CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Kecupan manis


__ADS_3

"Kita pulang Hazzel," ajak Acasha dengan lembut, jemarinya terus mengusap pipi Hazzel.


Acasha naik ke punggung Hazzel. Baju indah itu terjuntai menutupi punggung dan perut Hazzel. Kedua kaki Acasha sedikit memberi hentakan agar Hazzel berjalan dan membawanya pergi dari danau untuk kembali ke istana. Aku pun mengubah diriku sendiri. Kaki ini menapak di tanah dan menyaksikan Hazzel yang semakin menjauh dari pandangan membawa Putri Acasha.


Aroma wangi tubuh Acasha masih tercium. Raut wajah yang tak lekang dari ingatan dan jemari halus yang masih terasa ketika aku masih menjelma seekor kupu-kupu. Bibirku tersungging mengingat semua hal yang telah kulewati.


Hingga akhirnya sang surya hampir tenggelam, menyisakan rona jingga di atas sana. Aku masih terpikir tugas yang diberikan oleh Ibu padaku untuk memanah busur cinta ini pada Acasha. Namun, dengan siapa?


Aku bermaksud untuk menyelesaikan tugasku sebelum malam tiba. Kurubah diri ini menjadi seekor merpati putih yang terbang mengepakkan sayap menuju istana Putri Acasha.


Kepakkan sayapku membawa pada bangunan yang berdiri kokoh, begitu jomplang dengan rumah-rumah kecil warga yang baru saja kulewati.


'Apakah itu kau, Tuan?' Hazzel bertanya ketika aku terbang tepat di atasnya.


Arghhh si4l! Mata Hazzel begitu tajam, hingga mengetahui walau aku sudah merubah bentuk menjadi seekor burung.


'Turun!' perintah Hazzel ketika aku pura-pura tidak mendengar.


'Aku perintahkan turun, Tuan!!!' Hazzel memanggilku semakin kencang. Aku takut prajurit yang ada di dalam sana malah curiga dengan kedatanganku saat ini dan akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri Hazzel.


Hazzel menyeringai ketika kedua kaki mungil ini telah hinggap di pagar kayu yang membentenginya.


'Mari, ikut aku!' ajak Hazzel, dia berjalan lebih dulu menuju bagian belakang istana. Cukup jauh kaki Hazzel melangkah, hingga sepasang kaki itu terhenti tepat di samping aliran sungai kecil dengan air yang begitu jernih mengalir.


"Kenapa kau ajak aku ke sini?" tanyaku ketika tubuh ini telah kembali menjelma menjadi Cleon --Dewa Cinta.


Hazzel menatapku dan tiba-tiba saja cahaya putih menyelimuti Hazzel. Cahaya itu terlalu menyilaukan, hingga kututup rapat sepasang mata ini.


Setelah beberapa detik berlalu, aku pun kembali membuka mata dan sosok lelaki tegap berambut silver telah berdiri tegap di hadapanku. Apakah dia Hazzel?



Mataku menatap heran, sedangkan pria itu tersenyum melihat keherananku yang tergaris di wajah ini.

__ADS_1


"Rupanya kau itu seorang Dewa cinta, Tuan?" Suara itu cukup familiar kudengar hari ini. Yaa, dia Hazzel --seekor kuda putih peliharaan, sekaligus sahabat karib Putri Acasha.


"Hazzel?"


"Ya, aku Hazzel Erasmus yang menjelma seekor kuda putih untuk melindungi Sang Putri."


What? Melindungi? Bagaimana dengan tugasku nanti?


Aku memang tidak bermaksud melukai, tetapi hanya ingin memanahkan busur cinta ini padanya. Apa mungkin aku melesatkan busur ini pada jantung Acasha dengan Hazzel? Oh tidak, Ibu pasti marah karena wajah Hazzel sama sekali tidak buruk rupa. Dia malah terlihat tampan dan berkarisma.


"Melindungi? Memangnya kenapa hingga kau ingin melindunginya?"


"Banyak penyihir yang tidak suka pada kecantikannya. Termasuk Ibumu --Dewi Agacia Orisha yang cemburu akan kecantikan anak manusia ini."


Ternyata dia mengetahui semuanya, termasuk Ibu. Sesungguhnya, siapa Hazzel Erasmus?


Aku hanya menatapnya sekilas, hendak ingin kembali menjelma seekor merpati, tetapi tanganku dicengkeramnya.


"Jangan kau coba-coba melukai Putri Acasha!" bentaknya memperingati.


"Kau kira aku Dewa kematian? Aku bukan Damien yang bertugas untuk menyakiti hati orang lain dan berujung kematian. Aku Cleon Eros, si Dewa cinta yang penuh dengan kasih."


"Aku tidak percaya, karena Ibumulah yang menyuruh kau untuk melukai Putri Acasha. Bukan begitu?" Sorot mata Hazzel begitu serius menatapku. Di dalamnya seolah menyala api peperangan andai saja aku melukai Putri Acasha.


"Ti--" ucapku terhenti karena Putri Acasha memanggil kudanya.


"Hazzel, kamu di mana? Hazzel Erasmus! Aku mencarimu!" Suara itu semakin mendekat. Hazzel merubah dirinya menjadi seekor kuda putih nan cantik, sedangkan aku berubah kembali menjelma kupu-kupu biru yang disukai oleh Acasha.


Hazzel bersuara bak seekor kuda. Mungkin maksudnya memberi tanda pada Acasha bahwa dirinya ada di sini. Pandai sekali dia berakting.


"Hai ... rupanya kamu di sini. Aku mencarimu kemana-mana." Putri Acasha memeluk Hazzel. Beruntung sekali dia, selalu dipeluk oleh Acasha.


Tidak ketinggalan, aku pun bertengger di pundak Hazzel.

__ADS_1


'Turun kau Tuan Cleon!' titah Hazzel seraya menghentakkan kakinya hingga tubuhnya sedikit bergetar.


"Hazzel, kamu kenapa? Kok gelisah?" tanya Acasha sambil mengusap pipi Hazzel.


Hazzel terus berontak karena dia ingin aku tidak bertengger di pundaknya. Akhirnya Acasha mengerti, ada makhluk lain yang menghinggapi tubuh kudanya.


"Hahaha ... rupanya kamu merasa geli ketika kaki-kaki kecil si kupu-kupu cantik ini singgah di punggungmu?" Acasha tersenyum lebar, tangannya kini menjulur padaku. "Kemarilah wahai kupu-kupu cantik," pintanya.


Tanpa menunggu waktu lama, kaki-kaki kecil ini berpindah pada telapak tangannya.


'Haha ... Dewa cinta tidak akan pernah kalah!' ucapku pada Hazzel.


Aku baru menyadari kalau tubuh semakin dekat dengan Acasha. Hingga sepasang mata ini begitu dekat dengan bibirnya.


Oh ... Tuhan, Acasha mencium sayapku, terasa hangat ketika bibir merah itu mengecup manis.


Hazzel berjalan menjauh dari kami. Tampaknya, dia cemburu pada kedekatanku bersama Acasha.


"Yaahhh ... Hazzel pergi, tampaknya dia cemburu padamu, wahai kupu-kupu cantik," ujar Acasha dengan sepasang mata yang terpaku pada Hazzel. Namun, bibir merahnya tetap tersungging manis.


"Apakah kau mau ikut aku ke istana?"


Terasa mimpi, aku diajak ke istana olehnya. Bukan bagian dalam istana yang ingin kulihat, tetapi aku ingin lebih dekat lagi dengannya. Namun, bagaimana aku menjawab iya? Tidak mungkin juga kalau aku tiba-tiba menjelma menjadi sosok Dewa di hadapannya.


"Tapi, sepertinya Ayah tidak akan membiarkanmu masuk wahai kupu-kupu, karena bagaimanapun, kamu seekor binatang yang dilarang keras untuk memasuki area dalam istana. Maaf, ya?"


Baru saja hati ini senang, dengan secepat kilat, Acasha mematahkan kembali rasa bahagia yang hampir saja kurengkuh.


Aku tidak ingin hal ini terjadi. Aku mengepakkan sayap dan hinggap di pipinya kemudian bibir ini mengecup pipi putih nan halus, selembut sutra.


Ya Tuhan, aku tidak menyangka bisa mencium pipi putih anak manusia. Rasanya sungguh berbeda ketika aku mencium, bahkan mencumbu para dayang yang ada di atas sana. Jantung semakin berdegup kencang seakan hendak melompat dari tempatnya dan darah terasa mengalir deras kala bibir ini menempel di bibirnya setelah kaki-kaki kecilku beringsut turun ke arah bibir merahnya.


"Eh ... kamu nakal wahai kupu-kupu." Acasha memindahkanku pada telapak tangannya dan aku tersipu malu, untung saja dia tidak dapat melihat ekspresi Maluku saat ini. "Emm ... kamu itu pandai mencuri hatiku, maka, akan kunamakan kau Eros --Sang Dewa Cinta, karena kamu pandai mengambil hatiku.

__ADS_1


Astaga! Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Nama Eros memang namaku. Tuhan, apa maksud semua ini?


"Akan kubawa kau ke istana wahai Eros. Tapi, nanti kau terbang menuju istana teratas, karena kamarku berada di atas sana," ucap Acasha yang membuatku tersenyum lebar.


__ADS_2