CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Nyanyian Hati


__ADS_3

Tubuhku berangsur membaik seiring energiku yang telah kembali.


"Hazzel, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tanya saja. Kalau bisa aku akan menjawabnya," katanya yang kini duduk di hadapanku.


"Sebenarnya kamu siapa?"


Hazzel tersenyum kemudian matanya melirik ke arahku dengan tangan yang bersandar di meja, lelaki itu terlihat menghela napas panjang.


"Cukup panjang ceritanya. Apakah kau mau mendengar?"


Aku mengangguk.


Hazzel mulai bercerita tentang dirinya beserta sang ayah yang dulu pernah bertarung dengan sosok bertubuh besar yang memegang wilayah di perbatasan kerajaan Acasha.


Antara ayahnya dengan kakek dari Acasha sudah berteman walau mereka berbeda alam. Ayah dari Hazzel ternyata mempunyai hutang budi pada kakek dari Acasha. Hingga akhirnya, sepeninggal kakek dari Acasha, kerajaan terombang-ambing dan menjadi rebutan hingga terjadinya peperangan.


Makhluk bertubuh besar itu memang sudah tewas. Akan tetapi, jasa-jasa dari kakek Acasha yang begitu besar untuk ayah Hazzel yang membuatnya ikut berperang dengan makhluk dari golongan lain (bukan manusia). Ayah Hazzel dan pemimpin lawan dari luar kerajaan Acasha tewas. Menyisakan Hazzel.


Namun, ayah Acasha tidak mengetahui kalau ternyata makhluk yang membantu kerajaannya itu mempunyai putra yang diberi nama Hazzel. Sehingga Hazzel memilih untuk menyamar menjadi seekor kuda.


"Apakah kau mencintai Acasha?" Aku sesungguhnya ragu untuk bertanya.


Hazzel menyeringai.


"Kenapa tersenyum? Apakah kau mencintai Acasha?" Lagi, aku masih menuntut jawaban darinya.


"Dari dulu Acasha telah memimpikan pangeran impiannya. Aku tau, pangeran impiannya bukan dari golongan manusia. Acasha selalu bercerita padaku, ketika aku menjelma menjadi seekor kuda putih."


"Lalu? Bagaimana dengan perasaanmu setelah mengetahui Acasha telah mencintai laki-laki lain?"


Lagi-lagi Hazzel hanya tersenyum. Dia memang pandai sekali menyimpan perasaannya dengan rapi.


"Yang jelas, ketika aku menjelma menjadi seekor kuda, aku merasa nyaman karena Acasha bisa begitu dekat denganku."


"Kenapa kau tidak mencoba untuk memperlihatkan wajah aslimu? Aku yakin, Acasha juga menyukai dirimu."


"Mulutmu berbicara seperti itu tapi tidak dengan hatimu."


Sekakmat! Aku tidak dapat menjawab.


Lonceng kecil yang terdapat pada kalung yang dipakai Hazzel tiba-tiba berbunyi.


"Astaga! Acasha mencariku," katanya yang kemudian berlalu pergi.


Si4l! Aku malah ditinggalkan olehnya.


***


Aku masih menunggu energiku kembali sepenuhnya. Hingga langit berubah menjadi gelap, aku baru memutuskan untuk kembali ke istana. Di sana Acasha pasti telah menungguku.


Merubah tubuh menjadi elang untuk terbang menembus awan gelap malam ini, tampaknya akan segera turun hujan. Aku bergegas mempercepat kepakan sayap dan berharap hujan tidak akan menimpa tubuhku.


"Tuan! Kau di mana?" Acasha terlihat meracau di pintu gerbang kerajaan.


"Pangeran untuk Putri Acasha akan datang esok hari," timpal seorang lelaki yang terlihat cukup kewalahan menahan tubuh Acasha yang terus meronta.

__ADS_1


Perdebatan itu cukup lama. Entah dari kapan Acasha meracau seperti ini.


Dari dalam, terlihat sosok bertubuh tegap dengan rambut yang mulai memutih. Dialah raja dari kerajaan ini. Lelaki paruh baya itu terlihat mendekati Acasha. Kemudian--


Plak!


Tamparan yang cukup keras meluncur di pipi Acasha.


"Kau sudah gil4!" sentaknya. Namun, Acasha masih meracau. Dia tidak bergeming dengan tamparan yang meluncur di pipinya.


"Pengawal, ajak Acasha masuk ke kamarnya!"


"Baik, yang Mulia."


"Enggak! Aku mau di sini menunggu pangeranku, Ayah! Dia akan datang aku yakin!" Acasha yang dibawa oleh prajurit itu terlihat menolak untuk diajak masuk ke kamarnya.


"Suamiku, tolong hentikan. Sepertinya perjodohan kali ini tidak usah diteruskan. Kasihan Acasha --putri kita," timpal ibu dari Acasha.


"Tidak! Perjodohan ini harus tetap terjadi. Aku tidak mau Acasha seperti ini. Usianya sudah lebih dari cukup, Sayang. Dia harus menikah," jawab sang raja berusaha tenang.


Sementara ibu dari Acasha terlihat pasrah.


Ah, untuk apa aku terpaku di sini? Lebih baik aku menemani Acasha.


Aku mengepakkan sayap menuju kamar Acasha. Baru saja sampai di balkon kamarnya, hujan turun dengan deras.


Terlihat dari pintu balkon yang sedikit terbuka, Acasha duduk di pinggir ranjang dengan Isak tangis sendu cukup terdengar di telingaku.


...**...


...Drawing me in, and you kicking me out...


...You've got my head spinning, no kidding, I can't pin you down...


...What's going on in that beautiful mind?...


...I'm on your magical mystery ride...


...And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright...


...My head's under water...


...But I'm breathing fine...


...You're crazy and I'm out of my mind...


...'Cause all of me...


...Loves all of you...


...Love your curves and all your edges...


...All your perfect imperfections...


...Give your all to me...


...I'll give my all to you...

__ADS_1


...You're my end and my beginning...


...Even when I lose I'm winning...


...'Cause I give you all of me...


...And you give me all of you, oh...


...How many times do I have to tell you...


...Even when you're crying you're beautiful too...


...The world is beating you down, I'm around through every mood...


...You're my downfall, you're my muse...


...My worst distraction, my rhythm and blues...


...I can't stop singing, it's ringing, in my head for you...


...My head's under water...


...But I'm breathing fine...


...You're crazy and I'm out of my mind....


...**...


Aku bernyanyi menyuarakan isi hati. Terlihat Acasha mendongak. Dia sepertinya mendengar lirih lagu yang kunyanyikan dengan sepenuh hati.


"Tuan Cleon? Kau, 'kah itu?" ucap Acasha.


Dia terlihat mencari sesuatu, dan ternya Acasha mengambil kain kemudian menutup sepasang mata indahnya. Dia terlihat berjalan dengan tangan yang menjulur ke depan sebagai pemandu jalan supaya tubuhnya tidak menabrak.


Hingga akhirnya tangan Acasha memegang pintu untuk ke balkon.


"Tuan?" Terdengar lirih Acasha mencariku.


Aku meraih tangannya kemudian menempelkannya ke wajah. Wanita cantik ini mulai meraba bagian-bagian dari wajahku. Mulai dari mata yang kupejamkan, hidung, pipi dan terakhir bibir. Acasha suka sekali mengusap bibirku. Terlebih ketika aku mengecupnya hangat.


"Kau datang, Tuan?" tanya Acasha yang masih mengusap pipiku.


"Iya. Bukankah aku sudah berjanji?"


"Tuan. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Tetaplah di sini dan jadilah suamiku. Aku tidak peduli bagaimana rupamu. Aku mohon," pintanya dengan kedua tangan yang dia rapatkan.


"Acasha, bukan aku tidak mau. Untuk saat ini, kita tidak dapat bersatu. Karena--" ucapku terhenti.


"Karena apa?"


"Belum saatnya kau tau, mungkin suatu saat kau akan mengetahui semuanya. Yang ingin aku janjikan, aku akan selalu menemani, kapan pun kau minta."


"Benar?"


"Iya."


"Aku ingin kau selalu menemaniku dari malam hingga pagi menjelang. Aku ingin menghabiskan malam. Jujur, aku paling takut sepi dan sunyi seperti saat ini." Kata Acasha kemudian memelukku erat.

__ADS_1


__ADS_2