
Semilir angin malam yang dingin membuat tubuhku terasa kaku. Ditambah, Acasha yang seolah menantangku untuk mencumbu leher putih nan jenjang miliknya. Hanya lelaki tidak normal yang tidak tergoda oleh apa yang disajikan di depan mata.
Wangi bunga dan partikel lain yang tercampur menjadi parfum, membuat jantung berdebar tak keruan. Apalagi, ketika Acasha seolah menantangku dengan mata yang tertutup.
Aku mulai meraba leher yang terasa halus, membuat darah seolah mengalir cepat dan debar yang semakin tidak menentu.
"Tuan. Apa kau tidak jadi untuk mencumbuku?" tanya Acasha lagi.
"Tidak, Sayang. Aku tidak ingin lebih dalam lagi karena aku yakin, kita tidak akan mampu menahan hasrat yang membara. Terutama, aku."
Aku mengira Acasha akan marah. Namun, ternyata dugaanku salah. Bibirnya tersungging manis ketika mendengar jawaban dariku.
"Terima kasih, Tuan. Ternyata, kau bukan hanya menjagaku. Tetapi, kau menjaga martabatku juga."
"Tetapi, aku telah mencium bibirmu. Maafkan aku," sesalku.
"Aku yang meminta untuk dicium, kenapa kau yang meminta maaf?"
"Karena aku--"
Acasha tersenyum.
"Aku terlena akan kecantikanmu, Acasha."
"Boleh aku memelukmu, Tuan?"
"Tentu saja. Kenapa tidak?" Aku mendekati dan memeluknya hangat.
"Terima kasih," katanya kemudian menenggelamkan kepalanya di dadaku.
Aku mengecup pucuk kepalanya lama. Entah kenapa, aku selalu seperti ini ketika Acasha dalam dekapan.
Kami berpelukan di tepi danau yang disinari oleh lentera raksasa dari langit. Dia bercahaya begitu terang menembus gelapnya malam. Semilir angin seolah tidak membuat kami kedinginan. Pelukkan kami seolah mematahkan satu kata malam ini. Dingin. Ya, kata itu terbantahkan karena dekapan hangat antara aku dan Acasha.
"Apa kau mau kuajak terbang?"
"Mau. Sangat mau. Tapi, apa boleh aku membuka sehelai kain yang menutupi mata ini?" tanya Acasha sambil meraba kain sutera berwarna putih miliknya.
"Boleh, kenapa tidak. Asalkan--"
"Iya, aku tahu. Aku berjanji tidak akan melihat ke arahmu, Tuan."
Maaf, Sayang. Untuk saat ini mungkin harus seperti ini. Tetapi, aku berjanji. Esok, hal ini tidak berlaku untuk kita.
Aku mulai memeluk Acasha dari belakang dan mengepakkan sayap putih yang kini membentang. Kaki-kaki kami mulai terangkat kemudian mengambang dari permukaan tanah. Sedikit demi sedikit, aku membawa Acasha terbang semakin tinggi.
Hingga akhirnya kami telah berada di atas danau tepat di bawah sinar sang rembulan.
Aku membuka kain yang menutupi sepasang mata indah Acasha. Seperti tadi, Acasha masih terlihat tidak percaya kalau kini tubuhnya terbang melayang.
"Tuan, aku bahagia bisa terbang bersamamu. Aku berharap, kau membawaku terbang lebih tinggi lagi," pintanya.
"Yakin?"
"Iya. Aku ingin menembus awan. Aku ingin memegang gumpalan awan yang seperti kapas," katanya yang terdengar antusias.
"Tetapi malam ini sedikit mendung. Lihatlah, cahaya rembulan pun kini memudar terhalang oleh gelapnya awan hitam dari atas sana."
__ADS_1
Hening.
Sepertinya Acasha kecewa dengan penolakanku malam ini. Dia diam ketika aku mengajaknya terbang di atas danau, menyaksikan gelombang air yang begitu kecil hanya karena tiupan angin.
"Baiklah, kita menembus awan. Bersiaplah," kataku sambil mencium pucuk kepalanya.
Acasha meraba leherku kemudian mengecupnya hangat dengan mata terpejam. Bukan hanya sekali, kecupan kecil itu terjadi bertubi-tubi.
"Sayang, hentikan. Nanti kita jatuh," pintaku dengan debar yang semakin menggebu.
"Biar saja. Asal jatuh bersamamu, aku rela," katanya.
Beginilah kalau sudah jatuh cinta. Jatuh bersama pun rela. Ucapan-ucapannya seolah menjadi mantera untuk kami saling merindu. Belaiannya kini bak candu yang akan selalu dinantikan dan bisikan cintanya akan menelusup ke dalam hati terdalam. Kalau sudah seperti ini, pasti orang tersebut terlihat tol*l.
Semakin tinggi aku membawa Acasha terbang. Semakin dingin pula karena angin semakin kencang. Tubuh Acasha terasa semakin dingin dan aku memeluknya semakin erat.
Namun, aku akan membawa Acasha ke mana nanti?
Aku teringat satu tempat, di mana aku diajak terbang oleh Hazzel. Kenapa aku tidak membawanya ke sana?
Aku membawa Acasha menembus gumpalan awan. Aku melihat Acasha meraih gumpalan awan kecil di tangannya.
"Lembut," katanya bersuara pelan. "seperti permen kapas," sambungnya lagi.
Hingga akhirnya kami berada di tempat Hazzel. Ruangan kecil tetapi cukup nyaman.
Kaki kami kini menapaki lantai berwarna putih dengan diselimuti gumpalan awan. Acasha berjalan, bahkan tubuhnya seolah menari ketika menginjakkan kaki pada gumpalan awan.
"Tuan, izinkan aku menikmati malam ini dengan mata terbuka," katanya tanpa melihatku.
"Baiklah. Biar aku yang menyingkir. Apabila kau lelah, panggil saja aku," kataku yang kemudian masuk ke ruangan."
...Many nights we prayed...
...With no proof, anyone could hear...
...In our hearts a hopeful song...
...We barely understood...
...Now, we are not afraid...
...Although we know there's much to fear...
...We were moving mountains...
...Long before we knew we could, whoa, yes...
...There can be miracles...
...When you believe...
...Though hope is frail, it's hard to kill...
...Who knows what miracles you can achieve?...
...When you believe, somehow you will...
__ADS_1
...You will when you believe...
...Oh-oh-oh...
...Mmm, yeah...
...In this time of fear...
...When prayer so often proves in vain...
...Hope seems like the summer bird...
...Too swiftly flown away...
...Yet now I'm standing here...
...My hearts so full, I can't explain...
...Seeking faith and speakin' words...
...I never thought I'd say....
Terdengar Acasha bersenandung cinta. Lagu yang indah dengan suara yang lembut. Aku suka dia menyanyikan lagu cinta dan kepercayaan terhadap pasangan.
Cukup lama Acasha bernyanyi dengan kaki yang berjinjit bak seorang yang sedang menari balet. Dia seperti seorang balerina yang profesional dengan kaki yang menari lincah menjadikanku semakin tergoda.
Acasha gadis periang, terlebih seperti saat ini. Saat dia bernyanyi dan menari di atas gumpalan lantai yang tertutup oleh awan.
Hingga akhirnya semua terhenti ketika kilatan petir yang terlihat menyambar ke bumi.
"Aaa!!!" pekik Acasha terdengar kaget. Ketika cahaya yang seperti laser telah menyambar tepat di hadapannya.
Acasha terlihat berlari kemudian masuk. Dengan segera, dia menutup matanya kemudian berjalan bak orang buta.
"Tuan, kau di mana? Aku takut," ucap Acasha dengan suara bergetar.
"Aku ada di samping kananmu, Sayang. Mendekatlah."
Acasha berjalan dengan beberapa langkah saja, dia telah meraih tubuhku.
"Tuan." Acasha memelukku erat dengan tangan bergetar.
"Kau takut?"
Acasha mengangguk dalam dekapanku.
Aku memeluknya sama erat. Aku tidak ingin terpisah jarak. Akan tetapi, aku harus siap esok hari untuk berpisah dengannya demi kebersamaan kami yang tidak akan ada batas dan jeda. Kita bersatu dan tidak akan ada yang bisa memisahkan. Tunggu waktu itu datang, Sayang.
...There can be miracles...
...When you believe...
...Though hope is frail, it's hard to kill...
...Who knows what miracles you can achieve?...
...When you believe, somehow you will...
__ADS_1
...You will when you believe...
Aku bersenandung menirukan lagu yang dia nyanyikan tadi. Acasha pun tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.