" Bagaimana Pak? Apakah Bapak dan Ibu mau bertemu dengan Clara? Kalau kalian ingin bertemu, Saya akan mengantarkannya." Ucap Kenric mengulang pertanyaannya pada kedua orang yang ada di hadapannya itu.
Pak Ferry menghela nafasnya kembali dengan panjang, Pak Ferry sebenarnya ingin sekali bertemu dengan anaknya itu, tapi dia takut kalau Clara merasa besar kepala karena dia yang menyuruh dia pergi dari rumah, namun dia juga yang akan mengajaknya kembali ke rumah.
Sang istri mengetahui apa yang ada di benak sang suami.
" Pah, Mamah yakin Clara tidak akan menganggap kamu itu orang yang tidak memiliki pendirian, tapi itu semua demi kebaikan Clara, Mamah rasa Clara pasti sudah berubah dia tidak seperti Clara yang dulu." Ucap sang istri sembari mengusap pundak suaminya itu, Pak Ferry menoleh ke arah sang istri, kemudian dia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, dia bertekad ingin tetap bertemu dengan anaknya itu dan akan membawa anaknya pulang ke rumah nya kembali, Pak Ferry menatap ke arah Kenric sembari bersuara.
" Bisakah kamu mengantarkan kami ke tempat Aira, karena aku ingin bertemu dengan anakku."
Kenric pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mereka pun kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah mengikuti langkah Kenric menuju ke arah lobby, beberapa saat kemudian mobil Kenric dan mobil Pak Ferry pun meninggalkan kantor News group menuju ke arah rumah kediaman Aira.
***
Mila yang berada di dalam mobilnya itu terus melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang, karena dia ingin segera sampai ke tempat Rere. Dia memutuskan ingin bertemu dengan Rere agar dia bisa menceritakan semua kekesalannya terhadap Kenric
" Kenric memang keterlaluan! Dia tidak memandang perasaanku selama ini dan dia juga tidak menghargai apa yang selama ini aku berikan padanya, kasih sayangku padanya, perhatianku juga tak dihargai, dia tidak pernah menghargai itu semua.!!" Ucapnya semakin kesal.
Tidak beberapa lama mobil itu pun berhenti di sebuah rumah mewah, dia membunyikan klakson berulang kali namun pintu rumah itu tidak terbuka.
Mila dua kali berkunjung ke rumah Rere, dia melihat ada seorang Security yang selalu menjaga rumah tersebut di saat dia berkunjung ke rumah Rere. Tapi saat ini dia tidak melihatnya sama sekali, dia terus membunyikan klakson mobilnya, namun sayangnya tidak ada satupun orang keluar dari rumah tersebut.
__ADS_1
Mila keluar dari mobilnya dan melihat kalau pintu gerbang rumah itu sudah terkunci dari luar dan Security yang ada di dalam pos penjagaan itu juga tidak ada.
" Dimana dia ? Kenapa dia tidak mengatakan kalau dia tidak ada di rumah, bahkan rumahnya pun terkunci seperti ini." Ucapnya sembari menghubungi Rere, namun sayangnya ponsel Rere tidak bisa dihubungi.
" Isht..! Apa-apaan ini kenapa ponselnya tidak aktif segala sih!"
Lagi-lagi dia membunyikan klakson mobilnya, kemudian salah satu orang yang memang tinggal di daerah itu bertepatan di samping rumah tersebut keluar dari rumahnya karena merasa terganggu dengan bunyi klakson dari mobilnya Mila.
" Heh Mbak, bisa diam nggak sih! Ini kota Mbak, bukan hutan! Mbak bisa nggak lihat kiri dan kanan ada rumah orang, penghuninya pada istirahat Mbak semua, Mbak bisa merasakan nggak cuaca panas terik seperti ini, orang pada istirahat Mbak, jangan diganggu dengan bunyi klakson keras-keras kaya itu, kenapa sih membunyikan klakson terlalu keras sekali, memang ada masalah apa? Mbak mau masuk ke dalam rumah itu ? Silahkan aja masuk buka tuh gerbang! Kalau Mbak membunyikan klakson dengan keras diluar ini tidak ada yang membukakan gerbang untuk Mbak, karena rumah itu sudah kosong tidak ada orangnya sama sekali."
" Apa? kosong? Ini kan rumah temanku!"
" Memangnya Mbak mau cari siapa
" Rere...Teman Aku!"
" Siapa Mbak? Rere ? di sini tidak ada yang namanya Rere Mbak."
" Ini rumahnya Rere, rumah mewah ini miliknya Rere. Bahkan aku pernah ke sini dan Aku juga melihat ada seorang Security menjaga rumah ini."
" Hahaha...Mbak kena tipu! Tidak ada yang namanya Rere di sini, bahkan rumah ini milik orang banyak, Security itu memang selalu ada saat rumah ini disewa untuk beberapa hari, bahkan Security itu juga tidak jauh dari sini tinggalnya, dia memang langganan menjadi Security dadakan kalau memang diperlukan."
" Maksud kamu?"
" Iya, rumah ini adalah milik rumah orang banyak, siapa saja bisa menjadikan rumah ini milik pribadinya, tapi untuk satu atau dua hari saja, karena rumah ini memang di sewakan khusus untuk orang yang menginginkan dirinya terlihat seperti orang kaya."
" Wah! Tidak benar ini, kamu pasti bercandakan.!"
" Saya tidak bercanda Mbak, bahkan di sini tidak cuma Rere aja temannya Mbak yang menjadi pemilik rumah ini, tapi masih ada Budi, Andi, Yana, Tuti dan yang lainnya termasuk temannya Mbak itu."
" Jangan macam-macam ya kamu bicara!"
__ADS_1
" Saya tidak macam-macam Mbak, cuma satu macam aja, kalau mbak tidak percaya, Mbak bisa bicara saja tuh sama Pak RT-nya di sana, Pak RT itu pasti akan menjelaskan kalau rumah itu memang khusus untuk dikontrakan, siapa saja yang mau mengontraknya, tapi dengan catatan cuma satu atau dua hari saja, bahkan pemiliknya adalah Pak Edi yang ada di luar negeri, di sini cuma ada anaknya aja, bahkan anaknya juga memiliki rumah mewah lebih dari rumah ini, kalau Mbak tidak percaya, Mbak bisa datang saja tuh ke jalan Melon nomor 145, itulah rumah anaknya pak Edi. Sudahlah mbak jangan bikin ribut di sini, karena orang yang lain ingin istirahat, jangan lagi membunyikan klakson keras-keras." Ucapan wanita itu sembari meninggalkan Mila yang terdiam seribu bahasa itu.
Mila merasa tidak percaya mendengar keterangan dari wanita itu tentang Rere, diapun merasa tidak menyangka sama sekali, dia menghela nafasnya dengan dalam dan pikirannya langsung tidak menentu, kemudian dia pun memasuki mobilnya meninggalkan rumah tersebut.