CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Perjalanan


__ADS_3

Kembali berjalan melewati hutan rimba. Aku dapat melihat bias mentari dari ujung sana. Mungkin saja itu ujung dari hutan belantara ini.


Masih berjalan dengan hati tangguh dan yakin akan menemukan apel emas yang akan mempersatukanku dengan Acasha.


Semilir angin yang berbeda kini terasa menerpa tubuh yang sesungguhnya mulai lemah karena perjalanan panjang dari kerajaan hingga kaki ini berpijak di siang yang begitu terik.


Angin pantai mulai terasa, aku semakin mempercepat langkah. Tidak sabar untuk mendapatkan apel emas.


Kini terlihat pasir putih terhampar luas di depan mata. Air berwarna biru dengan ombak yang cukup tenang siang ini.


Keringat telah mengucur sedari tadi. Lelah yang kurasa seketika terasa sirna ketika melihat ciptaan-Nya. Warna biru yang terhampar luas begitu menyejukkan pandangan.


Aku memilih untuk beristirahat di bawah pohon rindang di tepi pantai. Melihat ombak yang berbuih putih dan merasakan lembut hamparan pasir putih yang aku duduki saat ini.


"Bagaimana aku menyelam? Bisa mati kalau harus sampai ke dasar lautan."


Aku masih duduk sambil berpikir dengan cara apa menyelam tanpa alat bantu atau kekuatan menahan napas ketika aku masih mempunyai energi dewa.


"Ambil ini!"


Aku melirik pada benda yang dilempar, tepat mengenai tanganku. Dia berwarna hijau seperti jeli.


"Apa ini?" Aku meraihnya kemudian mencari arah sumber suara yang sepertinya ada di atas.


Rupanya ada seekor burung merpati putih. Sayapnya masih mengepak tepat berada di kepalaku.


"Apakah kau yang melempar benda ini, wahai Tuan burung?" Aku masih mendongak ketika bertanya pada seekor merpati putih.


Perlahan, burung itu pun turun kemudian menapakkan kakinya di dahan ranting pohon yang kering tepat berada di sampingku.


"Ya. Akulah yang melempar rumput ajaib itu," katanya yang membuatku heran.


"Rumput ajaib? Untuk apa?" tanyaku dengan mata menyipit melihat sang merpati.


"Itu untuk membantumu menahan napas. Bawa saja dan teruslah memakan kalau waktunya lewat dari satu jam. Satu helai rumput ajaib itu akan menahan napasmu selama satu jam," katanya yang membuatku tersenyum kecut.


"Bagaimana rumput bisa menahan napasku? Kau jangan mengada-ada," kataku dengan seulas senyuman.


"Itu rumput ajaib. Bukankah kau akan menyelam ke dasar lautan?"


"Dari mana kau tau?"

__ADS_1


"Tidak usah kau tau. Sesungguhnya, di dalam sana banyak rumput seperti ini. Tetapi hanya beberapa saja yang mengetahui letaknya di dalam sana. Makanya, aku memberikanmu cukup banyak agar bisa menyelam lebih lama untuk mencari apel emas."


Wow ... apa aku harus mempercayainya?


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Tidak percaya?" kata si merpati.


Aku terdiam.


"Kasih aku sehelai rumput. Aku akan memperlihatkannya padamu."


Tanpa ragu, aku pun memberikan sehelai rumput itu padanya. Merpati putih itu memakannya, tidak berselang lama setelah dia memakan. Merpati itu mengepakkan sayapnya dan terbang di atas lautan.


Awalnya sempat ragu. Tetapi merpati itu melesat dari atas lautan dan tidak terlihat karena dia telah menceburkan diri ke lautan.


"Apa dia akan mati?"


Aku menunggunya cukup lama. Malah sempat-sempatnya aku memainkan lembutnya butiran pasir. Ah, seperti anak kecil saja.


Hingga waktu hampir satu jam, merpati itu belum menampakan dirinya. Apa dia mati karena kehabisan napas? Atau, dia mati karena dimakan ikan besar? Entahlah, aku hanya bisa menunggunya saja walau ragu.


Aku masih memainkan pasir lembut dan cukup tercengang ketika benda kecil terlihat terbang dari lautan. Apakah merpati yang tadi?


Merpati putih itu terbang mendekatiku, setelah dia berputar-putar di atas lautan.


"Oke. Aku percaya. Apakah kau tahu letak apel emas itu?"


"Persisnya aku tidak tau. Tetapi, rumor yang kudengar, pohon itu dijaga oleh gurita raksasa."


"Wow!"


"Berangkatlah."


Tidak ada ucapan lagi, merpati putih itu terbang dan tidak terlihat lagi dari pandanganku.


"Acasha, demi kamu, aku akan berusaha, Sayang."


Aku bangkit dari pasir lembut yang menjadi tempatku beristirahat tadi. Melangkah mendekati pinggiran pantai kemudian berjalan ke tengah.


"Semoga aku bisa memenuhi janjiku untukmu, Acasha."


Aku menghela napas sebentar. Sedangkan setengah tubuhku telah basah oleh air laut. Aku menutup mata setelah makan rumput yang berbentuk jeli dari sang merpati.

__ADS_1


Aku mulai menyelam dan ternyata, sama sekali tidak sesak. Aku terasa berada di daratan. Berarti, merpati itu tidak berbohong.


Hewan laut mulai terlihat. Beberapa di antaranya ada beberapa hiu yang melintas dan cukup membuatku sedikit bergetar. Untung saja mereka tidak menghiraukan aku yang sesungguhnya bukan penghuni lautan. Ikan-ikan kecil, kura-kura, bintang laut dan masih banyak lagi hewan yang aku temui selama berenang di sini.


Kenapa dadaku terasa sesak? Apakah waktunya hampir habis?


Aku kembali meraih rumput ajaib pemberian si merpati lalu kembali memakannya.


Syukurlah, semuanya kembali normal. Kini aku tidak sesak lagi dan bisa menyelam lebih dalam ke dasar laut.


Di sana banyak terumbu karang yang menandakan aku hampir sampai di tujuan. Akan tetapi, aku tidak tahu letak pohon apel itu berada di mana?


Aku menginjakkan kaki di dasar laut. Di sini gelap, tetapi entah dari mana datangnya seberkas cahaya yang selalu mengikutiku seolah-olah senter yang menerangi jalanku.


"Tuan?" Suara wanita memanggilku. Aku menoleh. Ternyata dia seekor duyung dengan paras yang cukup cantik.


Aku menatapnya.


"Apa kau Tuan yang sedang mencari apel emas itu?"


Aku mengernyitkan dahi. "Dari mana kau tahu?"


"Tidak usah kau tau, Tuan. Ke marilah, ikuti aku," katanya sambil mengulurkan tangan dan kini terlihat jemari lentik si ikan duyung bermahkota.


"Kau mau ajak aku ke mana? Aku tidak mempunyai banyak waktu," kataku yang berlomba dengan rumput ajaib yang semakin menipis.


Duyung itu tersenyum, terlihat manis. Dia meraih tanganku tanpa izin, jemarinya terasa lembut mengingatkanku akan Acasha.


"Kenapa diam? Ayok, ikut aku," ajaknya.


Aku mengikuti duyung berenang. Hingga di depan sana terlihat istana bawah laut yang terlihat megah. Banyak duyung yang berenang dan tidak melulu di dominasi dengan duyung betina. Entah, aku menyebutnya betina atau wanita. Sebab, dalam pandanganku mereka itu seekor ikan berwujud manusia.


"Hormat kami, Tuan Putri." Duyung jantan menyapa duyung betina yang sedang bersamaku. Dia terlihat merunduk tanpa berani menatap duyung yang dia sebut sebagai Tuan Putri.


"Apakah di dalam ada Ayah?"


"Yang Mulia tidak ada di istana, Putri."


"Ah, selamat," kata si duyung betina yang lalu menarik tanganku agar mengikuti dirinya.


"Mau kau ajak aku ke mana?" Aku bertanya ketika sama-sama berenang.

__ADS_1


Ke suatu tempat yang bisa membuatmu bahagia," katanya dengan seulas senyuman.


__ADS_2