
Hari terus berganti. Sepertinya, Acasha masih gamang dengan keputusan yang telah diambil. Dalam kamar luasnya, dia duduk di tepi ranjang dan seolah membayangkan sesuatu yang entah apa.
Aku masih menjelma menjadi seekor kupu-kupu cantik untuk melihat kesiapan Acasha apabila aku tinggalkan nanti.
Cukup lama dia duduk diam tanpa aktivitas apa pun. Dia sepertinya merasakan kesepian tanpa adanya aku di sisinya.
"Apa aku sanggup apabila nanti jauh dari dia, Tuhan?" ucap lirih Acasha dengan menarik napas dalam.
Wajahnya mendongak dengan mata berkaca, menatap langit-langit kamar seolah menahan air mata. Namun, semuanya seolah sia-sia. Air matanya terjatuh membasahi pipi. Jemari lentiknya mengusap air itu dengan cepat.
Aku masih memperhatikan Acasha hingga langit kembali gelap karena eksistensi mentari yang telah tenggelam dan berganti dengan sinar rembulan yang baru saja naik. Aku masih mempunyai beberapa saat untuk bersama Acasha sebelum aku benar-benar jauh darinya.
Tubuh Acasha masih terbaring di ranjang dari sore tadi. Tanpa sepengetahuan dia. Aku mengubah diri menjadi Cleon Eros dan berjalan menghampiri dirinya.
Perlahan, aku menaiki ranjang berukuran besar ketika Acasha masih terbaring menyamping. Aku mulai memeluknya, melingkarkan tangan di perutnya.
"Tuan?" Acasha memanggilku.
"Iya. Ini aku," jawabku dengan dagu yang bertengger di pundaknya.
Aku mengangkat wajah lalu mengecup pucuk kepalanya dengan hangat. Tangan Acasha semakin erat memegang tanganku.
Sesaat, aku terdiam. Memberikan kesempatan pada Acasha untuk merasakan dekapan hangat yang mungkin saja akan dia rindukan ketika aku jauh darinya.
"Apakah kau siap untuk kutinggalkan?"
Acasha menggeleng.
"Lalu, aku harus bagaimana? Apa iya, aku harus membatalkan keberangkatanku malam ini?"
Hening.
Dalam beberapa saat, keadaan terasa sepi. Di kamar ini seolah tidak berpenghuni dengan segala kebisuan kami. Canda tawa seolah tenggelam malam ini. Tidak ada lagi senyum atau nyanyian indah dari bibir Acasha.
"Berangkatlah. Aku akan menunggumu di sini, Tuan," ujar Acasha sambil menarik napas dan mengembuskan perlahan seolah mencoba melepaskan beban yang dia punya.
"Terima kasih kau mau menungguku."
"Aku menagih janjimu, Tuan. Hati-hati, ya?"
"Pasti, Sayang. Doakan aku," kataku dengan tubuh yang semakin erat melekat dengan Acasha.
"Tanpa kau minta, aku akan selalu mendoakanmu, Sayang," jawab Acasha.
"Sayang? Kau memanggilku Sayang?" Aku bertanya untuk memastikan, apakah aku tadi salah mendengar, ataukah memang Acasha mengatakan satu kata itu?
__ADS_1
Acasha mengangguk.
Aku mengajak Acasha untuk duduk di kursi kayu yang berada di balkon kamar hanya untuk menghabiskan waktu yang tinggal beberapa saat lagi.
Kami menikmati langit yang bertabur bintang dan rembulan yang kini semakin terlihat.
"Sayang, waktuku tinggal beberapa menit lagi," kataku.
Acasha tidak menjawab. Malam ini dia banyak membisu yang membuatku terasa aneh. Entah, rasa apa yang kurasa saat ini. Entah sedih atau semangat.
Semilir angin malam yang seolah memeluk kami dalam kedinginan yang abadi. Akankah rasa hangat itu sanggup kubawa? Semoga.
"Jangan bersedih. Aku berjanji tidak akan lama. Aku akan kembali."
"Iya. Aku mencoba untuk percaya."
"Kau yakin?" tanyaku dengan mata menyipit ketika aku duduk tepat di sampingnya.
Acasha meraih kain kemudian menutup matanya. Jemari lentiknya mencari sesuatu. Dia mulai meraba dan akhirnya berhenti ketika menggenggam tanganku.
"Sesungguhnya aku tidak yakin dengan segala risiko yang pastinya sangat berat, Sayang. Apakah kau yakin akan mendapatkan apel emas itu?" tanya Acasha terdengar ragu.
"Risiko pastilah besar. Jujur saja, aku pun baru mendengar apel emas ini dari dewa lain. Dia Kakakku."
"Kau mempunyai Kakak, Sayang?" tanya Acasha penuh kelembutan.
"Lalu, kenapa kau tidak mengikuti ucapan Kakakmu, Sayang?"
"Karena aku yakin, aku akan berhasil membawa apel emas itu agar kita bersatu."
Sesungguhnya aku sedikit berbohong tentang seseorang yang memberi tahu, karena Hazzel lah yang memberi tahu tentang keadaan apel emas yang tersembunyi di dasar laut dalam. Akan tetapi, hal ini terlalu berisiko. Aku takut membongkar identitas Hazzel pada Acasha.
"Sayang. Sesungguhnya, aku telah mengenal salah satu dewa sebelum kamu."
Mataku menyipit.
"Aku mengenal salah satu dewa itu ketika aku masih berusia remaja. Sama sepertimu, aku hanya dapat mendengar suaranya dan hampir mirip sepertimu. Apakah suara seorang dewa itu sama semua?" tanya Acasha yang sedikit membuatku tersenyum.
"Tidak. Mungkin saja dia Kakakku." Aku tertegun ketika mengucapkan hal tersebut. Apa iya, Damien lebih dulu bertemu Acasha? Kalau iya, apakah Acasha mencintai Damien?
"Mungkin. Dia bernama Dam--"
"Dam?"
"Astaga, aku lupa namanya. Tapi yang aku ingat nama awalnya berinisial D- Dam -- Ahh ... aku lupa, Sayang. Yang aku ingat hanya suaranya saja, mirip sepertimu," jawab Acasha yang membuatku cukup penasaran.
__ADS_1
Kalau memang iya, dia itu Damien. Apakah Acasha mencintainya?
"Sayang?" Acasha memanggilku.
"I-iya."
"Kenapa diam? Apa kamu sakit?" tanya Acasha yang kemudian tangannya mencari-cari sesuatu. Jemari lentik itu terdiam, ketika telah berada di dahiku. "Normal. Kamu gak panas, Sayang."
Aku tersenyum.
"Siapa yang bilang aku sakit?"
"Aku hanya khawatir karena tadi kamu diam saja, Sayang. Padahal, ini malam terakhir kita berdua. Sebentar lagi kau akan pergi meninggalkan--" Aku membekap bibir Acasha agar dia tidak banyak bicara hal buruk.
"Ssttt ... aku tidak ingin mendengar hal buruk malam ini. Doakan saja aku. Hanya itu."
"Lalu, kenapa tadi kau diam, Sayang?"
"Sesungguhnya ada satu hal yang ingin kutanyakan tadi."
"Apa?"
"Jawab dengan jujur, ya?" pintaku.
Acasha mengangguk.
"Apa kau mencintai dewa yang dulu kau temui di usia remaja?" Akhirnya pertanyaan yang ada dalam hati telah terungkap.
Sungguh di luar dugaan. Acasha malah tertawa lepas di hadapanku yang membuat dahi mengernyit heran.
"Kenapa? Kok malah ketawa?"
"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud menertawakanmu. Aku hanya merasa lucu dengan pertanyaanmu tadi," kata Acasha dengan bibir yang masih tersenyum.
"Lucu?"
"Iya. Mana mungkin aku mencintainya, Sayang? Saat itu, aku masih belia dan belum mempunyai rasa ketertarikan pada lawan jenis," katanya.
"Jadi?" tanyaku mempertegas.
"Ya tidak ada yang harus diperjelas, karena aku tidak ada rasa cinta untuknya, pun, dengan lelaki lain. Hanya kau, Sayang. Terkadang, aku tersenyum apabila mengingat pertemuan kita di mimpi. Aku tidak menyangka ternyata Cleon Eros itu nyata. Aku kira, dia hanya bunga tidur yang selalu mengusik ketika mataku terpejam." Acasha tersenyum.
Perbincangan yang mulai menghangat harus segera berakhir ketika sang rembulan semakin naik.
Aku menenggelamkan wajah Acasha dalam dekapan. Membiarkannya merasa hangat walau mungkin dengan rasa heran.
__ADS_1
"Aku berangkat, Sayang," ucapku terdengar lirih karena hati yang begitu berat meninggalkannya.