
Aku terbang mengikuti langkah kaki jenjang Acasha. Rambut panjangnya yang terurai terlihat melambai tertiup angin. Langit sore begitu indah berwarna jingga dengan bola raksasa jingga kemerahan yang mulai tenggelam, tanda berakhir tugasnya hari ini.
Tibalah kami di depan pintu gerbang kerajaan yang terlihat begitu megah terbuat dari baja yang kokoh dan kuat membentengi istana.
"Eros, terbanglah ke atas sana. Aku akan masuk melalui pintu istana, sedangkan engkau masuklah melalui jendela. Ingat, kamarku ada di bangunan paling atas. Tunggulah aku di sana." Acasha tersenyum manis.
Aku terbang sebagai kupu-kupu biru melewati pembatas gerbang. Terbang semakin tinggi, hingga akhirnya sampai juga di jendela teratas. Di sana terlihat kasur yang besar, lemari pakaian dan entah, masih banyak lagi yang aku lihat.
Pintu kamar itu terdorong masuk, di sana terlihat wajah cantik dari balik pintu berukir emas. Acasha tersenyum ketika sepasang mata indahnya melihatku yang hinggap di luar jendela.
Jendela kaca pun terbuka, aku terbang lalu masuk ke kamar Acasha. Lagi-lagi dia menyambutku dengan senyum termanis.
"Kau pintar. Terima kasih sudah mau berteman denganku," katanya masih dengan seulas senyuman.
Tetapi, tidak berselang lama senyum itu memudar. Hilang. Berganti dengan raut wajah sedih yang dia tekuk.
"Eros, aku sedih. Aku sesungguhnya tidak mau dijodohkan dengan pangeran Charles. Dia begitu arogan dan aku tidak ingin dengannya. Sesungguhnya hal ini bukan kali pertama, ayah mencoba menjodohkanku dengan banyak pangeran. Aku bersyukur karena akhirnya berujung dengan pembatalan. Tetapi--" ucap Acasha terhenti disertai air bening yang terjatuh dari kedua sudut mata indahnya.
"Untuk sekarang aku tidak tau bisa terlepas atau tidak dari Pangeran Charles. Karena setahuku, dulu dia begitu menyukaiku. Ketika kami masih diusia remaja, sebelum dia mewarisi tahta kerajaan." Acasha bersuara lirih. Ingin rasanya memeluk dia, tapi aku siapa? Hanya seekor kupu-kupu kecil yang tidak dapat merengkuhnya dalam kenyamanan.
Aku hinggap di punggung tangannya. Berharap, dia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dari sini. Oh Tuhan, tidak mungkin juga aku melalaikan perintah Ibu. Bisa-bisa aku dikeluarkan dari deretan nama para dewa di atas sana.
Langit semakin menghitam. Udara dingin semakin terasa malam ini. Alunan musik kini terdengar sayup. Rupanya di bawah sana telah mempersiapkan untuk menjamu Raja Charles beserta rombongan yang akan datang.
Acasha mulai berganti baju. Gaun warna putih berlengan panjang dan bawahan terjuntai panjang menjadikannya terlihat semakin cantik.
"Putri Acasha!" Suara perempuan memanggil dari balik pintu.
"Masuk!"
__ADS_1
Pintu itu terbuka, terlihat wanita yang mungkin berusia tidak jauh dari Acasha melangkah masuk. Dia tampak cantik dengan rambut panjang yang diikat dan penampilan yang terlihat elegan.
"Saya Nora, yang diutus kerjaan untuk mendandani Tuan Putri," katanya dengan wajah tertunduk sebagai penghormatan ketika berbicara pada Tuan Putri.
"Baiklah, silahkan lakukan tugasmu."
"Baik." Nora mengangguk, dia mulai membuka alat tempur yang ada dalam kotak berangkasnya.
Jemari Nora mulai meraih satu persatu alat makeup yang entah apa namanya. Sesuatu yang bertekstur creamy telah dia bubuhan pada pipi Acasha kemudian kembali dia menepuk-nepukkan sesuatu yang terlihat padat pada pipi Acasha.
Kini Sang Putri terlihat semakin cantik. Wajah yang terlihat semakin tajam tetapi cantik dengan polesan makeup dari seseorang yang bernama Nora.
"Tugas saya selesai, Tuan Putri. Putri Acasha terlihat semakin cantik malam ini," puji Nora yang kembali tertunduk.
Acasha hanya tersenyum getir. Bibir merah itu seolah dipaksakan untuk mengulum senyum.
"Saya permisi Putri Acasha."
Waktu menunjukkan jam delapan malam. Di depan sana terdengar iring-iringan kuda dan prajurit yang bersuara kencang hingga terdengar ke kamar membuat Acasha terperanjat. Mata itu berkedip seolah raga yang tadi pergi entah ke mana, kini kembali ke tubuhnya.
"Eros, dia datang," ucapnya dengan ekspresi kaget.
Acasha segera bangkit dari depan meja riasnya kemudian merapikan gaun yang terlihat indah. Tidak berselang lama, kedua wanita yang mungkin ditugaskan untuk menjemput Acasha telah masuk ke kamar dengan seulas senyum.
"Mari, Tuan Putri ...." Suara ramah dari keduanya mempersilahkan Acasha untuk ikut dengan mereka.
"Kalian tunggu sebentar di luar, aku mau sedikit membenahi gaun ini," perintah Acasha yang dibarengi anggukan dari kedua wanita itu.
Mereka keluar dari kamar Acasha, sedangkan putri yang terlihat cantik ini mendekat ke arahku.
__ADS_1
"Eros, ingat. Apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh keluar dari sini, ya? Doakan aku, semoga perjodohan ini kembali gagal," katanya dengan jemari mengusap lembut kedua sayapku.
Acasha berjalan menjauh dariku. Entah kenapa hati ini begitu berat ketika dia melangkahkan kaki menuruni anak tangga bersama kedua wanita yang ditugaskan untuk menjemputnya. Aku hanya dapat melihat dari celah kecil di kamar Acasha. Terlihat kedua wanita itu memegangi gaun Acasha.
"Arghhh! Tidak mungkin aku hanya diam di sini."
Aku mengubah diri ini menjadi sosok Cleon Eros yang tampan sesuai dengan julukanku di atas sana. Kakiku mondar-mandir berjalan tanpa tujuan.
Apabila aku terus di sini, mungkin saja akan kehilangan momen disaat Acasha memberikan jawaban pada Charles.
Bergegas aku merubah pakaianku seperti prajurit perang kerajaan, berpakaian serba hitam dengan membawa tameng juga pedang di bagian pinggang. Aku mulai berjalan menuruni anak tangga dengan lantai batu hitam legam.
Di bawah sana sudah ramai untuk menjamu Pangeran Charles dan rombongan yang datang ke istana Putri Acasha. Peluk hangat terlihat antara sang raja dengan Pangeran Charles, sementara Acasha hanya duduk mengamati dengan ekspresi wajah tidak suka.
Keakraban semakin terlihat ketika perjamuan itu berlangsung. Kenapa ada yang panas di dalam sini ketika melihat keakraban antara raja yang tak lain ayah Acasha dengan Pangeran Charles?
Seketika aku mengeluarkan busur cinta berwarna gold untuk membidik Acasha. Aku tidak peduli dengan tugas yang diberikan Ibu.
Segera kubidik dada Acasha dan seketika lenganku bergetar ketika sepasang mata indah itu kini tertuju padaku.
Manik mata Acasha terlihat heran ketika melihatku, mungkin baginya aku merupakan sosok asing yang ada dalam kerajaannya. Si4l! Entah kenapa sorot mata itu melenakanku. Manik matanya begitu indah ketika menatapku saat ini.
Hatiku mulai menghangat melihat wajah cantik jelita yang kini sedang kusaksikan. Entah sadar atau tidak, ada sesuatu yang aneh dalam diri. Hasrat ingin memiliki Acasha begitu tinggi. Satu detik mengerikan telah cukup membuatku tersadar. Bahwa anak panah di tangan, telah menembus hatiku.
Ya, hatiku sendiri.
Apakah ada hal yang lebih konyol daripada ini? Aku, Cleon Eros --Si Dewa Cinta yang terkenal tidak pernah gagal melesatkan anak panah cinta pada sasarannya, di hari ini malah menancapkan anak panah itu di dadaku sendiri.
Ini seolah lelucon. Dimana Dewa cinta paling tol*l memanah dirinya sendiri kemudian jatuh cinta.
__ADS_1