
BAB 6 🌹
Clara pun kemudian melangkah menuju ke arah lobby seorang diri, karena hari ini dia merasa lelah, lelah dalam pikiran, lelah dalam bekerja dan lelah dalam hidupnya sekarang ini, baru saja dia sehari bekerja Dia merasakan lelah yang teramat sangat, hampir saja Dia meneteskan air matanya namun dia selalu menahannya, saat dia terus melangkah menuju ke arah pintu lobby dia pun kemudian disentuh oleh Aira, dia menoleh ke arah kanan dia melihat Aira tersenyum padanya.
" Kenapa kamu tidak menunggu aku?"
" Aku tidak tahu kalau kamu pulangnya juga jamnya segini?"
" Besok-besok tunggu aku ya, kita pulangnya bareng."
Clara pun menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua bergandengan tangan menuju ke arah mobil Aira.
Mobil Aira pun perlahan-lahan meninggalkan kantor News group, mobil itu berjalan dengan mulusnya di atas aspal bebas hambatan, Aira menoleh sesaat ke arah Clara, dia melihat keletihan di wajah Clara baru saja sesaat Clara menyadarkan tubuhnya matanya pun terpejam, Aira hanya bisa bergumam di dalam hatinya.
" Kasihan Clara, mungkin dia baru merasakan bagaimana menjadi seorang bawahan, semoga saja Dia bisa bertahan." Gumamnya, beberapa saat kemudian mobil pun memasuki halaman rumah Aira, serasa tidak tega Dia ingin membangunkan sahabatnya itu, namun kalau tidak dibangunkan tidak mungkin juga Clara tidur terus-menerus di dalam mobilnya.
" Clara... Bangun, kita sudah sampai rumah, Kamu bisa membersihkan diri lalu kamu tidur kembali." Ucap Aira sembari mengukir senyum di wajahnya, Clara pun mengusap matanya sesaat.
" Aku ketiduran ya, maafkan aku ya."
" Nggak apa-apa kok "
Mereka keluar dari mobil dan melangkah menuju ke dalam pintu utama rumah Aira, Clara langsung menuju ke arah kamarnya, dia pun langsung membersihkan dirinya, namun setelah dia merasa segar dia tidak merasa mengantuk lagi, kantuk yang dirasakannya saat di dalam mobil Aira itu pun sudah lenyap entah ke mana, kemudian dia pun keluar dari kamarnya dan mendekati Aira yang sedang duduk di depan TV.
" lho, katanya kamu tadi mau tidur, Kenapa kamu ke sini?"
" Aku tidak bisa tidur lagi Aira, kantuk yang berat banget tadi itu sudah hilang begitu saja."
" Kamu capek banget ya?"
Clara hanya menganggukkan kepalanya.
" Maafkan aku ya, karena merekomendasikan kamu bekerja di kantorku."
" Tidak apa-apa Aira, Aku juga merasa senang kok menjalaninya dan aku juga merasa kalau mencari uang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi sayangnya saat aku mendapatkan uang dengan mudahnya aku habiskan begitu saja."
Aira hanya mengusap pundak sahabatnya tersebut.
" Oh ya Aira, Aku ingin bertanya satu hal denganmu."
__ADS_1
" Bertanya soal apa ?"
" Apa benar kamu memiliki kekasih sahabatnya Kenric itu.?"
Aira tersenyum, ia menganggukkan kepalanya.
" Aku senang kamu sudah mendapatkan orang yang terbaik."
" Nanti aku akan memperkenalkannya denganmu."
Clara hanya menganggukkan kepalanya. Dia menghelan nafasnya dengan panjang.
" Aku memang lelah banget hari ini, aku sebenarnya tidak bisa membuat air minum, tapi di saat si Ken itu mau minta buatkan teh hangat, tapi dia malah tidak mau meminumnya, gimana tidak kesal coba, aku sudah capek-capek membuatnya, eh! Begitu saja Dia menyuruh aku membawa kembali teh itu."
" Pak Ken memang seperti itu, tapi sebenarnya dia orang baik kok, Dia cuma ingin bawahannya itu tidak terlena dengan kebaikan orang tuanya terdahulu, jadi dia bersikap seperti itu, tapi kok bisa ya kamu tidak tahu kalau Mila itu mendekati Pak Ken."
Clara hanya menggelengkan kepalanya.
" Aku selama dekat dengan Mila dan Rere, mereka berdua tidak pernah mengatakan kalau mereka dekat dengan laki-laki, mungkin mereka merasa takut kalau cowoknya beralih padaku, Kamu kan tahu sendiri cowok-cowok yang dekat dengan Mila dan Rere saat kita bersama-sama dulu, selalu saja mendekati aku, Oh ya kamu kan mau memperkenalkan cowok kamu denganku, aku pinta nggak usah aja, aku takut nantinya kamu akan seperti Rere dan Mila yang curiga padaku nantinya.
Mendengar perkataan dari Clara dia pun tertawa lepas.
" Kan aku tidak khawatir kok kalau nanti kekasihku itu aku perkenalkan dengan kamu, tidak mungkin juga kan dia tertarik sama kamu, dan kamu juga tidak akan tertarik sama dia."
Clara pun merasa heran dengan ucapan Aira.
" Kok kamu kayak yakin sekali sih?"
" Ya iyalah aku yakin, karena kekasihku itu adalah saudara kamu."
" Apa? Kak Dino ?"
Aira menganggukkan kepalanya.
" Sejak kapan kalian kenal?"
" Perkenalan kami dengan dia memang sudah lama, tapi kami menjalin hubungan mengikrarkan cinta ini sudah setahun yang lalu."
" Kamu bilang ya kalau aku ada di sini ?"
__ADS_1
Aira menggelengkan...
" Jadi selama ini Kakak sahabatan dengan si Ken yang menyebalkan itu?"
Aira menganggukkan kepalanya.
" Tapi Ken tahu kalau kita berdua bersahabat?"
" Saat ini belum tahuz tapi nggak tahu nantinya."
" Aku mohon padamu ya, jangan kamu bilang kalau aku tinggal di sini dengan Kak Dino, Aku tidak ingin mereka mengetahui di mana aku tinggal."
" Aku tidak bilang kok sama dia, karena beberapa hari ini kami tidak saling kontek."
" Kenapa?"
" Karena dia sedang mengurusi proyek pekerjaannya, setiap dia mendapatkan proyek aku tidak bisa untuk mengganggunya."
" Aku tidak menyangka ya ternyata kamu kekasih kakakku sendiri, kakak iparku sahabatku hehehe..." Ucap Clara sembari terkekeh.
" Dia juga nggak tahu kok kalau aku ini adalah sahabat kamu, karena kita berteman, kamu tidak pernah kan mengenalkan aku dengan keluarga kamu, begitu juga dengan Mila dan Rere, keluarga kamu itu tahunya sendiri bukan dari kamu yang memberitahukannya, jadi kamu tenang aja, dia tidak tahu kok kalau aku ini adalah sahabat kamu."
Clara pun hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Kalau kamu sudah tidak capek, kita makan malam yuk, Aku sudah lapar nih." Ajak Aira, kemudian mereka berdua pun melangkah menuju ke ruang makan dan menikmati makan malam mereka berdua.
***
Tepat jam 02.00 malam Clara terbangun dari tidurnya, dia langsung duduk dan menangis sejadinya, namun dia tidak ingin suara tangisnya itu membangunkan Aira.
Kemudian dia menutup wajahnya dengan bantalnya.
" Ya Tuhan, jangan sampai mimpi ini jadi kenyataan." Ucapnya dalam tangisnya, dia pun berdiri menuju ke arah jendela, dia menatap lepas ke arah langit gelap yang bertabur dengan bintang.
" Apakah ini pertanda aku harus membenahi diriku? Karena aku tidak pernah bermimpi buruk seperti ini, ya Tuhan lindungilah aku, dan lindungilah orang-orang terdekat denganku." Ucapnya sembari terus menetap ke arah luar.
Dia pun tidak bisa lagi untuk memejamkan matanya melanjutkan tidurnya sampai pagi dia hanya duduk di sofa sembari membaca sebuah buku yang ada di dalam kamar tersebut.
Saat pagi menjelang dia mengambil handuk yang tergantung di dekat pintu kamarnya itu, dia kemudian masuk ke dalam kamar mandinya yang ada di dalam kamar tidurnya Itu, walaupun rumahnya Aira sederhana, namun di dua kamar tersebut memiliki kamar mandi masing-masing, dia pun kemudian melaksanakan ritual mandi paginya.
__ADS_1