CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Janji


__ADS_3

Waktu bulan purnama tinggal menghitung hari. Berkali-kali aku meyakinkan Acasha tetapi selalu gagal. Malam ini, aku memutuskan untuk mencoba untuk kembali meyakinkannya.


"Sayang." Aku memanggil Acasha. Dia tahu ini suaraku. Gegas, Acasha meraih sehelai kain putih lalu menutup sepasang mata indahnya.


"Iya, Tuan," jawabnya terdengar halus.


Acasha beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan bak orang buta yang mencari arah sumber suara. Acasha makin mendekat hingga kini tangannya memegang dadaku. Tangan itu berpindah meraih wajah, dia mengusap dengan lembut dan bibirnya tersenyum ketika menyentuh hidung mancungku.


"Aww! Sakit, Sayang," ucapku ketika Acasha mencubit gemas hidungku.


Bibir merahnya tersenyum ketika mendengar aku berteriak.


"Aku suka mendengar kau berteriak, Tuan. Suaramu seksi," katanya yang lagi-lagi seolah menggodaku. Oh, God, tolong aku!


Aku meraih tubuhnya, mengeratkan hingga tubuh Acasha kini berada dalam dekapan. Aroma tubuh yang khas kini tercium di hidungku. Perpaduan bunga dan vanila yang lembut berbaur dalam tubuhnya yang membuatku mabuk kepayang.


Aku mengecup bibirnya kemudian mengecup ke pipi hingga bibir ini berada di telinganya.


"Apa kau mau lebih daripada ini?" bisikku dengan suara serak.


Acasha mengangguk.


"Aku ingin kita bersatu. Bawa aku pergi dari sini, Tuan," mohonnya dengan bersuara lirih.


"Tidak segampang itu, Sayang. Di istana pun, kita akan mengalami kendala karena kita yang berbeda. Aku tidak akan diterima di istanamu, pun sebaliknya. Kita tidak dapat bersatu. Kecuali--" Sengaja aku menggantung kalimat, agar Acasha mau bertanya dan saatnya aku mengutarakan niatku untuk mencari apel emas tersebut.


Ternyata dugaanku salah. Acasha terdiam dan pelukannya perlahan mengendur dari pinggangku.


"Apa kau ingin meminta izin padaku untuk mencari apel emas itu, Tuan? Acasha bertanya dengan bibir mengerucut.


Sial! Ternyata Acasha tahu akan niatku. Si keras kepala ini dengan tegas melarangku. Aku harus bagaimana, Tuhan?


Hening.


Aku dan Acasha masih mematung di samping tempat tidur. Aku meraih tangan Acasha dan membimbingnya untuk duduk di tepi ranjang.


"Sayang." Aku memanggil Acasha.


Acasha tidak menjawab, dia masih membisu.


Aku meraih kedua tangannya dan mengecupnya hangat berharap dia luluh dan mengizinkanku. Acasha terlihat menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.


Aku menunggu rangkaian kata dengan mata menyipit.


"Ini berat untukku, Tuan. Tetapi, aku sangat menghargai, bahkan merasa tersanjung akan perjuanganmu untuk mendapatkan apel emas yang entah di mana rimbanya," katanya yang seolah menjadi teka-teki.


"Jadi, apakah kau mengizinkanku, Acasha?"


Acasha mengangguk walau sepertinya berat. Terbukti, bibirnya masih mengerucut.


Cup!


Aku mengecupnya tanpa meminta izin.


Semakin dalam kecupan yang kuberikan padanya di waktu-waktu berakhirnya kebersamaan kita. Kecupan itu berubah menjadi ciuman yang dalam hingga akhirnya semua terhenti ketika aku menyadari ada air mata di pipi Acasha.


"Astaga, maafkan aku, Acasha," kataku ketika melepaskan ciuman itu dari bibirnya. Aku benar-benar merasa bersalah karena terlalu jauh yang aku perbuat padanya.


Aku mengusap bibir Acasha yang basah dan melanjutkan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Acasha masih membisu dan aku merasa teramat berdosa telah menyakiti wanita yang aku sayangi. Dasar bod*h! Kau terlalu gampang untuk terlena, Eros!


Kami membisu. Aku tidak dapat berkata apa-apa, terlebih sudah merasa bersalah pada Acasha.


"Kenapa diam, Tuan?" Pertanyaan Acasha memecah keheningan.

__ADS_1


"Aku bingung harus meminta maaf dengan cara apa? Aku sudah keterlaluan hingga membuat wanita yang kusayangi menitikkan air mata."


"Aku tidak marah terhadapmu, Tuan."


"Kalau kau tidak marah, kenapa kau menangis, Sayang?"


"Aku hanya takut, ini akan menjadi hal terakhir untukku. Aku terlalu takut kehilanganmu, Tuan."


Di sini aku merasa egois yang hanya memikirkan keinginanku untuk mendapatkan apel emas. Tetapi aku tidak memikirkan hati Acasha yang ternyata benar-benar mencintaiku.


"Aku takut kalau Tuan akan ma--" ucapnya terhenti dengan air mata yang kembali terjatuh.


"Aku berjanji selalu ada di dekatmu sekalipun aku mati, Sayang."


"Tapi aku tidak dapat melihatmu atau bahkan hanya mendengar suaramu seperti saat ini. Bagaimana kalau aku rindu ketika nanti aku tidak bisa melihatmu?"


Pertanyaan Acasha sedikit menyayat hatiku. Terasa perih ketika membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Aku memang dewa, tetapi, untuk mendapatkan apel emas. Kekuatan dan energi yang kupunya akan luntur dengan sendirinya.


Aku menghela napas panjang kemudian memegang kedua pundak Acasha. Aku memandang wajahnya dan mencubit dagunya yang lancip.


"Yakinlah, aku pasti akan kembali untukmu. Entah menjadi apa, tapi aku janjikan akan pulang untukmu, Sayang," ucapku meyakinkan Acasha.


Acasha mengangguk. "Hati-hati, Tuan," ucapnya bersuara pelan.


Aku memeluk hangat tubuh Acasha. Membiarkan semuanya hening hingga hanya terdengar suara embusan napas dan detak jantung kami saja dalam kamar.


...Hmmm, guess I've...


...I've falling in love for the first time...


...Since I saw the magic in your eyes...


...You touch before to love...


...But I'm...


...I'm still afraid to look...


...And catch your eyes...


...I try to hide my feelings here inside...


...I've got to know more of you...


...Some more time...


...Believing all these years...


...Not know we how we feels to love...


...Been hiding all these fears...


...Not know we have to fall in love...


...And then you came along...


...We'll everything to show you love me...


...I wanna love you do...


...Then what if just change...


...And leave me...


...Is this...

__ADS_1


...Through way you loving is...


...At the first time...


...Or maybe it's just that I'm too shy...


...To get to know...


...What I feel deep inside...


...Tell me...


...Love me for the rest of your life...


...Tell me you will never leave my side...


...And as you're the one...


...I lead upon this time...


...Believing all these years...


...Not know we how we feels to love...


...Been hiding all these fears...


...Not know we have to fall in love...


...And then you came along...


...We'll everything to show you love me...


...I wanna love you do...


...Then what if just change...


...And leave me...


...Believing all these years...


...Not know we how we feels to love...


...Been hiding all these fears...


...Not know we have to fall in love...


...And then you came along...


...We'll everything to show you love me...


...I wanna love you do...


...Then what if just...


...And leave me...


...Falling in love for the first time...


...Falling in love for the first time...


...Falling in love for the first time....


Nyanyian Acasha terdengar indah. Seolah dia menceritakan semua yang dia rasakan saat ini. Lagu yang menceritakan ketika awal dia jatuh cinta sejak melihat keajaiban di mataku dan banyak hal yang terlantun dari syair lagu cintanya.


"Aku berjanji, kau akan dengan puas menatap mataku. Bukan hanya itu, kau akan dapat menatapku puas-puas dari semua yang aku punya," janjiku, untuk Acasha.

__ADS_1


__ADS_2