
Degup yang kurasa masih sama. Hingga raga sampai di istana atas langit, pikiranku masih sama. Mengingat wajah cantik yang selalu mengusik, siapa lagi kalau bukan pemilik pipi yang ranum kala dia tersenyum malu. Oh, Acasha ... kapan semua ini akan hilang? Setiap hari, perasaan ini makin menggila.
"Cleon?"
Aku terperanjat ketika mendengar suara ibu memanggil.
"Iya."
"Bagaimana tugasmu?"
Arghhh! Kenapa Ibu seolah mendesakku? Apa iya, dia benar-benar cemburu dengan fisik Acasha yang menurutnya menyaingi kecantikan yang dia miliki.
"Kenapa bungkam?" tanyanya ketika aku memilih untuk diam.
"Aku tidak bisa."
"Tidak bisa bagaimana?" Wanita yang bergelar Dewi Tercantik, sekaligus bergelar ibu untukku kembali bertanya dengan ekspresi wajah heran. Matanya terlihat menyipit, seolah mengamati sekaligus menunggu jawaban yang mungkin menurutnya masih belum jelas alias abu-abu.
"Aku menyerah. Aku tidak dapat melakukan tugasku."
"Apa?" Ibu seolah marah dengan jawabanku.
"Mau bagaimana lagi, Bu? Aku sudah mencoba untuk menjauh darinya, tapi tidak bisa. Aku masih mencintainya. Bahkan, seiring bergulirnya waktu, rasa cintaku padanya semakin kuat."
"Apa kamu sadar apa hukuman untuk pembangkang, Cleon?" sinisnya ketika bertanya. Ibu berjalan mendekati jendela dengan ukiran emas. Jemari lentiknya mengusap lembut bagian kaca jendela.
"Ya. Aku paham dan aku tidak mungkin lupa."
"Lalu, kenapa kamu bertindak seperti itu? Percayalah, Cleon. Hal itu akan hilang seiring bergulirnya waktu," ujar ibu meyakinkan.
Bibirku tersungging sinis. Ibu saja yang tidak tahu rasaku. Andai aku tidak menghargai dia sebagai ibu yang melahirkanku. Mungkin saja aku telah menancapkan anak panah ini padanya agar dia mengetahui tentang apa yang kurasakan.
Aku melangkah menuju pintu kamar. Baru saja satu langkah, kakiku terhenti karena ibu memanggil.
"Cleon! Mau ke mana kamu?"
Aku tidak menjawab, memilih melangkah untuk menghindari omelan ibu.
"Berhenti, Cleon!" Suara menggelegar cukup memekakan telinga.
"Cleoonnn!!!" Suara ibu berhasil menggetarkan kaca-kaca dalam istana. Suaranya begitu menggelegar ketika memanggil namaku. Sehingga, kaki ini pun mematung.
"Kau dengar, mulai detik ini. Ibu mengutuk kalian agar tidak dapat bersama!!!"
Suara petir menyambar terdengar sangat jelas di telinga, bahkan isi dalam istana pun sempat bergoncang ketika ibu mengucapkan sumpah serapahnya untukku dan juga Acasha. Hal ini menandakan kalau kutukannya telah didengar oleh langit.
__ADS_1
Kalau sudah seperti ini, aku bisa apa?
Antara percaya dan tidak dengan kutukan dari ibu. Bukankah semua ini tergantung kita yang mengatur mau seperti apa?
Akan tetapi, aku pun harus menyadari bahwa selama ini memang kutukan ibu benar-benar terjadi untuk siapa pun yang dia kehendaki.
Aku meneruskan langkah, menuruni anak tangga hendak menuju pada pintu gerbang keluar istana. Namun, ada tangan yang menarikku yang membuat sedikit heran. Siapa dia?
Wajahnya terlihat ditutup oleh sehelai kain berwarna putih. Jemarinya begitu kuat menarik tanganku.
"Siapa kau?"
"Jangan terlalu banyak bertanya, Tuan."
Spontan, aku mengingat kata-kata itu dari seseorang yang kucintai. Kata 'Tuan,' yang dia berikan sungguh melekat dalam sanubari. Apa dia Acasha? Tapi, bagaimana mungkin Acasha bisa sampai dalam istana ini?
Aku mengikuti langkah gadis itu menuju istana dalam. Hingga akhirnya kami sampai di depan pintu yang cukup sederhana. Dia menarik tanganku untuk masuk ke kamar yang tidak terlalu besar.
Tangannya mulai merasuk dalam dada, entah, apa maksudnya.
Aku menahan tangannya agar tidak masuk terlalu dalam. Terlihat binar kecewa dari sepasang matanya.
"Apa kamu tidak ingin menyentuhku, Tuan?" katanya dengan suara parau.
"Siapa kau?"
Arghh! Siapa juga yang menyebarkan semua ini?!
Dia bercerita ketika berkumpul dengan para pelayan kahyangan yang lain tentang diriku. Bagaimana memberikan kepuasan untuk mereka, memperlakukan mereka dengan lembut dan --ah! Semua terdengar begitu memalukan.
Apa ini yang dimaksud oleh Damien? Dia terlihat begitu kesal ketika aku bermanja dengan banyak wanita di dalam istana ini. Wajah kakak lelakiku begitu jijik dengan leher mengeras ketika aku selalu membangkang dengan semua ucapan yang diberikannya.
Aku melangkah, hendak keluar tetapi terjadi lagi. Gadis itu meraih tanganku. Dia tiba-tiba membuka sehelai kain yang menutupi separuh wajahnya.
Aku terperanjat ketika tiba-tiba saja bibir itu meluncur dengan penuh g4irah dan kini aku dapat melihat jelas wajah di balik kain yang dia sembunyikan.
Dia cukup cantik dengan bibir yang masih melekat, bahkan semakin dalam mencium bibirku. Aku terlena.
Akan tetapi sungguh sangat berbeda. Aku tidak merasakan sensasi kenikmatan seperti dulu. Pikiranku selalu terbayang pada Acasha, sekali pun wanita yang ada di hadapanku, kini hampir berpenampilan polos.
"Tuan, kau mau ke mana?" tanyanya dengan sedikit kata bergetar. "Apa aku tidak dapat membuatmu senang? Aku kurang apa, Tuan? Biar aku perbaiki," katanya dengan nada seolah ketakutan.
"Kenakan kembali bajumu."
"Apa?" katanya seolah syok.
__ADS_1
Aku membalikkan badan kemudian menatapnya tajam. Wajah wanita itu tertunduk lesu ketika melihat sepasang mataku. Tingkah agresifnya seketika menghilang. Menguap bersama udara hari ini dengan langit yang mulai menghitam.
"Apa kau tuli, hah?" sinisku yang mulai kesal pada kelakuannya.
"Ba-baik, Tuan." Wanita itu seolah ragu, dia meraih pakaiannya yang tergeletak di ranjang.
Aku melangkah hendak meninggalkannya karena malam pun semakin larut dan bulan purnama tampaknya sebentar lagi akan naik di permukaan langit.
"Tuan," lirih wanita itu.
Aku menoleh tetapi kakiku tetap mematung di depan pintu kamar.
"Aku minta maaf," kata si wanita setelah penampilan lengkap.
"Lupakan saja."
"Tuan tidak marah, 'kan?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng kemudian berjalan cepat meninggalkannya. Agar tidak terjadi lagi.
Aku mengepakkan sayap dewaku yang melebar dan terlihat gagah. Sayap putih yang dapat memeluk seseorang di dalamnya dengan penuh kehangatan.
Aku menembus langit dan awan hitam malam ini. Kusingkirkan awan yang menuju kerajaan Acasha agar wanitaku dapat menyaksikan bulan purnama bersamaku.
"Cleon!" pekikan yang kukenal ketika aku melewati kandang Hazzel.
Arghhh! Mau apa lagi dia?
Sepertinya aku memilih berpura-pura tidak mendengar saja.
Aku masih mengepakkan sayap menuju kamar Acasha. Tetapi, aku terperanjat ketika Hazzel yang sudah ada di sampingku. Dia terbang.
Mataku membulat dan aku mengepakkan sayap untuk meluncur di istana kerajaan bagian belakang. Karena hanya di sanalah posisi teraman. Di sana hampir tidak ada penjaga, membuatku merasa nyaman.
"Ada apa?" tanyaku ketika sepasang kaki menapaki tanah.
"Aku hanya ingin memastikan kau tidak melukai hati Putri Acasha."
"Apa untungnya bagiku menyakiti dia?"
"Entah. Hanya hatimu yang tau. Tetapi, sedikit saja kau membuat air mata Acasha luruh. Diri ini tidak akan pernah melepaskanmu!"
Cukup lama kami berdebat dan akhirnya Hazzel membiarkanku pergi untuk menemui Acasha. Buang-buang waktu saja.
Kukepakkan kembali sayap ini untuk sampai di kamar Acasha. Baru saja aku hendak mengubah diri ini menjadi seekor kupu-kupu. Di sana terlihat gadis dengan mata yang tertutup dengan sehelai kain dan mengenakan gaun berwarna putih membuatnya terlihat semakin memesona.
__ADS_1