
Pikiranku bertambah kacau, dalam angan hanya ada wajah Acasha. Wajah cantik, mata indah, hidung mancung, bibir tipis merah muda, rambut hitam yang terurai panjang dan -- Arghhh! Kenapa dia selalu menyiksaku?
Hari demi hari bayangan Acasha semakin melekat dan aku benar-benar rindu akan sosok Acasha. Ingin bertemu dengannya, tapi harus dengan cara apa?
"Cleon, sudah makan?" Ibu bertanya ketika aku tengah tersenyum ketika melihat gumpalan awan yang mulai menghitam. Sepertinya akan turun hujan.
"Aku tidak lapar."
"Anak manusia itu lagi yang mengganggu pikiranmu?" sinisnya.
Hal ini sudah menjadikan pertanyaan Ibu beberapa hari ini membuatku bertambah muak saja. Sebelum dada terpanah pun, aku telah menyimpan kekaguman akan sosok Acasha. Manjanya, cantiknya, tutur kata dan banyak hal menarik dari dia yang membuat diriku menggila. Apa kabar dengan panah ini? Semakin menyiksaku saja.
"Aku harus bagaimana?" tanyaku muak dengan rasa putus asa yang menghampiri. "Apa rasaku akan terus seperti ini? Tiada waktu tanpa tersenyum dan bunga-bunga cinta yang terus bertumbuh dalam sini." Aku menunjuk ke dada.
"Tidak. Kau berbeda dengan manusia. Kau itu dewa, derajat kalian suguh amat berbeda," jelasnya.
"Tapi sampai kapan aku tersiksa dengan rasa seperti ini?" Aku menatapnya tajam. Beruntung, wajah Ibu masih tidak tampak seperti Acasha, kalau saja berubah, mungkin saja aku memeluknya dengan erat dan tentunya dengan penuh rindu karena beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya. Aku hanya menghabiskan waktu dalam kamar dan merasakan benih cinta yang terus menerus tumbuh.
"Seiring berjalannya waktu, efek panah asmaramu akan luntur kemudian hilang."
Bulsh1t! Buktinya sudah lebih dari satu Minggu, rasa ini malah semakin bertambah. Oh, Acasha ... aku sangat merindukanmu.
***
Sekitar satu bulan, aku berada di kerajaan atas langit dan pagi ini aku memutuskan untuk pergi ke bumi karena Ibu telah menyuruhku untuk kembali mengerjakan misi membuat Acasha jatuh cinta pada orang yang berwajah buruk rupa. Bagaimana mungkin aku bisa? Sedangkan hati ini telah terikat olehnya. Ada-ada saja.
Mulai kembali menjelma elang hitam dengan paruh dan mata tajam ketika kuterbang menembus langit dan awan-awan tebal yang masih menghitam.
Oh, **1*! Hujan malah turun dengan lebat. Untung saja aku telah sampai di kerajaan di mana Acasha tinggal.
Aneh, kerajaan itu tampak sepi, apa mungkin raja muda itu telah kembali ke kerajaannya? Atau bahkan dia telah menikahi Acasha?
Aku terbang sebagai elang ke jendela kamar Acasha. Aku melihat di bawah sana ada Hazzel yang sedang duduk di kandang dengan mata terpejam. Untung saja, dia tidak melihatku ketika aku terbang melewati dirinya.
Tepat di balkon kamar Acasha, aku bertengger di salah satu pagar yang mengelilingi kamarnya.
Telingaku sedikit mendengar percekcokan yang disertai Isak tangis dari Acasha. Kenapa dia?
__ADS_1
"Aku malu terhadap Pangeran Charles, sampai kapan kau menolak untuk menikah, Acasha?" Terdengar suara sang raja yang tidak lain ayah dari Acasha. Namun, Acasha hanya terdiam. Dia terlihat merunduk dengan tangan yang beberapa kali menyeka pipi, sepertinya dia menangis.
"Sudah, Suamiku. Mungkin Acasha belum siap," ujar seorang wanita berparas cantik dengan gaun mewah menjuntai panjang. Dia terlihat mengusap pelan ujung kepala hingga ujung rambut Acasha.
"Sampai kapan dia menikah? Usia Acasha sudah matang untuk melakukan pernikahan. Aku malu! Malu pada kerajaan lain. Anak-anak perempuan mereka yang usianya di bawah Acasha pun telah menikah. Lah, dia?" Sang Raja menunjuk Acasha.
"Ya mungkin saja bukan jodohnya. Tolong, mengertilah."
"P3rseta4n dengan perkawinannya! Aku sudah tidak peduli lagi!" Sang Raja terlihat marah, dia keluar kamar dengan langkah cepat.
"Tunggu! Dengar dulu!" Wanita paruh baya itu memintanya berhenti tetapi tidak dihiraukan oleh sang raja. Dia tetap saja berjalan cepat kemudian menghilang bersama langkah kakinya.
Aku di sini melihat wajah Acasha yang masih terlihat sedih. Acasha membaringkan tubuhnya pada kasur yang terlihat besar dan nyaman. Mataku melihat ke celah atas ventilasi, ada lubang kecil di atas sana.
Merubah tubuh dari elang menjadi kupu-kupu biru, hewan kecil cantik yang diberi nama Eros oleh Acasha, seperti namaku.
Aku mulai masuk dan kini telah ada di kamar. Aku berharap Acasha bisa terhibur ketika melihat kedatanganku. Namun, matanya terpejam dengan mata sendu. Kasihan.
"Aku tidak akan pernah mau untuk dijodohkan. Aku melihat pangeranku dalam mimpi dan kemarin aku melihatnya. Dia nyata dan dia ada. Tetapi sayang sekali, dia pergi ketika aku memanggilnya kemudian menghilang entah ke mana." Acasha bergumam dengan sepasang mata yang terpejam.
Aku mendekati Acasha, kemudian hinggap di punggung tangan putihnya. Kini aku begitu dekat dengan wajahnya. Napasnya pun terasa hangat kurasakan.
Acasha, kenapa kamu semakin membuatku gila? Aku tidak rela kalau kamu harus bersanding dengan pangeran lain. Aku ingin memilikimu.
Sepertinya Acasha tersadar, tangannya mulai bergerak kemudian sepasang mata cantik itu kini terbuka lebar.
"Eros? Kau datang?"
Sepasang mata Acasha terlihat berbinar ketika menyadari aku ada di sampingnya.
"Aku kira kamu pergi." Acasha tersenyum dengan jemari lentik membenahi sayapku yang sedikit tertekuk. Mungkin maksudnya agar memudahkanku untuk terbang.
Ingin berkata 'iya', tetapi tidak mungkin ketika wujudku sedang menjelma makhluk kecil ini. Yang ada Acasha malah lari pontang-panting karena ketakutan melihat binatang kecil yang dapat bicara. Aku pun tidak dapat merubah wujudku menjadi Dewa Cinta karena energiku akan habis ketika ada sepasang mata manusia telah melihat tubuhku yang sesungguhnya. Apalagi untuk berkomunikasi dengannya?
"Eros, tau gak. Kemarin aku menemukan dia. Aku menemukan lelaki dengan paras tampan persis seperti pangeran yang ada dalam mimpiku," katanya berapi-api.
"Tetapi aku sedih. Ketika berusaha untuk ingin tau namanya saja, aku tidak bisa. Dia malah lari ketika aku panggil. Apakah wajahku terlalu menakutkan baginya? Hingga dia menghilang begitu saja." Wajah itu terlihat murung dengan sepasang mata sendu yang dia pejamkan dan pandangan yang tertunduk. Lesu.
__ADS_1
Acasha, aku di sini.
Ingin sekali mendekapnya tetapi kenapa kami ditakdirkan berbeda tetapi mempunyai perasaan yang sama? Rumit.
Aku mulai mengetahui kalau ternyata selama ini wajahku telah merasuki alam bawah sadarnya. Aku masuk dalam mimpinya. Ya Tuhan, sungguh membingungkan.
Entah siapa yang Acasha lihat dalam mimpi. Wajah yang serupa denganku? Ah, mungkin itu hanya bunga tidur. Atau ... mungkin saja setan yang merasuk dalam tidurnya.
Aku terbang di depan wajahnya. Terbang ke kiri dan ke kanan agar Acasha bisa mengikuti.
"Kamu mengajakku berdansa?" ucapnya dengan bibir tersungging.
Si4l! Inginku berkata iya saat ini.
"Baiklah, aku akan mengikuti sayapmu ketika terbang."
Aku terbang ke kiri dan ke kanan yang diikuti oleh Acasha.
"Aku akan memejamkan mata, semoga aku bisa merasakan berdansa dengannya. Ya, dengan pangeran impianku." Acasha memejamkan mata dengan tangan yang sedikit terangkat di dada yang seolah telah bersiap untuk berdansa.
**1*! Aku tidak bisa melewati semua ini.
Aku merubah wujudku menjadi Cleon Eros dengan tubuh tinggi tegap, wajah tampan dengan sorot mata tajam dan garis wajah tegas. Tanganku mulai meraih jemari lentik Acasha. Gadisku terlihat terperanjat ketika aku menggenggam jemarinya. Untung saja dia masih memejamkan mata.
"Aku merasakan kehadiranmu, Pangeran. Tolong jangan pergi," katanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu," bisikku yang membuat matanya hampir terbuka.
Aku segera menutup sepasang mata indah itu, "Tetaplah terpejam agar aku tetap berada di sini. Sekali saja kamu membuka mata, aku akan pergi untuk selamanya."
Acasha mengangguk, "Tapi kenapa?"
"Tidak dapat kujelaskan untuk saat ini."
"Bagaimana aku yakin, kalau mataku tertutup. Dalam mimpi, kamu tidak pernah berbicara. Jadi aku tidak mengetahui suaramu, Pangeran."
Aku mengarahkan jemari lentik Acasha pada bagian wajah. Perlahan, jemari lentik itu mulai meraba seluruhnya. Mulai dari sepasang mata, rahang, hidung hingga bibir. Kukecup jemari itu ketika mengusap bibirku dan Acasha tersenyum manis membuatku semakin tertarik.
__ADS_1