
Dalam balik jendela, aku masih terngiang akan cerita dari Damien yang tidak tuntas. Rahasia apa yang sedang dia sembunyikan?
Aku masih belum mengerti hal yang dibicarakan oleh Damien. Untung saja, Ibu sekarang tidak memaksakan aku untuk memanah Acasha. Hanya saja, Ibu seolah tidak mengenaliku walau kami berada dalam satu kerajaan. Kami seolah orang asing yang tidak saling menyapa walau berpapasan.
Keadaan ini menyakitkan, tetapi jauh lebih baik daripada Ibu memaksaku untuk menjalankan perintahnya.
Menjelang malam, aku putuskan untuk ke bumi menemani Acasha sebagaimana janji yang kutulis dalam selembar kertas.
Berjalan melewati koridor kerjaan atas langit kemudian bersiap mengubah diri menjadi seekor burung. Akan tetapi, ada tangan yang seolah menghentikan aksiku saat ini. Aku pun menoleh dan ternya Damien.
"Mau ke mana, kau?" katanya dengan sorot mata tajam dan tangan yang bertengger di pundak kananku.
"Untuk apa aku menjawab? Kau saja tidak menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan mana? Jangan coba mengalihkan pembicaraan. Cepat jawab, aku tidak suka mempunyai adik yang bertele-tele," katanya ketus.
"Aku? Bertele-tele? Kau yang berputar-putar bak gasing yang membuatku pusing. Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku tadi? Pertanyaan tentang Ayah. Apa yang sebenarnya terjadi tentang Ayah kita? Sehingga kau menyembunyikan dariku. Bahkan, wajah Ayah pun, aku tidak tau. Apa kau ingat wajah Ayah?"
Sesungguhnya aku merindu. Rindu akan sosok Ayah yang selalu dikagumi oleh Ibu. Ayah yang baik, penyayang dan tulus mencintai Ibu.
"Sedikit lupa. Karena Ayah pergi ketika usiaku masih empat tahun, sedangkan kau baru dua tahun saat itu."
"Bagaimana wajahnya? Apa kau dapat menggambarkannya, Damien?"
Damien tersenyum.
"Untuk apa kugambarkan? Wajahnya mirip dengan kau, Eros. Kau lah titisan Ayah. Mulai dari sorot tajammu bak elang, hidung, bibir dan tubuhmu sungguh mirip dengannya dan aku tidak ingin kau pergi ke lautan dalam, Eros!" ucap tegas Damien dengan sorot mata yang seolah tidak ingin mendengarkan pembangkangan.
Aku tersenyum melihat tingkahnya yang menurutku sangat membingungkan. Dia tidak pernah terbuka dengan alasannya untuk melarangku pergi ke laut dalam.
"Apakah kau mencintai Acasha? Sehingga kau tidak ingin melihatku bersatu dengannya?" Aku menyeringai, mencoba menebak isi otak sekaligus hati Damien.
"A-aku, aku --" ucap Damien terhenti. Seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Tanpa ada kata, aku merubah diri ini menjadi burung elang hitam kemudian menembus gumpalan awan yang kini mulai menghitam.
__ADS_1
"Eros! Kembali!" Terdengar sayup-sayup suara Damien memanggilku ketika aku cukup jauh meninggalkan kerajaan atas langit.
Aku terbang dengan hati yang berkecamuk. Tentang Ayah, Ibu, Damien dan perasaannya terhadap Acasha. Apa iya, Damien menyukai Acasha? Apakah aku harus berebut wanita dengan kakakku sendiri? Lucu!
Rintik hujan mulai turun dan cukup membuat sayapku sedikit basah. Untung saja aku kini telah sampai di balkon kamar Acasha.
Entah apa yang telah terjadi dengan Acasha saat aku pergi. Bisa saja rencana perjodohan sang raja telah terlaksana dan sebentar lagi, Acasha akan menikah dengan jodoh pilihan ayahnya. Ah, sungguh. Hari ini begitu memuakan bagiku.
Aku melihat Acasha yang sedang duduk di depan meja kaca rias. Dia terlihat membuka jepitan kecil yang tersemat di rambut panjangnya.
"Acasha," panggilku dengan nada pelan.
Tangan Acasha sempat terhenti dari aktivitasnya. Dia terlihat terpaku dan diam. Hingga beberapa detik berlalu, dia melepaskan seutas kain yang melingkar di pinggangnya kemudian menutup sepasang mata indahnya.
"Tuan Eros? Kau, kah, itu?" ujar Acasha sambil memutar tubuhnya.
Acasha terlihat berdiri, kemudian berjalan dengan tangan yang seolah mencari keberadaanku.
Aku meraih tangannya kemudian menenggelamkan dalam dekapan hangat. Namun tidak dengan sayapku yang sedikit basah.
"Hanya gerimis, Sayang. Aku rindu," ucapku sambil mencium pucuk kepalanya.
Hanya satu hari aku jauh dari Acasha, rindu ini semakin berat. Bagaimana kalau aku pergi meninggalkannya demi apel itu? Sanggupkah aku menahan rindu?
"Aku lebih merindukanmu, Tuan. Aku ingin--" ucap Acasha terhenti dengan pelukan yang mulai melonggar.
"Ingin apa?"
"Sudahlah. Mungkin saja kau tidak akan pernah bisa mengabulkannya. Tapi aku sudah senang dan bahagia telah melihatmu walau beberapa detik saja. Wajahmu teringat dalam pikiranku, dan tersimpan dalam hati." Acasha kembali memelukku erat dan aku pun menyambut hangat tubuh wangi Acasha.
Kami mengobrol cukup lama hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan perjodohannya dengan raja dari kota sebelah.
"Sayang," panggilku pada Acasha ketika kamu duduk di kursi panjang yang ada di balkon kamarnya. Memandang langit hitam dan kilatan petir kecil serta sesekali suara guntur yang terdengar menemani malam ini.
"Iya."
__ADS_1
"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu padamu?"
"Katakanlah. Aku akan menjawabnya sebisaku."
"Bagaimana perjodohan dengan lelaki yang dijodohkan oleh ayahmu?" Aku bertanya dengan sedikit ragu.
"Kenapa kau menanyakan hal itu,Tuan?"
"Sesungguhnya, aku--" Tiba-tiba saja lidahku kelu. Dasar t0l*l! Cemen sekali dengan perasaan yang kupunya.
Bibir Acasha tersenyum manis ketika melihat ke arahku. Dia merah tanganku kemudian menempelkan pada bibir tipisnya yang hangat.
Cup!
Berulangkali Acasha mengecup-ngecup tanganku.
"Aku mengerti dan aku paham pertanyaanmu, Tuan. Kau tidak ingin melihatku menikah dengan laki-laki lain, kan?" ujar Acasha.
Aku tidak menjawab. Memilih diam dalam keheningan malam ini.
"Tuan. Satu-satunya lelaki yang mampu melumpuhkan hatiku hanya kau. Tidak ada lelaki lain yang bisa membuat hatiku merasakan hal seperti saat ini. Saat kau mendekapku hangat. Pelukanmu bagai candu dan ciumanmu bagaikan madu. Begitu manis dan tidak akan pernah kulupa."
"Kau mau?" godaku pada Acasha.
"Apa?"
Tanpa menjawab, aku meraih tubuh Acasha kemudian memiringkan wajahku agar bisa mencium bibir ranumnya. Kami berciuman ketika hujan lebat yang disertai kilatan petir dan bunyi kecil guntur. Angin yang cukup kencang tidak menyiratkan hasrat rinduku malam ini. Aku benar-benar menikmati ciumanku dengan Acasha.
Tangan memeluk erat dan bibir semakin dalam menelusup bibir ranumnya. Sial, aku terlalu jauh berlaku seperti ini pada Acasha. Hingga tidak terasa, baju Acasha sedikit terbuka. Bagian dadanya hampir saja terlihat. Aku segera melepaskan bibirku kemudian segera membenahi bagi Acasha. Aku memang seb3jat itu. Tetapi tidak ingin melakukan hal ini dengan Acasha. Aku ingin menikahinya dahulu, baru aku akan menjamah tubuh indah itu dengannya.
Tubuh Acasha terasa bergetar. Entah, dia kedinginan atau bahkan menahan hasrat yang dia miliki terhadapku.
Aku menggendong tubuh Acasha setelah pakaiannya kembali rapi dan membawanya ke atas tempat tidur.
Aku membaringkan tubuh Acasha. Namun, Acasha menarik tengkukku sehingga bibir kami kembali bersentuhan.
__ADS_1
Entah perasaan apa yang ada dalam diriku ketika bibir kami saling beradu. Rasanya hangat dan mampu membangkitkan hasrat yang ada dalam diri. Tuhan, tolong aku! Aku terjebak dalam nikmatnya menc*mbu bibir Acasha.