
Acasha menurunkan pandangannya. Dia terlihat menarik napas dalam, kemudian menghembuskan perlahan.
Langkah jenjangnya mulai terayun ke kamar dan aku mengikutinnya sebagai kupu-kupu biru.
Acasha mulai mengambil baju dari lemari dengan ukiran mewah yang ada di sudut kamarnya. Dia telah meraih bajunya kemudian mulai membuka gaun cantik yang melekat di tubuhnya.
Astaga! Bagian tangan Acasha hendak ditarik agar turun dari tubuh yang sedang dia kenakan. Sedikit demi sedikit gaun itu hendak turun melewati dada.
Spontan, sepasang mataku menutup rapat. Entah berapa lama, mataku masih terpejam sempurna hingga akhirnya ada suara dan sentuhan lembut yang menyadarkanku.
"Eros, sejak kapan kamu di sini?"
Aku membuka mata dan baru kusadari kalau Acasha sudah ada di depan mata. Dia telah berganti baju. Ah, dasar bod*h! Bukannya aku ingin melihat lekuk indah tubuhnya? Dasar Cleon!
Ada sedikit penyesalan karena ketika Acasha berganti baju, aku malah memejamkan mata. Tidak ada sedikit pun celah yang terbuka. Semua gelap.
Tetapi tidak aku pungkiri, ada kebanggan dalam diri karena aku bukanlah pengintip yang sama sekali p3ngecut. Ya Tuhan, hampir saja aku menjadi lelaki p3ngecut dan memalukan para dewa di atas sana.
"Tau, gak? Tadi Pangeranku datang. Aku memang tidak melihatnya, tapi aku sangat yakin, kalau dia lelaki yang tampan. Dia bertubuh tegap, bermata tajam bak elang, hidung yang mancung, rahang yang tegas, dan bibir yang --ah. Aku bingung untuk menggungkapkannya." Acasha menutup mata dengan telapak tangan hingga wajahnya hampir tertutup rapat.
Acasha, Acasha. Itu aku, Sayang. Lelaki yang menjelma menjadi kupu-kupu agar bisa terus bersamamu.
"Eros, aku capek hari ini. Tetapi, aku bahagia sudah bisa menghabiskan separuh malamku bersama dia --Lelaki yang singgah dalam mimpi dan nyata ada di dunia ini. Dia hidup, Eros." Acasha bercerita dengan binar mata bahagia.
Masih banyak cerita Acasha padaku yang masih menjelma kupu-kupu Eros. Aku semakin mengetahui perasaan Acasha.
Setelah cukup lama Acasha bercerita padaku. Dia membaringkan tubuhnya tepat di sampingku. Tidak memakai selimut. Gaun malam yang begitu menggoda karena memperlihatkan bagian sisi tubuh indah Acasha.
Lambat laun, sepasang mata itu terpejam. Bibir yang tadi seru untuk berucap, kini sunyi tanpa kata. Ya, Acasha tertidur. Dia mungkin telah tenggelam dalam mimpi indah.
***
Mentari pagi menelusup ventilasi kamar. Aku sengaja kembali menjelma sebagai Cleon, hanya untuk bisa membuka jendela kamar agar sang mentari hangat dapat masuk ke kamar Acasha.
Sinar yang berwarna kuning keemasan tidak terlalu tampak hari ini karena mendung yang cukup tebal di atas sana. Bukannya hangat, yang terasa pagi ini hanya semilir angin yang cukup dingin.
__ADS_1
Semakin ke sini, angin semakin kencang dan langit semakin mendung. Acasha masih betah memejamkan mata. Dia sama sekali tidak bergerak, meski angin menelusup kamar cukup kencang.
Aku memutuskan untuk menutup kembali jendela kamar kemudian berbalik untuk kembali ke ranjang di mana Acasha masih terlelap. Namun, ketika aku membalikkan tubuh, mataku membulat ketika gaun tidur Acasha sedikit tersingkap di bagian paha yang terlihat cukup jelas berwarna putih.
Mamvoss! Godaan bertubi-tubi menggodaku ketika dekat dengan Acasha.
Jantungku bergetar hebat dan keinginan semakin kuat untuk dapat memeluknya. Yakin, hanya memeluknya? Si4l! Kenapa rasa yang lebih, malah menghampiri pikiranku?
Eros, hilangkan hal itu dari ingatanmu!
Arrgghhh! Aku normal, wajar saja kalau aku tertarik. Segala rasa begitu bergelayut dalam diri dan angan yang terus menerawang.
Kulangkahkan kaki kemudian membaringkan tubuhku di samping Acasha. Tanganku dengan lembut menyentuh pipi Acasha. Namun, ketika sepasang mata indah itu hendak terbuka, dengan cepat aku menutupnya dengan telapak tangan dan membisikan sesuatu padanya.
"Aku hanya ingin tidur di sampingmu. Aku berjanji, tidak akan macam-macam."
"Tuan Cleon?" gumamnya.
"Iya. Aku Cleon. Lelaki yang ada dalam mimpimu, lelaki yang kini menjelma dan nyata di sampingmu. Bolehkah aku membaringkan tubuhku di sampingmu? Aku ingin mendekapmu hangat."
Acasha mengangguk. Dia kemudian memiringkan tubuhnya.
"Aku ingin matamu ditutup, boleh?" bisikku mesra dengan bibir sedikit menyentuh belakang telinganya.
"Boleh, Tuan. Lakukanlah."
Acasha duduk membelakangiku. Tangan ini mulai menutup matanya dengan sehelai kain sutra yang lembut. Kuikat cukup kuat agar tidak terlepas.
"Sakit?" bisiku sambil mengesampingkan rambutnya yang panjang.
"Tidak," katanya dengan suara pelan. "Tuan, boleh aku meminta sesuatu?" sambungnya.
Posisi kami kini telah saling berhadapan. Entah, apa yang diinginkan Acasha dariku.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku ingin memelukmu erat. Seperti malam tadi," katanya lirih.
Aku tidak menjawab. Namun, tanganku dengan cepat menenggelamkan Acasha dalam dada. Bibirnya terukir indah ketika aku mengecup pucuk kepalanya.
"Terima kasih, Tuan. Aku nyaman, aku merasakan debar jantungmu saat ini. Apa Tuan menginginkan hal yang lebih dariku?"
Arrghhh! Kenapa pertanyaan Acasha seolah memancingku?
"Maksudnya?" tanyaku berpura-pura tidak mengerti.
Tangan Acasha seperti mencariku. Aku meraih kedua tangan Acasha, kemudian menempelkannya di dada. Entah, apa yang ada dalam pikiran gadis ini. Tiba-tiba saja, Acasha mendorong tubuhku hingga aku terbaring di atas ranjang. Kini, posisi Acasha ada di atas tubuhku. Bibirnya mengecup tiap inci leherku yang membuat gejolak jiwa semakin meronta. Lorddd ... help me!!! Aku sungguh terbuai oleh segala sentuhan dan kecupan Acasha pagi ini.
***
"Tuan Putri!" Seorang perempuan memanggil Acasha.
Aku segera mengubah menjadi kupu-kupu kemudian terbang menjauhi Acasha dengan gaun tidur yang cukup berantakan. Mati!
"Putri Acasha? Boleh saya masuk?" Lagi, suara wanita itu memanggil Acasha sembari mengetuk pintu.
Untung saja mata Acasha terbuka dan dia sepertinya menyadari kalau gaunnya berantakan. Sedangkan kain sutra yang melekat di matanya telah terjatuh sedari tadi. Mungkin saja, jatuh ketika kami berdua terlelap di peraduan.
"Ya Tuhan!" Acasha bergegas menyisir rambut kemudian membenahi gaun tidurnya. "Tuan, kau masih di sini? Tuan Cleon?" panggilnya pelan.
"Ah ... sepertinya dia telah pergi." Acasha bergegas membuka pintu. Ternyata seorang pembantu telah membawakan menu sarapan lengkap untuk Acasha.
"Permisi Tuan Putri, saya ditugaskan untuk mengantarkan sarapan untuk Tuan Putri," katanya dengan seulas senyum.
"Simpan saja di atas meja itu. Nanti aku makan. Oh, iya. Apakah Ayah masih ada di sini?"
"Raja masih di sini. Mungkin sebentar lagi akan berkeliling desa untuk mengunjungi rakyat-rakyatnya."
"Oh, oke! Terima kasih untuk informasinya."
Pelayan itu masuk kamar setelah Acasha mengizinkannya. Meletakan makanan dan minuman itu kemudian kembali berpamitan dan menghilang dari balik pintu kamar Acasha.
__ADS_1
"Tuan, kenapa aku semakin menggila padamu? Aku merasa tersiksa ketika kau jauh dariku. Aku tidak ingin melihat wajahmu, seumpama hal itu akan menjauhkanku darimu. Aku rela menjadi sosok buta di hadapanmu. Buta mata untuk melihat wajahmu. Namun mata hatiku terang oleh cinta tulus yang kita miliki," kata Acasha terjeda.
"Kita?" Bibirnya tersungging masam. "Belum tentu juga kau mencintaiku, Tuan. Tolong jangan siksa aku wahai Tuan Cleon," kata Acasha sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.