
BAB 8 🌹
Aira yang sudah berada di ruangannya itu pun kemudian berdiri kembali, Dia kemudian melangkah menuju ke arah lift untuk membawa dirinya ke lantai atas di mana meja kerjanya Clara berada. Setelah dia keluar dari lift dia langsung tergesa-gesa menuju ke arah meja Clara.
" Clara!" panggil Aira, Clara menoleh ke arah Aira, dia tersenyum kemudian menghentikan pekerjaannya di depan laptopnya itu.
" Apa memang benar Kak Dino ingin bertemu kamu saja, kamu tidak ceritakan kalau aku disini."
" Aku tidak cerita sama sekali tentang kamu di sini, cuma aku lihat kakakmu itu sangat khawatir sekali dengan kamu."
Sontak saja membuat Clara terkejut.
" Kamu tak salah berbicara seperti itu?"
" Iya, Dia malah mengatakan kepadaku dia kehilangan jejak kamu saat kamu keluar dari rumah, dia tidak memperhatikan kamu itu perginya ke arah mana, karena dia berjanji pada diri dia sendiri kalau dia tidak ingin membiarkan kamu sendirian di jalanan, padahal aku ingin sekali mengatakan kalau kamu itu berada di tempat yang aman dan kamu juga sedikit demi sedikit sudah mulai berubah dan menyadari kesalahan kamu yang telah kamu lakukan, tapi aku tidak tega untuk mengatakan itu semua kepadanya, karena aku sudah janji padamu untuk tidak mengatakan itu kepada Mas Dino."
Clara kemudian meraih tangan Aira.
" Terima kasih ya, karena kamu sudah menepati janji kamu padaku."
" Tapi Clara, Aku juga merasa kasihan dengan Mas Dino, karena dia merasa kebingungan mencari kamu, apa setidaknya kamu bisa merubah pikiran kamu, agar kamu bisa bertemu dengan kakakmu itu, aku yakin Mas Dino tidak akan mengatakan kepada siapapun kalau kamu tinggal denganku, kalau masalah pekerjaan ini aku rasa keluarga kamu sudah tahu, terutama Ayah kamu, Kamu tahu kan kalau pemilik perusahaan ini sebenarnya adalah teman ayah kamu."
Lagi-lagi Clara terkejut dengan ucapan Aira.
" Kamu kok tahu banyak sih Aira."
" Aku pernah melihat ayah kamu bersama dengan Pak Himawan, orang tua dari Pak Kenric, bahkan beliau pernah memperkenalkan Ayah kamu pada kami semua, kalau Ayah kami sahabatnya sejak merintis perusahaan terdahulu, sebelum digantikan sama anaknya sekarang ini."
__ADS_1
Clara terdiam sesaat.
" Tapi aku ingin mengatakan semuanya kepada Mas Dino tentang keadaan kamu, tapi ya kembali lagi aku sudah terlanjur janji denganmu, tolonglah Clara pikirkan lagi, kasihan Mas Dino, dia itu sangat sayang kepadamu, terlihat sekali dari ucapannya saat itu."
Lagi-lagi Clara tidak bisa berbicara sama sekali mendengar keterangan dari Aira, dia merasa tidak yakin terhadap kakaknya Dino itu, sebab saat dia dimarahi sang papa Dino lah yang membenarkan apa yang dikatakan Papanya tersebut, agar Clara meninggalkan rumah mewahnya milik keluarganya itu.
" Ya udah, aku kembali ke ruanganku ya, aku berharap sekali kalau kamu bisa memikirkannya lagi, cukup untuk Mas Dino saja, agar dia mengetahui keadaan kamu, Aku yakin dia pasti akan senang kalau kamu berada bersama denganku."
Clara hanya terdiam.
" Aku pergi dulu..."
Clara menganggukkan kepalanya dia hanya menatap kepergian Aira dari hadapannya, langkah demi langkah Aira pun dipandanginya, walaupun pikirannya ada dua pilihan, mengiyakan apa yang dikatakan Aira atau tetap dengan pendirian dia sampai akhirnya sosok Aira hilang di dalam lift itu.
Clara menghela nafasnya dengan panjang, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya.
" Hai... Clara, Selamat pagi..."
" Pagi Santi ucap Clara sembari tersenyum pada rekan kerjanya itu.
" Kamu sudah buatkan minum Pak Bos?"
Clara menggelengkan kepalanya.
" Kenapa?"
" Pak Bos nggak ada, dia datangnya sebelum makan siang."
__ADS_1
" Baguslah kalau seperti itu, jika aku tahu aku lebih baik berangkatnya agak siangan." ucapnya sembari terkekeh, Mereka pun kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.
***
Clara tidak menyadari waktu makan Siang pun sudah tiba, namun dia masih berkutat dengan pekerjaannya dan mempersiapkan berkas yang akan dibawanya, dia pun terkejut setelah ponselnya berbunyi dia mengambil ponselnya dan langsung menjawab panggilan tersebut yang tak lain adalah dari Kenric sang Bos.
" Ke bawah sekarang! Aku sudah menunggu di bawah, Aku tidak mau terlalu lama menunggu."
" Baik Pak, saya akan segera ke sana." Dia pun langsung bergegas mengambil berkas yang sudah di persiapkannya sejak pagi tadi, namun dia terdiam tidak langsung memencet tombol lift itu.
" Apakah kak Dino ada di bawah bersama dengannya? kalau seandainya dia ada, celakalah aku, akhirnya dia pasti akan mengetahui kalau aku bekerja di tempat sahabatnya, di samping itu juga sahabatnya pasti tahu kalau aku adalah adik kak Dino, Sudahlah Clara, kalau memang akhirnya akan diketahui, mau apalagi." Ucapnya pasrah kemudian dia pun memencet tombol lift ke lantai utama kantor tersebut, debaran jantungnya semakin menjadi setelah lift itu terbuka, dia melangkah menuju ke arah pintu utama lobby, dia menengok kiri dan kanan namun dia tidak melihat mobil pribadi kakaknya itu, dia pun mengurut dadanya.
" Syukurlah kalau mobil Kak Dino Tidak ada, mungkin dia sudah mengantarkan Pak Bos aja ke kantornya ini "
Dia hanya berdiri di depan lobby dan dia pun dikejutkan oleh suara Kenric dari dalam mobil pribadinya.
" Ngapain kamu bengong di situ, sudah cepetan nanti Klien lama menunggu."
" Ba..Baik Pak..." Ucapnya kemudian melangkah menuju ke arah pintu kursi belakang mobil tersebut.
" Heh! Aku ini Bos kamu bukan sopir kamu, kenapa kamu duduk di belakang, cepat duduk di sampingku."
Lagi-lagi Clara merasa gagu dia pun kemudian melangkah keluar kembali dan menutup pintu samping tersebut, dia langsung duduk di samping pak Bosnya itu, beberapa saat kemudian mobil Kenric itu pun meninggalkan kantor News Group menuju ke arah tempat yang sudah dijanjikan untuk bertemu dengan klien di restoran Jepang siap saji.
Di dalam mobil tidak ada suara sama sekali, sesekali Ken melirik ke arah Clara.
" Kalau diperhatikan sekretarisku ini cantik juga ya, tapi kenapa dia terlihat bingung dan bengong seperti itu sih, baru aja dua hari bekerja, tapi terlihat nampak tidak bisa menguasai pekerjaannya, aku melihat data dirinya mengenyam pendidikan di luar Negeri, tapi seperti ada sesuatu yang berat sekali di dirinya." Gumam Ken, masih fokus dengan stir mobil pribadinya itu, mobil itu pun memasuki halaman restoran Jepang favorit Ken, dia selalu bertemu dengan kliennya di restoran itu sampai pelayan restoran itu pun mengenalnya.
__ADS_1