
'Uhuk!'
Aku membuka mata ketika mentari hangat menyinari tubuh.
"Di mana aku?"
Di hamparan pasir putih yang dialasi oleh anyaman daun kelapa sebagai alas. Aku merasakan hangat dari mentari yang telah menyinari dengan warna keemasan.
"Sudah bangun?" Terdengar suara lelaki yang baru saja aku kenal. Entah kenapa, aku mulai menghafal suara itu.
Aku memandang lelaki yang bertanya padaku dengan tatapan sinis. Jika benar dia itu ayahku, betapa dia terlalu egois meninggalkan Ibu, aku dan Damien yang harusnya dia jaga.
"Apa ada yang terluka?" lanjut lelaki itu lagi dan aku menggeleng.
"Tidak. Aku baik-baik saja, hanya saja ada hati yang terluka karena ulah Anda."
Lelaki itu tampak tenang, membuat aku bertanya tentang siapakah dia sesungguhnya? Lelaki yang semalam menyebutkan seorang ayah dariku. Apa dia memang tidak merasa bersalah?
Aku melihat lelaki itu menyalakan api dan tidak terlalu lama, aroma wangi ikan telah tercium dan membuatku lapar.
Setelah cukup lama dalam kebisuan, akhirnya ikan pun telah matang dan lelaki itu berjalan mendekatiku. "Makanlah, kau lapar, 'kan?" katanya.
Dia memberikan satu ikan untukku. Kami menikmati ikan bakar di pinggir pantai. Bersama mentari pagi dan angin yang segar. Burung-burung terlihat berterbangan di atas langit yang berwana biru. Bersama cicit riang kawanan burung kecil, seolah menjadi nyanyian di pagi ini. Indah. Akan tetapi, tidak dengan hatiku.
"Lanjutkan perkataanmu, Eros," ujar si lelaki yang membuat pandanganku kini menuju ke arahnya.
"Yang mana?" Dahiku mengernyit.
"Kau bilang kalau kau baik-baik saja. Akan tetapi-- di kalimat itu kau menghentikan ucapanmu," katanya dengan sorot mata teduh ketika memandangku.
Aku menarik napas dalam. "Apakah benar, Anda itu ayahku?"
Dia tersenyum kemudian memalingkan pandangannya pada lautan yang terhampar begitu luas di depan sana.
"Apakah kau tidak dapat melihat sorot mata dan wajah kita yang teramat mirip? Bahkan, jika aku masih seusiamu. Aku yakin kalau wajah kita sama. Apakah itu belum bisa menjadi bukti untukmu?"
"Kalau Anda memang benar ayahku. Tolong jelaskan kenapa kau meninggalkan kami? Terlebih ibu yang begitu mencintai sosokmu."
Pandangan yang lurus menatap lautan, kini tertunduk lesu. Dia terlihat menarik napas dan mengembuskannya perlahan.
__ADS_1
Lelaki itu mulai bercerita. Dia mulai menerangkan tenang kepergiannya ke laut dalam itu untuk mendapatkan apel emas, sama sepertiku. Bedanya, Ayah telah menikah dengan ibu serta telah dikarunia dua anak yang mempunyai paras tampan.
"Waktu itu, aku berpamitan pada ibumu. Sama sepertimu. Bukankah ini yang kau cari hingga kau memaksakan diri untuk menyelam hingga ke lautan dalam?" Dia memperlihatkan dua benda kecil yang berkilau.
"Apel emas?" Mataku membulat ketika melihat benda kecil yang tidak jauh sebesar kepalan tangan anak kecil dan bersinar ketika terkena sorot matahari.
Dia mengangguk.
"Inilah alasanku dulu meninggalkan kalian. Hanya saja aku terkurung di dasar lautan." Dia kembali tertunduk lesu.
"Kenapa? Kok bisa?"
"Aku tidak sekuat tekadmu. Aku lemah," katanya bernada lirih.
"Lemah?"
"Iya. Aku terlena oleh kecantikan Clara. Dia dulu memberikanku dua apel emas. Dan--"
Aku masih menunggu jawaban darinya. Akan penjelasan sedetail-detailnya.
Dia mulai bercerita. Tentang dulu mendapatkan dua apel emas. Lelaki paruh baya itu menyebutkan bahwa Clara memang menepati janjinya memberikan apel emas itu. Akan tetapi, dia tidak menyangka akan berujung nahas seperti saat ini. Karena dia harus terkurung di dasar lautan.
Aku menatapnya tajam.
"Aku tau kau marah, Eros. Aku terima karena memang kalian memang pantas untuk kecewa terhadapku," katanya tertunduk.
"Aku memang kecewa terhadap Anda. Tetapi, ada wanita cantik di atas langit yang akan lebih kecewa lagi daripadaku!"
"Aku terima dan aku pasrah akan hukuman kalian terhadapku," ucapnya lirih dan memberikan dua apel emas itu untukku.
"Tapi, kenapa kau mempunyai kaki? Bukankah, di dalam sana kau mempunyai sirip?" tanyaku dengan mata menyipit.
"Ekorku dapat berubah selama satu jam saja dan setelah itu, kaki ini akan kembali menjadi ekor karena ulahku sendiri."
"Lalu, kenapa Anda berikan apel emas itu padaku? Bukankah Anda pun membutuhkannya?"
Dia menggeleng.
"Terimalah, ini sebagai permintaan maafku untukmu, Eros. Terlepas ibumu memafkanku atau tidak. Aku pasrah karena aku memang salah."
__ADS_1
Ketika seseorang lena dalam rayuan dan paras wanita. Dia akan melupakan berlian yang mereka punya sebelumnya. Istri yang baik, dua anak lelaki yang tampan dan kebahagiaan yang harusnya dia teguk seakan semu. Semua hilang karena ***** sesaat.
Aku menerima apel itu. Ada rasa iba ketika melihat kakinya kembali bersisik kemudian kembali menjadi ekor. Dengan cepat, dia ke tepi pantai karena lautlah rumahnya.
"Pergilah, Eros. Raihlah kebahagiaanmu bersama wanita yang kau cintai," katanya ketika sudah ada di tepi lautan dan beringsut semakin menjauh.
Entah kenapa, ada rasa sedih dalam hati. Sakit ketika dia hendak kembali menjauh. Mungkin, ibu pun akan mengalami hal yang sama denganku. Atau bahkan, beliau akan berkali-kali lipat merasakan sakit.
"Tunggu!" Aku berteriak.
Ayah sepertinya terdiam dan dia menoleh padaku.
Aku berjalan ke tepi pantai dan kini kami saling berhadapan.
"Pulanglah, Ayah. Ibu pasti bahagia melihat Ayah masih hidup."
"Tidak. Itu apel hakmu, Nak. Biarlah ayah tinggal di dasar laut. Mungkin, takdir Ayah dan ibumu memang tertulis tidak mungkin bersatu."
Aku memberikan apel itu untuknya. "Ambillah."
Ayah menggeleng.
"Please, aku mohon, Ayah. Pulanglah demi ibu. Dia begitu merindukanmu."
"Tapi Aku tidak bisa, Eros. Aku terlalu malu untuk kembali bersama ibumu atas pengkhianatan yang ibu perbuat padanya dulu. Nikmat sesaat yang kemudian berakhir kesengsaraan. Tidak dapat memiliki Clara dan malu untuk kembali bersama istri sendiri."
"Biar ini menjadi rahasia kita, Ayah."
"Maksudnya?"
"Aku akan menjaga pengkhianatan ayah terhadap ibu. Asalkan Ayah berjanji tidak akan mengulangi," pintaku dengan tatap tajam.
"Tidak, Eros. Aku terlalu malu dan aku terlalu hina untuk kembali ke istana."
Aku meraih tangannya dan memberikan satu apel emas padanya. "Ambil dan makanlah. Toh, aku hanya membutuhkan satu apel emas saja untuk bersatu dengan Acasha, wanita yang sangat aku cintai."
"Aku malu." Ayah masih bersikeras menolak.
"Ayah. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Aku akan menjaga aibmu. Percayalah, tidak ada satu pun yang akan mengetahui kekhilafan Ayah dulu."
__ADS_1
Ayah memandang lekat-lekat wajahku. Mata kami saling menatap dan terlihat kaca-kaca dari binar mata tuanya. Dia memelukku erat dan berbisik, "terima kasih, Eros. Akan kujaga kepercayaan yang kau beri untukku. Aku bersyukur mempunyai anak sepertimu. Walau sejak kecil, kau tidak pernah merasakan dekapanku. Tetapi, ketika aku dalam masalah seperti saat ini. Kaulah yang datang sebagai penolong. Restuku akan selalu bersamamu, Nak."