
Aku masih berjalan tanpa arah. Dalam lautan dalam, kakiku berjalan di pasir lembut dan juga melewati banyak karang yang menyakitkan. Hingga akhirnya telapak kakiku terluka dan darah segar berwarna merah terlihat bercampur dengan air.
"Oh, tidak. Bagaimana kalau ada monster laut?"
Gegas aku merobek baju bagian bawah untuk membalut luka. Aku terlalu takut adanya predator lautan yang paling sensitif akan penciuman bau amis dari darah. Segera kubalut luka hingga darah tidak lagi terlihat keluar.
"Untunglah," ucapku sambil mengembuskan napas lega.
Kembali aku menyisir dasar laut. Namun sayang, sepertinya sepanjang jalan yang aku lewati telah terlindungi oleh kekuatan ratu Mermaid.
"Coral ini lagi?" ucapku ketika melihat coral yang cukup besar berbentuk hati.
Sejenak, aku duduk di samping coral itu karena sambil menghela napas karena cukup capek berjalan, bahkan berenang mencari keberadaan si apel emas tersebut.
Ternyata benar saja. Clara kembali mendekatiku. Dia berenang menghampiriku yang masih duduk di samping coral.
"Tuan, apa kau benar-benar tidak ingin barter denganku? Ingat, apel emas itu hanya aku yang tau. Tidak ada makhluk lain yang mengetahui keberadaannya. Apel itu hanya ada 2," katanya dengan seulas senyum.
"Mau ada dua, atau satu. Aku tidak akan sudi untuk berhubungan denganmu. Terlebih harus menyatukan tubuh. Aku telah memiliki seseorang."
"Yakinlah, aku tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab, Tuan. Aku hanya terpesona oleh ketampanan dan tubuhmu saja. Setelah itu, aku akan memberikanmu apel emas."
"Setelah kau merasakan bermain bersamaku? Aku yakin, kau susah untuk melepaskanku. Maka dari itu, aku tidak ingin sama sekali menyentuhmu. Karena apa?" tanyaku sambil mendekat ke arah wajahnya.
Clara menatapku tajam seolah menunggu jawaban dariku.
"Karena telah banyak wanita di atas sana yang tergila-gila padaku setelah kami bermain-main di atas ranjang dengan penuh kenikmatan."
Aku kembali berjalan dan ternyata Clara masih belum bisa melepaskanku. Dia memelukku erat dan hangat.
"Tuan, aku tidak peduli. Karena kau--" ucapnya terjeda dengan dagu yang menempel di pundakku.
__ADS_1
"Kerena apa?"
"Tuan sungguh mirip dengan seseorang yang hampir menjadi milikku. Dia hampir dapat kumiliki seutuhnya dan ketika melihatmu, aku ingin kau menjadi milikku selamanya, Tuan."
"Kan, akhirnya kau keceplosan? Aku sudah menyangka, tidak akan yang mampu menolak pesonaku ketika di atas ranjang."
Clara berusaha untuk memaksaku melayaninya. Bukan menampik, di sini tujuan utamaku untuk mencari keberadaan apel emas bukan mencari pengganti atau bahkan pelampiasan semata. Cintaku untuk Acasha begitu dalam. Ketulusan Acasha dapat kurasakan ketika aku hendak mencari apel emas dan dia begitu beratnya melepaskanku. Bahkan, dia lebih memilih untuk tidak melihatku seperti orang buta daripada aku harus pergi darinya demi apel emas.
Cinta tulus Acasha tidak akan pernah kunodai karena dialah wanita pilihanku. Apalagi kuakui, kami begitu sulit untuk bersatu. Perjuanganku cukup berat karena harus bertaruh nyawa. Harapanku, seandainya mati pun, aku akan direinkarnasikan menjadi pendamping hidup Acasha di masa yang akan datang. Akan tetapi, apakah Acasha sanggup kehilanganku? Terlebih, aku telah berjanji padanya untuk selalu bersamanya dan menghabiskan usia kami bersama.
Clara sepertinya telah bosan mengejarku. Dia kini tak terlihat lagi, tetapi napasku hampir habis karena terlalu lama berada di dasar laut. Ditambah, khasiat rumput ajaib itu sepertinya akan segera berakhir.
Mataku membulat ketika melihat rumput yang hanya tinggal satu lembar saja. "Oh, tidak, bagaimana aku bisa mendapatkan apel itu?" Aku mengusap tengkuk dan cepat-cepat memakan kembali rumput itu karena napasku semakin sesak dan sakit.
Untungnya, kekuatan Mermaid sepertinya telah hilang. Aku berjalan cepat untuk menghemat waktu walau diri ini pun masih bingung untuk berjalan ke arah mana.
Sepertinya jarak yang kutempuh sudah cukup jauh hingga akhirnya kutemukan cahaya yang bersinar terang dari bawah sana. Aku menyelam, berenang untuk memastikan apa yang kulihat. Karena feelingku mengatakan itu merupakan Kilauan emas. Entah harta karun ataukah apel emas yang aku cari.
"Tolong ... tolong!" Seru seorang lelaki.
Aku menyelam semakin dekat hingga akhirnya aku bisa melihat lelaki paruh baya itu dengan ekspresi kaget. Bagaimana tidak? Dia mempunyai wajah yang begitu sama denganku. Bedanya, hanya dari rambut yang hampir memutih dan raut wajah yang mulai berkerut.
"Anda siapa?" tanyaku sambil menyipitkan mata.
"Tolong aku wahai anak muda," katanya bernada lirih.
"Maaf, aku tidak mengenal Anda. Kenapa Anda ada dalam penjara bawah laut?"
Lelaki itu mendongak dan ekspresi wajahnya begitu syok dengan mata membulat sempurna. "Kau siapa?" katanya dengan suara serak.
"Aku--"
__ADS_1
Untuk apa juga aku menjawab pertanyaannya? Toh yang aku cari itu apel emas, bukan ngepoin orang lain.
"Tolong jawab pertanyaanku wahai anak muda. Siapa kau sebenarnya?"
"Aku Cleon--"
"Eros?" sambung lelaki itu menyela ucapanku.
Dari mana dia tahu?
Wajah kami kini begitu dekat. Tangan lelaki itu memegang besi yang mengurung dirinya. Mata kami saling memandang dan aku menemukan sorot kerinduan dari sepasang mata tuanya.
Tangan kanannya mengusap kepalaku lembut. Ada yang berdesir di dalam sini tetapi bukan rasa cinta.
"Apa kau putraku?" ucapnya dengan sorot menerawang.
Dahiku mengernyit dan alisku seolah bertaut ketika memandang kedua mata lelaki paruh baya yang kini berada di depanku saat ini.
Mata yang tajam berwarna hitam begitu mirip denganku dan aku tidak dapat mengingkari, walau diri ini pun seolah masih meragu, belum percaya dengan apa yang dia ungkapkan saat ini.
Setelah dia bercerita, hati ini pun luluh dan mulai mempercayai kalau dia itu ayahku.
"Kau mau ke mana, Nak?"
"Apakah kau memang benar Papaku?"
"Percayalah. Aku Ayahmu. Ayah yang--"
Mataku menyipit.
"Ayahmu yang dulu meninggalkanmu. Meninggalkan kalian. Maafkan Ayah," ucapnya sambil tertunduk lemas.
__ADS_1
Ingin aku menolak, tetapi semua bukti kalau memang dia Ayahku, sangatlah kuat. Tiba-tiba saja napasku sesak setelah kami bercerita panjang lebar. Aku menceritakan tujuanku padanya hingga aku membantu dirinya untuk terlepas dari jeruji besi.
Waktuku telah usai. Energi yang kupunya tidak lagi mencukupi. Aku berusaha untuk kembali ke permukaan. Namun, nihil. Seolah semuanya sia-sia karena napasku semakin sesak, pandangan mulai buyar dan aku sepertinya masih jauh menuju permukaan laut karena cahaya belum terlihat dari pandangan. Aku tidak peduli lagi dengan keberadaan apel emas itu. Yang aku rasa hanya sesak yang semakin menyakitkan ketika napas yang kuhirup terasa nyeri dan sakit. Seketika, aku tidak tahu apa yang terjadi. Entah, aku masih hidup atau sudah mati. Pandanganku kini gelap.